Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Viral Teror Pocong: Hanya Tren Viral atau Ancaman Terorganisir?

Slamet Harmoko • Senin, 1 Juni 2026 | 12:21 WIB
Warga Tapos, Depok, Jawa Barat, baru-baru ini digegerkan oleh isu "teror pocong" yang viral di media sosial. (Dok warga Depok)
Warga Tapos, Depok, Jawa Barat, baru-baru ini digegerkan oleh isu "teror pocong" yang viral di media sosial. (Dok warga Depok)

 
SURABAYA, radarsampit.jawapos.com – Fenomena teror pocong yang belakangan meresahkan masyarakat di sejumlah daerah dinilai lebih banyak dipicu tren media sosial dan aksi imitasi anak muda ketimbang ancaman kriminal yang terorganisir.

Sosiolog Universitas Airlangga, Bagong Suyanto, menilai sebagian besar kasus yang terungkap hanya berawal dari keinginan pelaku untuk mencari perhatian dan hiburan.

Isu teror pocong yang sempat memicu ketakutan masyarakat di berbagai daerah belakangan menjadi sorotan setelah aparat kepolisian mengungkap sejumlah kasus yang ternyata dilakukan oleh kelompok anak muda untuk membuat konten media sosial.

Menurut Prof. Bagong Suyanto, fenomena tersebut dapat dibedakan menjadi dua kategori, yakni sebagai modus tindak kriminal dan aksi iseng yang bertujuan mencari hiburan atau perhatian publik.

"Tetapi apa pun motifnya, sosok pocong memiliki akar kultural yang kuat di masyarakat Indonesia sehingga menjadi sesuatu yang menarik," ujarnya.

Ia menjelaskan, terdapat perubahan cara pandang generasi muda terhadap dunia mistis. Hal itu terlihat dari meningkatnya minat terhadap film-film horor dibandingkan genre remaja atau percintaan.

Bagong menilai keberanian menghadapi hal-hal yang dianggap menyeramkan kini menjadi bagian dari identitas sosial sebagian anak muda. Mereka yang berani sering kali dianggap memiliki nilai lebih dalam lingkungan pergaulan.

Karena itu, sebagian remaja terdorong membuat konten yang berkaitan dengan unsur mistis, termasuk menggunakan kostum pocong untuk menarik perhatian publik.

"Saya melihat ini bagian dari aktivitas mencari pengakuan. Simbol bahwa mereka lebih berani sebagai anak muda. Kalau yang dilakukan anak-anak ini lebih untuk main-main," katanya.

Menurutnya, fenomena teror pocong saat ini berbeda dengan kasus-kasus teror yang pernah terjadi pada dekade 1980-an atau 1990-an. Saat ini, media sosial memiliki peran besar dalam menyebarkan tren yang kemudian ditiru oleh kelompok lain di berbagai daerah.

"Ini lebih bersifat imitatif. Peran media sosial membuat anak-anak muda di daerah lain mendapatkan inspirasi untuk melakukan hal yang sama," ujarnya.

Bagong menilai banyak pelaku tidak memiliki tujuan untuk meneror secara serius. Mereka justru ingin menciptakan sensasi, menjadi bahan perbincangan, dan memperoleh perhatian di media sosial.

Menurutnya, keinginan untuk viral menjadi faktor utama yang mendorong munculnya aksi-aksi semacam itu.

"Media sosial sekarang menjadi cara anak muda membuktikan dirinya. Ketika masyarakat panik atau ketakutan, pelaku justru merasa kontennya berhasil," tuturnya.

Terkait pemilihan sosok pocong, Bagong menilai karakter tersebut paling mudah ditiru dibandingkan makhluk mistis lainnya. Cukup dengan membalut tubuh menggunakan kain putih, seseorang sudah dapat menyerupai pocong yang dikenal luas oleh masyarakat.

Selain mudah dibuat, sosok pocong juga memiliki nilai simbolik yang kuat karena sejak lama diperkenalkan sebagai figur menakutkan dalam budaya masyarakat Indonesia.

Meski demikian, ia memperkirakan tren teror pocong tidak akan berlangsung lama dan akan meredup seiring munculnya tren baru di media sosial.

"Menurut saya ini hanya tren sesaat. Dalam hitungan bulan kemungkinan akan hilang dan tidak lagi sepopuler sekarang," ujarnya.

Karena itu, Bagong mengimbau masyarakat untuk tetap bersikap rasional dan tidak mudah larut dalam ketakutan terhadap isu-isu yang belum tentu benar.

"Ini bukan seperti teror pada masa lalu yang sampai menimbulkan korban jiwa. Masyarakat perlu lebih dewasa menyikapinya dan tidak mudah panik," pungkasnya. (jpg)

Editor : Slamet Harmoko
#teror pocong #bagong suyanto #sosiolog #universitas airlangga