Oleh: Rado
Genderang kompetisi politik sudah mulai ditabuh. Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menetapkan pasangan calon dan nomor urutnya.
Begitu pula pasangan calon (paslon), sudah mulai menyusun strategi dan kekuatan untuk meraup simpati dan dukungan. Mulai dari akademisi, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama terus digaet.
Semua itu akan beradu di gelanggang politik untuk memperebutkan suara 309.973 pemilih.
Ada tiga pasangan calon. Petahana petahana Halikinnor-Irawati mendapat nomor urut 1. Pasangan ini berjargon Harati dengan istilah lanjutkan pembangunan.
Diusung PDI Perjuangan, PKB, Nasdem, dan Demokrat, Halikinnor-Irawati jadi koalisi paling gemuk di antara paslon lainnya.
Jika melihat dari koalisi, ibarat mesin, kapasitasnya besar dengan daya dan tenaga yang sebanding.
Tapi, konsekuensinya boros di bahan bakar. Namun, apakah Harati masih perlu mesin besar tersebut. Atau punya mesin cadangan yang lebih andal? Kita tunggu pergerakannya.
Halikinnor bersama Irawati dalam pencalonan keduanya harus bisa menyakinkan masyarakat untuk memilihnya kembali.
Setidaknya, jika ingin menang, harus di angka 45 persen dari total suara pemilih. Posisi aman dari pesaingnya.
Dengan kontestasi yang menyertakan tiga paslon, ada untungnya bagi petahana. Persentase kelompok yang tidak menyukai dan ingin mengusung perubahan akan dipecah ke dua paslon lainnya.
Ini lebih baik dibanding head to head. Banyak calon setidaknya makin diuntungkan. Paling tidak hanya menjaga pemilih militan Harati, dibarengi upaya menarik sedikit segmentasi kelompok perubahan masuk gerbongnya.
Jika paslon ini tidak mampu menjaga gerbong pemilih, bahkan tercerai berai di tengah jalan, bisa saja dibuat tumbang.
Paslon nomor urut dua, Sanidin-Siyono, dianggap juga sebagai pasangan yang ideal diusung Gerindra, PKS, dan Golkar.
Pasangan ini perpaduan antara politikus dan eks birokrat. Sanidin dengan latar belakangnya putra asli Terantang, sedangkan Siyono warga transmigran yang meniti kariernya dari seorang guru hingga jabatan terakhirnya Camat Parenggean.
Pasangan ini disebut-sebut akan menggerakkan semua sumber daya yang ada untuk mengeruk lumbung suara.
Tak hanya itu. Kabarnya, ada tim khusus yang akan bergerak melakukan identifikasi terhadap pelanggaran yang terjadi di semua tahapan dan tingkatan.
Melihat dari struktur tim pemenangannya, ibarat tentara, bisa dikatakan di belakang paslon ini adalah veteran.
Punya jam terbang tinggi dan pengalaman dalam pemenangan paslon pilkada sebelumnya.
Artinya, jika paslon ini dilengkapi amunisi yang kuat, strategi yang mumpuni, serta eksekusi akhir yang baik, bisa saja jadi pemenang di pilkada.
Ketiga, ada paslon Muhammasd Rudini-Paisal Darmasing yang hanya diusung PAN sendirian.
Pasangan ini cenderung santai, namun pergerakan arus bawahnya luar biasa. Katanya, pasangan ini adalah representasi kawula muda.
Memang, dari segi usia Rudini-Paisal sama-sama berdarah muda. Sangat wajar segmentasi pemilih yang disasar adalah kalangan pemilih milenial atau generasi Y hingga generasi Z yang mendominasi pemilih di Kotim.
Mengacu data KPU Kotim, ada sekitar 184 ribu atau sekitar 60 persen dari total DPT. Tentunya ini jadi kesempatan emas bagi paslon ini jika serius dan mampu menggarapnya secara totalitas.
Rudini merupakan politikus yang sudah jatuh bangun di kancah perpolitikan lokal. Dua kali gagal di pilkada, jadi modal penting.
Sementara itu, Paisal Darmasing salah satu pengusaha lokal yang juga memiliki jejaring usaha dan bisnis mengakar di wilayahnya.
***
Sebagai masyarakat, kita tentunya akan dihadapkan dengan tiga pilihan ini dengan karakter masing-masing.
Di satu sisi, kita sebagai pemilih juga bisa menyandingkan persoalan daerah yang saat ini sangat kompleks dengan visi misi pasangan calon.
Mulai dari masalah sosial, ekonomi, kesenjangan pengelolaan sumber daya alam yang menyebabkan konflik berkepanjangan, pendidikan, kesehatan hingga infrastruktur jalan dan jembatan.
Akankan ketiga paslon ini menawarkan obat dari semua penyakit yang sudah kronis ini? Atau justru menawarkan obat yang tidak sesuai dengan diagnosa penyakitnya.
Ini juga salah urus namanya. Itu semua tergantung masyarakat yang menilai.
Mari kita memilih pemimpin yang mampu membawa ke mana arah tujuan rumah besar kita ini ke depan.
Ini tergantung masyarakat sebagai pemegang otoritas tertinggi hak suara. Kita memilih maju dan jalan dengan melesat atau hanya jalan di tempat. Bahkan, tamat riwayat.
Tentunya tanggal 27 November nanti merupakan hari pamungkas untuk menentukan arah itu semua.
Selamat berkompetisi para paslon. Siapa paling sakti, perlu diingat, masyarakat perlu pemimpin supaya Kotim selanjutnya tidak salah urus. *) Wartawan Radar Sampit
Editor : Slamet Harmoko