Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Rupiah Tembus Rp17.500 per Dolar AS, Gejolak Timur Tengah dan Sentimen Domestik Jadi Pemicu

Slamet Harmoko • Rabu, 13 Mei 2026 | 11:43 WIB
Ilustrasi Dollar Amerika Serikat
Ilustrasi Dollar Amerika Serikat

JAKARTA, radarsampit.jawapos.com – Nilai tukar rupiah terus mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Selasa (12/5), mata uang Garuda bahkan menyentuh level Rp17.500 per dolar AS dan diperkirakan masih berpotensi melemah hingga kisaran Rp17.550 dalam pekan ini.

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan domestik yang membuat pelaku pasar cenderung memburu aset safe haven berbasis dolar AS.

Menurut Ibrahim, dari sisi eksternal, ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Amerika Serikat dikabarkan menolak proposal Iran yang dimediasi Pakistan dan Qatar.

“Kita tahu bahwa Timur Tengah kembali memanas pasca Amerika Serikat menolak proposal yang dibuat oleh Iran yang dimediatori oleh Pakistan dan Qatar,” ujarnya dalam analisisnya, Selasa (12/5).

Ia menjelaskan, situasi tersebut memicu ketidakpastian baru di kawasan Selat Hormuz yang menjadi jalur penting distribusi minyak dunia. Meski sempat disebut mereda, ketegangan di kawasan itu dinilai masih berlangsung.

“Penolakan ini membuat ketegangan baru karena secara tak terduga pun juga serangan-serangan kecil masih terjadi di Selat Hormuz,” katanya.

Ibrahim menyebut Iran masih melakukan serangan balasan terhadap pasukan AS di kawasan tersebut. Sementara itu, Uni Emirat Arab juga disebut tetap melancarkan serangan terhadap Iran, termasuk yang menyasar fasilitas kilang minyak di Pulau Lavan pada awal April lalu.

Kondisi geopolitik tersebut, lanjut dia, mendorong penguatan indeks dolar AS sekaligus memicu kenaikan harga minyak mentah dunia, khususnya Brent crude oil.

“Nah, ini yang membuat indeks dolar kembali mengalami penguatan cukup signifikan sehingga berdampak terhadap kenaikan harga minyak mentah,” jelasnya.

Kenaikan harga energi dinilai berdampak besar terhadap negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia, karena dapat meningkatkan biaya transportasi dan memperbesar tekanan ekonomi domestik.

Selain faktor global, Ibrahim juga menyoroti sentimen dari dalam negeri. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 sebesar 5,61 persen dinilai belum cukup kuat menopang penguatan rupiah.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi saat ini masih lebih banyak ditopang konsumsi masyarakat dan belanja pemerintah dibanding investasi.

“Pembentukan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 itu dari konsumsi masyarakat dan belanja negara. Dampaknya terhadap investasi sangat kecil,” ujarnya.

Di sisi lain, pasar juga tengah menunggu keputusan MSCI terkait evaluasi pasar saham Indonesia dalam beberapa hari mendatang. Kekhawatiran muncul setelah beredar isu penurunan peringkat saham Indonesia yang berpotensi memicu arus keluar modal asing.

“Keputusan MSCI yang menurunkan peringkat saham di Indonesia, kemudian menurunkan peringkat juga. Ini menunggu dalam tiga hari ini. Ini yang membuat rupiah kembali mengalami pelemahan,” pungkasnya. (jpg)

Editor : Slamet Harmoko
#dollar #gejolak timur tengah #anjlok #rupiah #domestik