Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Manggatang Utus dan Swalayan KPD, Dari 'Tukang' Menjadi Arsitek Masa Depan

Admin • Sabtu, 30 Mei 2026 | 12:17 WIB
Plt. Kepala Bidang Pemberdayaan dan Pengembangan Koperasi Rismawati mewakili Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kalteng dan Ambu Naptamis, dalam acara pembukaan KPD Cabang R.T.A. Milono Km. 6,5 Palangka Raya pada Selasa (26/5/2026). (Foto/Dok.: KPD Kalteng)
Plt. Kepala Bidang Pemberdayaan dan Pengembangan Koperasi Rismawati mewakili Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kalteng dan Ambu Naptamis, dalam acara pembukaan KPD Cabang R.T.A. Milono Km. 6,5 Palangka Raya pada Selasa (26/5/2026). (Foto/Dok.: KPD Kalteng)

Oleh Renhart Jemi* | Editor Andriani SJ Kusni

Pembukaan Toko Swalayan Baru KPD Cabang RTA Milono Km. 6,5 di Palangka Raya pada 26 Mei 2026 bukan sekadar seremoni bisnis atau penambahan unit usaha baru.

Dibalik dekorasi grand opening dan deretan tamu undangan, tersimpan pesan yang jauh lebih besar: tentang semangat membangun martabat masyarakat melalui gerakan “Manggatang Utus” artinya  Mengangkat Harkat Sesama.

Di tengah derasnya arus modernisasi dan dominasi jaringan usaha besar dari luar daerah, kehadiran swalayan lokal seperti KPD (Koperasi Persekutuan Dayak) memiliki makna strategis.

Ia menjadi simbol bahwa masyarakat daerah tidak boleh selamanya hanya menjadi konsumen, penonton, atau tenaga kerja biasa di tanah sendiri. Sudah saatnya masyarakat lokal menjadi pemilik, pengelola, sekaligus penentu arah pembangunan ekonomi daerahnya.

Filosofi Manggatang Utus menjadi sangat relevan dalam konteks ini. Pemberdayaan sejati bukan hanya memberi bantuan sesaat, melainkan menciptakan ruang agar masyarakat mampu berdiri di atas kaki sendiri.

Swalayan KPD bukan hanya tempat jual-beli barang kebutuhan harian, tetapi juga ruang tumbuhnya kesempatan kerja, pembelajaran manajemen usaha, penguatan jaringan ekonomi lokal, hingga tempat lahirnya rasa percaya diri kolektif masyarakat. 

Lebih penting lagi, kehadiran swalayan ini menyampaikan kritik halus terhadap mentalitas yang selama ini sering menghambat kemajuan daerah: mentalitas “cukup”.

Ketika ada ungkapan bahwa kita “tidak kelebihan mimpi, tetapi mungkin kurang kaya mimpi”, sesungguhnya itu adalah ajakan untuk memperluas cakrawala berpikir. Banyak orang bekerja keras setiap hari, tetapi tanpa visi besar tentang masa depan. Akibatnya, pekerjaan hanya menjadi rutinitas, bukan jalan perubahan.

Di sinilah muncul kalimat yang cukup menggugah dari Kusni Sulang: “Tukang adalah kuli tanpa mimpi besar.” Kalimat ini tentu bukan merendahkan profesi tukang atau pekerja, melainkan kritik terhadap cara berpikir yang hanya bergerak ketika diperintah dan berhenti ketika pekerjaan selesai.

Mentalitas seperti ini membuat seseorang hanya menjadi pelaksana teknis tanpa pernah memiliki rasa kepemilikan terhadap masa depan yang sedang dibangun. 

Sebaliknya, masyarakat yang memiliki mimpi besar akan bergerak melampaui tugas-tugas rutin. Mereka tidak hanya menjadi kasir, penjaga toko, atau penyusun barang di rak, tetapi juga belajar menjadi pengelola, perencana, inovator, bahkan pemimpin usaha.

Mereka mulai berpikir bagaimana swalayan ini berkembang, bagaimana produk lokal bisa masuk pasar modern, dan bagaimana ekonomi daerah dapat tumbuh dari kekuatan sendiri. Karena itu, kaderisasi menjadi fondasi utama kesinambungan gerakan ini. 

Sebuah mimpi besar tidak akan bertahan lama jika hanya bergantung pada satu atau dua tokoh. Banyak organisasi runtuh bukan karena kekurangan modal, melainkan karena gagal menyiapkan generasi penerus.

 Kaderisasi adalah investasi manusia, merupakan proses menanamkan nilai, keterampilan, dan keberanian kepada generasi muda agar estafet pembangunan terus berjalan.

Jika dikelola dengan konsisten, Swalayan KPD Cabang RTA Milono Km 6,5 dapat menjadi lebih dari sekadar pusat perbelanjaan. Ia bisa menjadi sekolah kepemimpinan ekonomi rakyat, laboratorium pemberdayaan masyarakat, sekaligus simbol kebangkitan ekonomi lokal Kalimantan Tengah.

Dari tempat sederhana inilah mungkin akan lahir pengusaha-pengusaha baru, pemimpin komunitas baru, dan generasi baru yang percaya bahwa mimpi besar anak daerah bukan sesuatu yang mustahil. Pada akhirnya, pembangunan daerah tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran atau megahnya infrastruktur, tetapi oleh keberanian masyarakatnya untuk bermimpi lebih besar.

Sebab sejarah selalu menunjukkan bahwa kemajuan lahir dari orang-orang yang tidak puas hanya menjadi “tukang”, tetapi berani menjadi arsitek masa depan bagi daerah dan masyarakatnya sendiri. (***)  

* Penulis, staf pengajar Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Universitas Palangka Raya. Email: jemi@for.upr.ac.id  

Editor : Heru Prayitno
#Koperasi Persekutuan Dayak #masyarakat adat #Sahewan Panarung