Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Kemenkes Temukan Dua Kasus Suspek Hantavirus Baru, Penularan Bisa Melalui Tikus

Slamet Harmoko • Sabtu, 9 Mei 2026 | 11:01 WIB
Ilustrasi hantavirus (net)
Ilustrasi hantavirus (net)

JAKARTA, radarsampit.jawapos.com – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan adanya tambahan dua kasus suspek Hantavirus di Indonesia pada pekan ke-16 tahun 2026.

Kedua kasus tersebut ditemukan di Jakarta Utara, DKI Jakarta dan Kulon Progo, DI Yogyakarta.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, mengatakan kedua pasien saat ini masih menjalani pemeriksaan laboratorium untuk memastikan status infeksi.

“Saat ini ada dua kasus suspek Hantavirus di Indonesia,” ujar Aji, Rabu (6/5/2026).

Secara kumulatif, sejak 2024 hingga minggu ke-16 tahun 2026, tercatat sebanyak 251 kasus suspek virus Hanta di Indonesia.

Baca Juga: Inilah Penjelasan Kemenkes tentang Hantavirus di Indonesia

Dari jumlah tersebut, 23 kasus dinyatakan positif, 221 kasus negatif, empat kasus masih dalam pemeriksaan, dan tiga kasus tidak dapat diambil spesimennya.

Aji menegaskan, belum ada penambahan kasus terkonfirmasi pada pekan ini. Total kasus positif tetap sebanyak 23 kasus yang tersebar di sembilan provinsi, yakni DI Yogyakarta, Jawa Barat, DKI Jakarta, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, Sumatera Barat, Banten, Jawa Timur, dan Kalimantan Barat.

Rinciannya, DKI Jakarta dan DI Yogyakarta masing-masing mencatat enam kasus positif, Jawa Barat lima kasus, sedangkan Kalimantan Barat, Sumatera Barat, Banten, Sulawesi Utara, NTT, dan Jawa Timur masing-masing satu kasus.

Penularan dari Tikus dan Hewan Pengerat

Aji menjelaskan, faktor risiko utama penularan Hantavirus berasal dari kontak dengan hewan pengerat seperti tikus atau celurut yang terinfeksi.

Pemerintah, lanjutnya, telah melakukan berbagai langkah pengendalian, mulai dari pemantauan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR), koordinasi dengan Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization, hingga pengawasan pelaku perjalanan dari negara terjangkit.

Selain itu, Kemenkes juga memperkuat edukasi penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), menerbitkan surat edaran kewaspadaan, melakukan surveilans sentinel, serta pengendalian populasi rodensia sebagai reservoir virus.

Gejala dan Bahaya Hantavirus

Penyakit virus Hanta disebabkan oleh Orthohantavirus yang termasuk dalam famili Hantaviridae. Dari sekitar 50 strain virus yang dikenal, sebanyak 24 strain diketahui dapat menginfeksi manusia.

Penularan umumnya terjadi melalui gigitan hewan reservoir, paparan urin, feses, saliva, atau menghirup partikel udara yang telah terkontaminasi virus.

Secara klinis, penyakit ini terbagi menjadi dua bentuk utama, yakni Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS).

HFRS ditandai gejala demam, sakit kepala, nyeri otot, lemas hingga gangguan ginjal dengan tingkat kematian sekitar 5 hingga 15 persen.

Sementara HPS menyebabkan demam, nyeri badan, batuk dan sesak napas dengan tingkat kematian lebih tinggi mencapai 60 persen.

Diagnosis penyakit dilakukan melalui pemeriksaan RT-PCR dari sampel darah. Hingga kini belum tersedia vaksin untuk Hantavirus.

Klaster Hantavirus di Kapal Pesiar

Kasus Hantavirus juga dilaporkan terjadi di sebuah kapal pesiar berbendera Belanda yang berlayar di Samudera Atlantik.

Otoritas kesehatan Inggris melaporkan adanya klaster penyakit pernapasan akut berat atau Severe Acute Respiratory Infection (SARI) pada 2 Mei 2026.

Dari hasil pemeriksaan, satu kasus dinyatakan terkonfirmasi Hantavirus tipe HPS dan lima lainnya masih berstatus suspek. Hingga 4 Mei 2026, dilaporkan tiga kematian terkait kejadian tersebut.

Kapal tersebut membawa 147 penumpang dari 23 negara dan melakukan pelayaran dari Ushuaia, Argentina, melintasi Atlantik Selatan hingga kawasan Antartika.

Penularan Antar Manusia Sangat Jarang

Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Wiku Bakti Bawono Adisasmito, menegaskan hingga kini belum ada bukti kuat bahwa Hantavirus dapat menular dari manusia ke manusia.

“Belum bisa disebut seperti itu,” ujarnya.

Menurut Wiku, Hantavirus merupakan penyakit zoonosis yang berasal dari tikus sebagai inang utama. Penularan ke manusia lebih banyak terjadi akibat paparan lingkungan yang terkontaminasi urin, kotoran, atau saliva tikus.

Ia menilai kasus di kapal pesiar masih membutuhkan investigasi lebih lanjut untuk memastikan sumber penularannya.

“Potensi itu ada, tapi laporannya sangat terbatas. Sejarah penularan antar manusia itu kecil,” tegasnya.

Wiku mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap lingkungan yang berpotensi menjadi sarang hewan pengerat sebagai langkah utama pencegahan Hantavirus. (jpg)

Editor : Slamet Harmoko
#hantavirus #Tikus #kemenkes