Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kedaulatan Pangan Dayak Menantang Krisis Global

A
Penulis: Admin❯

 


Advertisement

Pengawetan ikan menggunakan teknik fermentasi ikan ala Dayak dikenal dengan istilah wadi. Ikan segar dibalur beras/beras ketan sangrai yang ditumbuk kasar dan dicampur garam lalu didiamkan dalam wadah tertutup selama beberapa hari sebelum diolah menjadi santapan (biasanya digoreng langsung atau dipepes). Bisa disimpan hingga sebulan dengan pengeringan yang baik. Ikan yang paling umum dijadikan wadi adalah patin. Foto dan dokumentasi: Andriani SJ Kusni, 2026
Pengawetan ikan menggunakan teknik fermentasi ikan ala Dayak dikenal dengan istilah wadi. Ikan segar dibalur beras/beras ketan sangrai yang ditumbuk kasar dan dicampur garam lalu didiamkan dalam wadah tertutup selama beberapa hari sebelum diolah menjadi santapan (biasanya digoreng langsung atau dipepes). Bisa disimpan hingga sebulan dengan pengeringan yang baik. Ikan yang paling umum dijadikan wadi adalah patin. Foto dan dokumentasi: Andriani SJ Kusni, 2026

 

Oleh Dr. Setia Budhi* | Editor Andriani SJ Kusni

Advertisement

 Di ruang-ruang sidang internasional dan pusat ekonomi dunia, narasi hari ini didominasi oleh kecemasan: krisis energi yang menghantui, fluktuasi harga pangan yang liar, hingga ancaman perubahan iklim yang kian nyata. Dunia seolah sedang tersandera oleh ketergantungan pada rantai pasok global yang rapuh. Namun, jika kita menilik jauh ke pedalaman Kalimantan, khususnya pada masyarakat Dayak di lahan basah, kita akan menemukan sebuah antitesis yang kuat. Di sana, kemandirian bukan sekadar jargon politik, melainkan napas hidup yang teruji zaman.

Masyarakat Dayak telah lama mempraktikkan sebuah model adaptasi yang luar biasa mandiri. Mereka membangun benteng ketahanan yang tidak difondasikan pada kekuatan modal, melainkan pada keharmonisan dengan ekosistem lokal. Inilah sebuah prototipe kehidupan masa depan yang justru berakar pada kearifan masa lalu.

Energi tanpa Sandera Fosil

Advertisement

Saat banyak negara limbung akibat ketergantungan pada energi fosil, masyarakat ini telah memutus rantai ketergantungan tersebut. Tanpa perlu antre tabung LPG atau pusing dengan kenaikan harga BBM yang kerap memicu inflasi, mereka berdaulat melalui alam.

Pada waktunya nanti, aliran sungai dan air terjun yang tak pernah berhenti dikonversi secara cerdik menjadi energi penggerak kincir air, mikrohidro dimanfaatkan sebagai sumber energi mekanis. Untuk kebutuhan panas domestik, mereka tidak membakar hutan, melainkan memunguti ranting-ranting pohon yang jatuh secara berkelanjutan. Ini adalah praktik ekonomi sirkular yang sejati mengambil apa yang disediakan alam tanpa merusaknya.

Kedaulatan Pangan: Melampaui Dominasi Beras

Sektor pangan menjadi pilar paling krusial dalam resiliensi ini. Di saat dunia mencemaskan stok gandum dan beras, masyarakat Dayak justru merayakan keberagaman jenis beras. Mereka tidak membiarkan nasib perutnya digantungkan pada satu jenis biji-bijian saja. Selain beras, sumber karbohidrat mereka melimpah dan tangguh terhadap kondisi tanah asam maupun genangan air. Ubi, singkong, dan sagu menjadi cadangan energi yang selalu tersedia di alam. Umbut rotan, kelapa dan sagu misalnya, adalah “Bank Pangan” alami yang tak akan basi sebelum dipanen, memberikan rasa aman di tengah ketidakpastian musim.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar SampitIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Tokoh Hindu Kaharingan, Basir Upu Ugoi A Bunu Tutup Usia

Tokoh Hindu Kaharingan, Basir Upu Ugoi A Bunu Tutup Usia

Masyarakat Dayak penganut Agama Hindu Kaharingan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kehilangan salah satu tokoh, Basir Upu Ugoi A Bunu

Tradisi Berladang Dikhawatirkan Terancam Hilang oleh Inpres Nomor 11/2026 Soal Larangan Bakar Lahan

Tradisi Berladang Dikhawatirkan Terancam Hilang oleh Inpres Nomor 11/2026 Soal Larangan Bakar Lahan

Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 11 Tahun 2026 terkait penguatan penegakan larangan pembukaan lahan dengan cara membakar, hilangkan tradisi

Desa Adat dan Redayakisasi

Desa Adat dan Redayakisasi

banyak dibicarakan adalah masalah Lima Skema Perhutanan Sosial seperti hutan desa, hutan adat. Tetapi, soal desa adat jarang dibahas

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement

Populer