radarsampit.jawapos.com – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memastikan kasus hantavirus yang ditemukan di Indonesia memiliki strain berbeda dengan kasus yang terjadi di kapal pesiar MV Hondius. Kasus di Indonesia didominasi strain Seoul Virus dan Hantaan Virus yang termasuk kelompok Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS).
Sedangkan dalam kasus hantavirus di Kapal Pesiar MV Hondius adalah tipe Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) seperti strain Andes yang sebelumnya ditemukan di Amerika Selatan.
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Aji Muhawarman mengatakan, strain yang ditemukan di Indonesia berbeda dengan strain Andes yang diketahui memiliki kemampuan penularan antarmanusia.
“Di Indonesia strain Seoul Virus dan Hantaan Virus yang masuk kelompok HFRS, bukan yang HPS seperti Andes itu,” kata Aji kepada JawaPos.com, Jumat (8/5).
Baca Juga: Layanan Kesehatan Berbasis Data, Dua Desa di Kotim jadi Contoh
Ia menjelaskan, secara umum penyakit hantavirus menyebabkan dua bentuk gejala klinis, yakni Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS).
Tipe HFRS tersebar luas di berbagai negara terutama di kawasan Eropa dan Asia. Penyakit ini memiliki masa inkubasi sekitar satu hingga dua minggu dengan angka kematian berkisar 5-15 persen.
Sementara itu, tipe HPS umumnya ditemukan di Benua Amerika dengan masa inkubasi sekitar 14-17 hari dan angka kematian lebih tinggi mencapai 60 persen.
Seoul Virus Jadi Strain yang Paling Banyak Ditemukan di Indonesia
Dalam laman resmi Kemenkes disebutkan bahwa strain Seoul Virus (SEOV) menjadi jenis hantavirus yang paling sering ditemukan di Indonesia. Strain ini termasuk penyebab tipe HFRS dengan manifestasi klinis tingkat sedang.
Gejala yang umum muncul antara lain demam, sakit kepala, nyeri punggung dan perut, mual, kemerahan pada mata, serta ruam pada tubuh.
Pada kondisi lebih lanjut, penderita dapat mengalami oliguria dan anuria atau penurunan produksi urine, perdarahan pada sistem pencernaan, hingga gangguan sistem pernapasan dan saraf.
Penularan virus Hanta umumnya terjadi melalui kontak dengan hewan pengerat terinfeksi seperti tikus dan celurut, baik melalui gigitan maupun paparan urin, saliva, dan feses. Belum ada kasus penularan antarmanusia karena strain SEOV.
Langkah Pencegahan Hantavirus
Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat melakukan berbagai langkah pencegahan untuk menghindari penularan hantavirus.
Pencegahan utama dilakukan dengan menghindari kontak antara manusia dan hewan pengerat serta mengendalikan populasi tikus di lingkungan rumah.
Masyarakat juga diminta menjaga kebersihan rumah dan lingkungan serta menggunakan alat pelindung diri seperti masker, sarung tangan, dan alas kaki saat membersihkan area yang dilalui tikus. Selain itu, kotoran, urin, dan sekresi tikus dianjurkan dibersihkan menggunakan disinfektan.
Kemenkes juga mengingatkan masyarakat agar tidak menyentuh hewan pengerat secara langsung baik dalam kondisi hidup maupun mati. Jika terjadi kontak, masyarakat diminta menggunakan disinfektan dan alat pelindung diri lengkap.
Pengelolaan sampah dengan benar dan menjaga kebersihan tangan menggunakan sabun serta air mengalir juga menjadi langkah penting untuk mencegah penularan virus Hanta. Hantavirus di Kapal MV Hondius Menyebar dari Manusia ke Manusia
Sementara itu, Direktur Jendral WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus menjelaskan adanya klaster kasus hantavirus yang terkait dengan kapal pesiar MV Hondius.
WHO melaporkan sejauh ini terdapat delapan kasus, termasuk tiga kematian. Lima kasus di antaranya telah terkonfirmasi sebagai hantavirus.
Virus yang terlibat adalah virus Andes yang diketahui menjadi satu-satunya spesies hantavirus yang dapat menular secara terbatas dari manusia ke manusia melalui kontak dekat dan berkepanjangan.
“Meskipun ini adalah insiden serius, WHO menilai risiko kesehatan masyarakatnya rendah,” kata Tedros.
WHO juga menyebut masih ada kemungkinan tambahan kasus mengingat masa inkubasi penyakit tersebut.
Saat ini WHO berkoordinasi dengan berbagai negara melalui Peraturan Kesehatan Internasional atau International Health Regulations (IHR) untuk menangani situasi tersebut. Organisasi itu juga telah menempatkan seorang ahli di atas kapal guna mendukung penilaian medis terhadap penumpang dan awak kapal.
Selain itu, WHO mengirimkan 2.500 alat diagnostik dari Argentina ke laboratorium di lima negara guna memperkuat kapasitas pengujian hantavirus. WHO juga tengah menyusun panduan operasional terkait proses turun kapal dan perjalanan lanjutan yang aman bagi penumpang dan awak kapal. (taz/kus/jpc)
Editor : Tono Triyanto