MARTAPURA, Radarsampit.jawapos.com – Dampak genangan banjir di Kabupaten Banjar kembali meluas.
Dalam kurun 24 jam, jumlah wilayah terdampak meningkat signifikan, meski genangan air di sejumlah titik mulai berangsur surut.
Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kabupaten Banjar hingga Rabu (7/1/2026) pukul 17.00 Wita, banjir melanda 12 kecamatan dengan total 135 desa dan kelurahan terdampak.
Angka ini meningkat dibandingkan data sehari sebelumnya, Selasa (6/1/2026) pukul 16.00 Wita, yang mencatat banjir terjadi di 9 kecamatan dengan 121 desa dan kelurahan terdampak.
Artinya, dalam sehari terjadi penambahan tiga kecamatan, serta 14 desa dan kelurahan yang terendam banjir.
Seiring meluasnya wilayah terdampak, jumlah warga yang terimbas juga ikut bertambah.
Data terbaru mencatat 135.704 jiwa terdampak, naik dari 118.151 jiwa pada hari sebelumnya.
Jumlah kepala keluarga (KK) terdampak meningkat dari 42.082 KK menjadi 48.876 KK.
Dampak terhadap permukiman warga pun mengalami perubahan signifikan.
Jumlah rumah terdampak melonjak dari 23.133 unit menjadi 32.789 unit.
Namun, jumlah rumah yang masih tergenang justru menurun, dari 13.732 unit menjadi 8.577 unit.
Kondisi ini menunjukkan genangan mulai surut di sejumlah titik, meski secara geografis sebaran wilayah banjir justru semakin luas.
Wilayah dengan jumlah desa terdampak terbanyak masih berada di Kecamatan Astambul, Sungai Tabuk, Martapura, Martapura Timur, dan Kertak Hanyar.
Bahkan, beberapa kecamatan yang sebelumnya tercatat nihil banjir kini mulai masuk dalam daftar wilayah terdampak.
Banjir juga berdampak serius pada kelompok rentan.
Jumlah lansia terdampak meningkat dari 3.944 menjadi 4.468 orang.
Jumlah anak-anak bertambah dari 4.356 menjadi 4.770 orang, sementara ibu hamil naik dari 371 menjadi 425 orang.
Sekretaris Daerah Kabupaten Banjar, Yudhi Andrea menegaskan peningkatan jumlah wilayah dan warga terdampak menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
“Seluruh perangkat daerah terus kami kerahkan. Mulai dari pendataan, distribusi bantuan, hingga pemantauan kondisi lapangan agar penanganan berjalan optimal,” tegas Yudhi, Kamis (8/1/2026) siang.
Ia menambahkan, potensi banjir susulan tetap harus diantisipasi seiring intensitas hujan yang masih tinggi di wilayah hulu.
“Banjar berada di sistem sungai besar seperti Riam Kiwa dan Sungai Martapura. Saat hujan deras, aliran melambat dan air mudah meluap. Ini karakteristik alam yang harus kita kelola risikonya,” jelasnya.
Pemerintah daerah, lanjut Yudhi, terus memperkuat koordinasi dengan BPBD, aparat kecamatan hingga desa agar data selalu diperbarui dan respons lapangan tetap cepat.
Ia menegaskan penanganan banjir tidak dilakukan sendiri oleh Pemkab Banjar. Dukungan datang dari pemerintah provinsi hingga pusat, termasuk melalui anggaran kebencanaan dan bantuan lintas sektor.
“Ini gotong royong. Pemerintah, masyarakat, dunia usaha hingga organisasi kemasyarakatan kami libatkan. Kami juga membuka ruang partisipasi publik,” katanya.
Dengan kondisi yang masih dinamis, masyarakat di wilayah rawan banjir diimbau tetap waspada dan mengikuti arahan petugas di lapangan.(jpg)
Editor : Farid Mahliyannor