Oleh Andriani SJ Kusni
Pada 26 Mei 2026, Koperasi Persekutuan Dayak (KPD) meresmikan cabang toko serba adanya yang ke empat di Jalan R.T.A. Milono Km. 6,5 Palangka Raya. Peresmian ini dilaksanakan masih dalam rangkaian HUT KPD ke-22.
Peresmian ini dihadiri oleh Penasehat KPD Kalimantan Tengah (Kalteng) Drs T.T. Suling didampingi Sekretaris Pengurus Sony Arisandy, S.E., M.Si, Bendahara Pengurus Gregorius Doni Senun, S.Pd dan seluruh jajaran pengawas KPD Kalteng yakni Ari Gunawan, S.E., M.Si, Rona Melinda Ranan, S.E., AK.CA, Domingos Neves, S.Hut., M.Si dan PJU KPD Kalteng Ethos H. Lidin, S.E. Ibadah Pemberkatan gedung dipimpin oleh Pastor RD. Adry Yanto Saputra serta doa dan perayaan dipimpin oleh Pdt. Letus Tarung, S.Th., sementara Gupri dipercayakan oleh KPD untuk memimpin cabang baru toko serba ada ini.
Ambu Naptamis selaku Ketua KPD Kalteng dalam sambutannya pertama-tama menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas dukungan semua pihak terhadap KPD Kalteng sehingga dimampukan untuk membuka Cabang ke-4 Unit Swalayan KPD Kalteng, lebih-lebih atas kerjasama dan dukungan dari Koperasi CU Betang Asi sebagai saudara tua KPD Kalteng.
Selanjutnya Ambu mengatakan bahwa KPD Kalteng harus terus belajar, baik dari teori maupun praktek selama ini, tidak hanya dari pengalaman sendiri, juga dari pihak lain, baik pengalaman keberhasilan, bagaimana menghadapi tantangan juga dari kegagalan.
Koperasi adalah entitas yang memiliki pembeda dari entitas yang lain, maka secara organisasi harus setia dengan prinsip, asas maupun ideologi koperasi, dan sebagai entitas usaha/bisnis harus mengikuti pakem usaha. KPD Kalteng harus terus mengembangkan diri, sebagaimana cita-cita pendirian, bagaimana berdampak baik untuk komunitas khususnya komunitas Dayak.
Banyak aspirasi yang disampaikan di daerah-daerah untuk membuka cabang, hal itu terus dipikirkan, namun harus dengan prinsip kehati-hatian dan kajian yang cukup serta tidak tergesa-gesa. Artinya, aspek tata kelola yang baik, harus menjadi perhatian yang sungguh-sungguh.
Jika dengan serius dan sungguh-sungguh mengurus koperasi, koperasi ini dapat berkembang dan ketika KPD Kalteng ini berkembang tentu akan berdampak baik dan dapat meningkatkan kepercayaan diri masyarakat Dayak dalam berwirausaha.
Demikian dipaparkan Ambu. “Kami punya mimpi, ke depan tidak hanya empat cabang. Kami berharap ada cabang kelima hingga cabang-cabang lainnya, tidak hanya di Kota Palangka Raya, tetapi juga hadir di kabupaten-kabupaten di Kalteng,” ujar Ambu Naptamis selanjutnya.
Menjawab pertanyaan bagaimana menjaga keberlanjutan pelaksanaan mimpi ini, dengan kata lain soal kaderisasi, Ambu menegaskan bahwa masalah kaderisasi selalu menjadi pemikiran serius sejak dini. Kaderisasi disiapkan melalui manajemen maupun anggota.
Manajemen melalui karir penjenjangan melalui berbagai kegiatan pendidikan dan pelatihan, demikian juga anggota, direkrut untuk menjadi aktivis, kemudian diprogramkan pendidikan dan pelatihan tentang perkoperasian maupun pendidikan pelatihan yang berkenaan atau terkait dengan perkoperasian seperti kewirausahaan dan lingkungan.
Sementara itu, Plt. Kepala Bidang Pemberdayaan dan Pengembangan Koperasi, Dinas Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil Menengah dan Perindustrian Kota Palangka Raya Rismawati, S.E yang membacakan sambutan Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Kalimantan Tengah Dr. Rahmawati, S.T., M.Si. mengapresiasi peresmian swalayan KPD cabang ke-4 ini.
Kehadiran swalayan dinilai dapat membantu meningkatkan akses masyarakat terhadap kebutuhan pokok sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi daerah. “KPD dapat terus berkolaborasi dengan pelaku UMKM lokal yang produknya telah memenuhi standar sehingga mampu mendorong pertumbuhan usaha masyarakat di Kota Palangka Raya maupun Kalteng secara umum,” ujarnya.
Selain itu, adanya toko serba ada KPD ini pun telah menciptakan lapangan pekerjaan yang hari ini makin tidak gampang didapat. Empat toko serba ada KPD yang ada di Palangka Raya sekarang telah memberikan pekerjaan kepada 73 orang.
Menjawab pertanyaan tentang warna merah dan putih yang digunakan oleh KPD untuk toko-toko serba ada-nya, Ambu menjelaskan bahwa warna-warna itu dipilih tidak secara kebetulan atau asal-asalan, melainkan dipilih secara sadar.
Ambu menjelaskan, konsep warna merah dan putih yang digunakan pada swalayan KPD tidak hanya melambangkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), tetapi juga merepresentasikan identitas budaya masyarakat Dayak.
Dalam Masyarakat Dayak, lanjutnya, terdapat lima warna utama yang dikenal sebagai Lime Ba yaitu bahandang (merah), bahenda (kuning), bahijau (hijau), baputi (putih) dan babilem (hitam).
“Karena itu kami sejak lama menetapkan warna merah dan putih sebagai ciri khas KPD swalayan, yang merupakan bagian dari filosofi Lime Ba,” tegasnya.
Berdirinya CU Bétang Asi dan KPD di Kalteng, dari segi sejarah dan tujuan diketahui bahwa keduanya berkaitan erat dengan upaya pemberdayaan menyeluruh Masyarakat Dayak Kalteng, upaya pemartabatan dan pemanusiawian manusia Dayak, menolak keadaan témpun pétak batana saré, témpun uyah batawah bélai, témpun kajang bisa puat (punya tanah berladang di tepi, punya garam hambar di rasa, punya atap basah muatan).
Karena itu, peresmian unit ke-empat toko serba ada KPD Jalan R.T.A. Milono Palangka Raya pada 26 Mei 2026 lalu tidak lain dari peristiwa yang sekaligus memberi pesan kepada Masyarakat Dayak.
Pesannya adalah bahwa pemberdayaan niscaya berlanjut dan berlanjut tanpa henti dengan maksimal; pemberdayaan itu mencakup semua sektor kehidupan mulai dari bidang politik, sosial, budaya dn ekonomi dan seyogyanya berlangsung serentak. Ide dan semangat inilah yang tersirat dari kata-kata Ketua KPD Kalteng, Ambu Naptamis:
“Kami punya mimpi, ke depan tidak hanya empat cabang. Kami berharap ada cabang kelima hingga cabang-cabang lainnya, tidak hanya di Kota Palangka Raya, tetapi juga hadir di kabupaten-kabupaten di Kalteng”.
Untuk menjamin keberlanjutan upaya pemberdayaan menyeluruh ini, secara sadar diupayakan pembentukan barisan sumber daya manusia sadar berkualitas, yang dengan istilah lain disebut kaderisasi.
Kader yang mempunyai keberpihakan manusiawi dan memiliki keterampilan mumpuni. Perlunya kaderisasi demikian, selain untuk menjaga keberlanjutan tanpa penyimpangan orientasi, juga disebabkan karena pemberdayaan menyeluruh itu dilakukan dari, oleh dan untuk manusia.
Pendekatan kebudayaan akan membuat upaya pemberdayaan menyeluruh ini tidak lepas akar dan lepas sejarah, yang oleh Ambu diistilahkan dengan ”merepresentasikan identitas budaya masyarakat Dayak”.
Tentang orientasi, oleh Ambu Naptamis disebutkan ”secara organisasi harus setia dengan prinsip, asas maupun ideologi dari koperasi, dan sebagai entitas usaha/bisnis harus mengikuti pakem usaha”.
Ideologi koperasi yang dikemukakan oleh Ambu ini sebenarnya dalam budaya Dayak Kalteng bisa ditemukan dalam konsep ”anak manusia yang disebut sebagai réngan tingang nyanak jata” sebagaimana yang terdapat dalam sastra lisan Dayak.
Arti penting pemberdayaan ekonomi yang dilakukan oleh CU Bétang Asi dan KPD oleh Bung Karno dikatakan bahwa ”tanpa kemerdekaan ekonomi tidak akan ada kemerdekaan yang sesungguhnya”.
Pemerdekaan ekonomi adalah kemerdekaan dari lapar, kemiskinan, keterbelakangan, kebodohan, ketergantungan dan ketakutan akan hari esok.
Masalah stunting, kurang gizi, yang diributkan sekarang, tidak akan tuntas ditangani tanpa terwujudnya kemerdekaan eknomi.
Bahkan jika masalahnya diperlebar lebih jauh sedikit, soal kawin usia dini pun sesungguhya tidak terlepas dari masalah ada-tidaknya kemerdekaan ekonomi ini.
Adanya pengangguran, kesulitan mencari pekerjaan, adalah wujud telanjang kasat mata dari tidak adanya kemerdekaan ekonomi, bahkan kerusakan lingkungan Kalteng yang sudah sampai pada tingkat sangat mengkhawatirkan.
Banyak kerusakan dan kemerosotan terjadi karena tidak adanya kemerdekaan ekonomi, termasuk kerusakan kebudayaan yang mewujudkan diri dalam bentuk budaya kemiskinan dan kemiskinan budaya.
Sebagai Uluh Kalteng, saya mempertanyakan: Apakah Kalteng bebas dari budaya kemiskinan dan kemiskinan budaya? Pertanyaan ini saya ajukan untuk mempelajari arti kegiatan ekonomi CU dan KPD di Kalteng.
Barangkali setelah mendapatkan jawaban dari pertanyaan ini, didapatkan bayangan tentang apa-bagaimana yang seyogyanya dilakukan agar lepas dari lilitan piton kemelut. Setelah mendapatkan jawaban dari pertanyaan ini, boleh jadi dipahami apa makna pemberdayaan menyeluruh dan simultan.
Pesan lain dari peresmian toko swalayan ke-empat KPD Cabang R.T.A. Milono Km 6,5 Palangka Raya ini, saya membacanya sebagai tanggapan konkret Dayak Angkatan Ambu Naptamis dan kawan-kawannya terhadap hipotesa bahwa ”Orang Dayak tidak bisa berbisnis”.
Tentu saja jawaban terhadap hipotesa yang kurang menyemangati Dayak seperti di atas masih belum tuntas. Permasalahan sedang panjang berbaris berseru-seru menantang Dayak: Mana Dayak yang mamut-ménteng, pintar-harati, mameh-ureh itu? Masih adakah? Ayo keluar kalau masih ada. Atau yang tersisa lebih banyak Dayak yang bureng-kabutat-kapaleng?
Mereka masih ada, Bung. Mereka ada di KPD dengan lawung bahandang terikat di kepala, tapi kurang cukup untuk membuat Dayak menjadi Minoritas Kreatif yang punya daya menimba tasik memindahkan gunung.***
Editor : Heru Prayitno