Oleh Kusni Sulang
Hari Senin dan Selasa, 4-5 Mei 2026, Yayasan Good Forest Indonesia (GFI), sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang berkantor di Jalan Untung Suropati No. 36, Menteng, Kecamatan Jekan Raya, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, telah menyelenggarakan Workshop Penutupan Youth Program dan Evaluasi Program GFI Musim Tanam 2025/2026.
Isi utama Youth Program GFI ini adalah sekolah nonformal untuk anak-anak para petani yang turut dalam program penghijauan Kalimantan Tengah (Kalteng). Sekolah nonformal untuk anak-anak usia 8-15 tahun ini lebih dikenal dalam masyarakat dengan nama Sakula Budaya—salah satu bentuk pemberdayaan masyarakat dengan pendekatan kebudayaan.
Gagasan Sakula Budaya ini pertama kali dicetuskan dalam rapat besar seluruh warga (yang dalam bahasa Dayak Ngaju dinamakan pumpung haī) di Desa Tumbang Mantuhe, Kecamatan Manuhing Raya, Kabupaten Gunung Mas pada tahun 2017. Ide ini baru pertama kali terlaksana pada tahun 2022 berkat jasa Megan KING dari Fairventures World Wide (FvW) yang patut dicatat, kemudian dilanjutkan oleh Fadhillah Hanum, Direktur GFI, sebagai sponsor finansial.
Gagasan Sakula Budaya ini muncul bukanlah suatu kebetulan, tapi dicetuskan dengan sadar setelah melihat kerusakan lingkungan Kalteng yang luar biasa—dari 11 sungai besar di Kalteng, tidak ada satu pun yang tidak tercemar; hutan dan sungai berubah menjadi hamparan pasir putih hingga cakrawala); menyemai arti penting pertanian bagi kehidupan; melihat makin tergerusnya budaya lokal (baca: Dayak).
Budaya lokal, budaya diri sendiri dipandang tidak keren, tidak zamani; waktu senggang seusai sekolah formal tidak terisi di tengah bahaya narkoba di daerah perdesaan, narkoba diperjualbelikan seperti orang berjual-beli kembang gula; bahwa Kalteng merupakan sebuah provinsi yang bisa dikatakan sebagai Mini Indonesia dan memerlukan pemahaman tentang arti penting kebhinnekaan (baca: multikulturalisme—kekurangpahaman tentang arti kebhinnekaan ini di Kalteng telah meninggalkan tanda berupa meletusnya Tragedi Sampit Tahun 2000/2001), dan lahirnya budaya Kalteng Beridentitas Kalteng; perlunya pengetahuan dan pemahaman tentang sejarah lokal dan cerita-cerita rakyat setempat; pembentukan karakter anak.
Jika dilihat dari segi tahap demi tahap perkembangan maju, Sakula Budaya ini hanyalah salah satu langkah kecil dalam upaya mewujudkan desa adat mandiri sesuai budaya dan sejarah menggunakan metode jalan melingkar dan penyadaran. Selama hampir lima tahun itu, di daerah perdesaan Kalteng, persisnya di Kabupaten Gunung Mas dan Kabupaten Pulang Pisau, tujuh Sakula Budaya sudah didirikan yang kemudian dilanjutkan dengan pembentukan Sanggar Budaya ber-Akta Notaris. Sanggar Budaya inilah kemudian yang melanjutkan visi-misi Sakula Budaya.
Tidak kurang dari 500 anak dari tujuh desa terpencil Kalteng telah mengikuti pendidikan di Sakula Budaya dan bergabung dengan Sanggar Budaya desa. Tujuh desa tersebut, lima desa terdapat di Kabupaten Gunung Mas, yaitu: Sumur Mas, Tanjung Riu, Batu Nyapau, Kelurahan Téwah, Desa Linau (Kecamatan Rungan); dan dua desa di Kabupaten Pulang Pisau, yaitu Desa Sebangau Permai dan Desa Sebangau Mulya. Lima desa di Kabupaten Gunung Mas di mana Sakula Budaya didirikan, mayoritas penduduknya adalah Dayak, sedangkan yang di Kabupaten Pulang Pisau, mayoritas penduduknya adalah transmigran asal Jawa.
Tentu saja pendekatan yang diterapkan terhadap dua tipe desa ini tidak sama, tapi arahnya adalah menyemai gagasan Uluh Kalteng Beridentitas Kalteng sebagai bentuk konkret pelaksanaan ide Bhinneka Tunggal Ika di Kalteng. Artinya, semua warga negara Indonesia yang tinggal, bekerja dan hidup di Kalteng adalah Uluh Kalteng (Orang Kalteng) yang bertanggung-jawab atas maju-mundurnya, timbul-tenggelamnya Kalteng.
Kalteng bukanlah kebun halaman belakang rumah mereka di tempat lain. Karena itu, konsep yang disemai seyogyanya adalah ”di mana bumi dipijak, di situ bumi dibangun”, bukan lagi ”di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung” yang sudah kadaluwarsa sebab jika menerapkan gagasan ”di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”, pembauran tidak akan terwujud sebab bisa saja terjadi dua kaki berpijak di bumi Kalteng, satu tangan menjunjung langit, tapi tangan lain asyik nyolong (mencuri).
Apabila konsep ”di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” yang dikembangkan, bisa saja warga yang nonDayak itu menjadi turis abadi di Kalteng dan merasa dirinya ”perantau saklawase” (perantau abadi) di Kalteng. Akibat lebih jauh adalah Kalteng dipandang sebagai daerah yang diperebutkan untuk menjadi koloni baru dan Indonesia diberlakukan sistem kolonial internal. Jika dilihat dari segi hubungan antaretnik, maka yang akan berlangsung adalah upaya saling makan. Homo homini lupus akan mendominasi. Pandangan yang pernah saya dengar disampaikan dalam sebuah rapat resmi Kesbangpolinmas Provinsi Kalteng.
Sakula Budaya hadir di Kalteng dengan membawa dan berniat menyemai ide jelas seperti yang dituturkan di atas, menggunakan pendekatan kebudayaan, konkretnya melalui kesenian. Tari, nyanyi, sajak, cerita, sejarah dan apa pun itu yang dimasukkan ke dalam mata kurikulum dijelujuri oleh suatu konsep yang jelas bukan sekedar berdendang dan berjoget serta melakukan kerja-kerja administratif, teknis. Jika memandang bahwa penyelenggaraan Sakula Budaya sebatas pekerjaan administratif dan teknis, berdendang, berjoget, maka akan muncul anggapan bahwa ”menyelenggarakan Sakula Budaya itu sangat gampang”, gampang tentu saja jika memang Sakula tanpa konsep tapi tujuan hakikinya tak pernah tergenggam. Persoalan inti tak terselesaikan. Keberlanjutan ide tidak terkawal.
Tanggal 3 Mei 2026 siang, para wakil tujuh Sakula Budaya dari tujuh desa di atas sudah mulai berdatangan dengan wajah berseri-seri walaupun tanda-tanda kelelahan perjalanan jauh tidak bisa disembunyikan. Melihat wajah anak-anak yang penuh semangat ini, kembali saya melihat bahwa ketahanan mental, adanya kesadaran tentang untuk apa melakukan sesuatu, akan menambah daya juang seseorang. Seperti dikatakan oleh seorang pelatih sepak bola asal Argentina kepada anak asuhnya: ”Semua orang lelah. Soalnya bagaimana melawan lelah dan siapa yang paling kuat melawan lelah itu”.
Melihat anak-anak yang datang dengan penuh antusiasme, Ririen, panggilan akrab Fadhillah Hanum, Direktur GFI, yang kebetulan ketika itu bersama saya, berkata seperti berkata dirinya sendiri, ”Mereka begitu bersemangat dan menikmati Sakula Budaya. Bagaimana ya kelanjutannya? Bagaimana ya agar semangat ini tidak padam?” Seperti bicara pada diri sendiri juga, saya pun berkata lirih, ”Itulah yang kupikirkan juga dan sedang kucoba atasi. Barangkali kuncinya terletak pada bagaimana kita bisa menemukan yang kunamakan the hidden leader, organisator kebudayaan, tenaga pemikir dan organisator sekaligus. Sumber Daya Manusia (SDM) tipe ini yang saya kira perlu kita cari karena dialah motor, otak dan penggerak selanjutnya. Saya kira di tiap desa, SDM begini ada, dan ini yang perlu dicari. Mendapatkannya perlu kejelian pandang.”
”Sangat sayang dan sungguh menyedihkan jika antusiasme dan harapan anak-anak ini meredup,” lanjut Ririen. Saya teringat dan membayangkan wajah anak-anak yang pada mulanya ragu dan tidak percaya diri ketika diminta memimpin hadirin menyanyikan Indonesia Raya dan yang diminta untuk jadi pemandu acara. Saya pun teringat komentar Ririen ketika menyaksikan penampilan mereka, ”Luar biasa, tidak kalah dengan MC profesional.”
Anak-anak kelas satu SMP itu bertumbuh dan nampak punya kepercayaan diri tampil di depan publik. Saya kira, adanya keberanian ini merupakan salah satu kekuatan anak-anak Dayak di daerah perdesaan. Saya melihat harapan untuk maju itu ada asal diberikan syarat-syarat padan untuk mereka. Melalui Sakula Budaya ini, saya menemukan potensi-potensi di kalangan anak-anak yang jika dibimbing bukan tidak mungkin mencapai hasil yang tak pernah dibayangkan. Dari anak-anak ini, saya pun melihat peran puisi dalam kehidupan. Baik itu puisi berbahasa Indonesia, maupun bahasa Dayak.
Perkembangan anak-anak Sakula Budaya ini kembali meyakinkan saya bahwa serunyam-runyamnya Kalteng, serunyam-runyamnya Indonesia, daerah dan negeri ini masih tetap merupakan daerah dan negeri di mana kita bisa berharap. Pertanyaannya: Bagaimana membuat harapan itu menjelma jadi kenyataan, bukan berbalik menjadi sesuatu yang melukai? Karena jarak antara harapan dan duka barangkali hanya sebesar sehelai rambut saja.
Apa yang diungkapkan oleh Ririen di atas , saya baca sebagai himbauan tersirat anak-anak perdesaan yang turut-serta dalam Program Sakula Budaya selama ini. Himbauan tersirat dan pertanyaan: Apakah Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu mau mengulurkan tangan meneruskan Program Sakula Budaya di daerah perdesaan?
Sehubungan dengan himbauan lirih tersirat ini, barangkali relevan kalau saya mengangkat kembali sambutan Agustiar Sabran dalam acara pagelaran Sakula Budaya di Desa Batu Nyapau, Kabupaten Gunung Mas, sambil menanyakan tindak lanjut himbauan Ketua DAD Kalteng yang sekarang menjadi orang nomor satu Kalteng.
Menjawab himbauan lirih tersirat anak-anak perdesaan ini, Standy Christianto, Direktur Eksekutif Borneo Institute dalam forum di Hotel Aquarius 4-5 Mei 2026 dengan tegas mengatakan bahwa Sakula Budaya akan terus berlanjut dan dalam tahun 2026 ini Borneo Institute akan membangun paling sedikit 20 Sakula budaya baru di daerah perdesaan berbeda Kalteng.
O, masih ada pemimpi di daerah dan negeriku. Pernyataan gagah Bung Standy ini melayangkan ingatan pada kata-kata Pendeta Martin Luther KING, Jr.: ”I have a dream”. Pendeta Martin harus membayar mimpinya dengan nyawa seperti mengatakan bahwa untuk bermimpi dan melaksanakannya pun kita perlu keberanian. Karena itu, kita tidak kelebihan pemimpi! Republik dan Indonesia pun hakikatnya adalah sebuah mimpi agung yang belum sepenuhnya terwujud. Di Kalteng juga belum terwujud sepenuhnya, tersirat dalam himbauan lirih anak-anak perdesaan.***
Editor : Heru Prayitno