Radarsampit.jawapos.com - Pemerintah terus mempercepat pengembangan logam tanah jarang atau rare earth elements (REE) sebagai bagian dari strategi hilirisasi mineral nasional.
Salah satu wilayah yang masuk dalam fokus pengembangan adalah Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, yang dinilai memiliki potensi cadangan mineral strategis untuk mendukung industri teknologi dan energi masa depan.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan, saat ini terdapat delapan proyek logam tanah jarang yang telah teridentifikasi di Indonesia.
Meski masih berada pada tahap awal eksplorasi, pemerintah menilai langkah tersebut penting untuk membangun rantai pasok industri bernilai tambah tinggi di dalam negeri.
Selain Ketapang, sejumlah wilayah lain yang menjadi fokus pengembangan antara lain Bangka Belitung, Sibolga di Sumatera Utara, dan kawasan Pegunungan Tiga Puluh di Sumatera.
Berdasarkan data pemerintah, beberapa lokasi tersebut menyimpan cadangan mineral yang diperkirakan mencapai ratusan ribu ton.
Logam tanah jarang menjadi komoditas yang semakin diburu dunia karena berperan penting dalam berbagai teknologi modern.
Mineral ini digunakan sebagai bahan baku kendaraan listrik, baterai, turbin angin, telepon pintar, komputer, layar elektronik, hingga peralatan pertahanan.
Permintaan global terhadap REE terus meningkat seiring percepatan transisi menuju energi bersih dan teknologi rendah emisi.
Data U.S. Geological Survey (USGS) menunjukkan produksi logam tanah jarang dunia mencapai sekitar 280 ribu ton pada 2021 atau meningkat sekitar 16 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Meski memiliki potensi besar, Indonesia masih menghadapi tantangan dalam mengembangkan industri tersebut. Saat ini China masih mendominasi industri logam tanah jarang dunia dengan cadangan sekitar 44 juta ton serta menguasai sebagian besar kapasitas pengolahan global.
Analis industri dari Bank Mandiri, Ahmad Zuhdi Dwi Kusuma, menilai pasar domestik REE akan terus berkembang seiring pertumbuhan industri energi terbarukan nasional. Namun Indonesia perlu membangun keunggulan tersendiri agar mampu bersaing dengan negara-negara yang telah lebih dahulu mengembangkan industri tersebut.
Pengembangan logam tanah jarang juga menjadi bagian dari kebijakan hilirisasi mineral yang selama beberapa tahun terakhir terus didorong pemerintah.
Setelah keberhasilan hilirisasi nikel, pemerintah kini mulai menyusun peta jalan pengembangan industri REE, termasuk inventarisasi cadangan nasional dan penguatan industri pengolahan.
Kementerian ESDM memperkirakan hilirisasi mineral dapat meningkatkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP), menciptakan lapangan kerja baru, menarik investasi, serta memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok industri teknologi global.
Namun hingga 2026, Indonesia masih belum memiliki fasilitas komersial untuk memisahkan dan memurnikan unsur tanah jarang. Kondisi tersebut membuat sebagian bahan baku berpotensi tetap diekspor ke luar negeri untuk diolah lebih lanjut.
Teknologi pemisahan REE memang tergolong kompleks dan membutuhkan investasi besar serta keahlian khusus yang selama ini dikuasai negara-negara tertentu.
Karena itu, pemerintah mulai menjajaki kerja sama internasional guna mempercepat transfer teknologi dan pembangunan fasilitas pengolahan dalam negeri.
Melalui BUMN sektor pertambangan, Indonesia juga mulai menjalin kerja sama dengan sejumlah negara seperti Gabon, Malaysia, dan Korea Selatan untuk mendukung pengembangan industri logam tanah jarang nasional.
Bagi Kalimantan Barat, masuknya Ketapang dalam peta pengembangan REE nasional membuka peluang ekonomi baru. Jika cadangan yang ditemukan terbukti layak secara ekonomi, daerah tersebut berpotensi menjadi bagian penting dalam ekosistem industri energi bersih Indonesia.
Meski demikian, pemerintah menegaskan pengembangan sektor ini harus tetap memperhatikan aspek lingkungan dan keberlanjutan.
Eksplorasi dan pengelolaan sumber daya mineral diharapkan mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.
Di tengah meningkatnya kebutuhan dunia terhadap teknologi ramah lingkungan, keberhasilan Indonesia mengelola logam tanah jarang diyakini dapat menjadi salah satu faktor penting yang menentukan posisi negara dalam persaingan industri global di masa mendatang. (*)
Editor : Slamet Harmoko