SAMPIT – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mendorong percepatan program konversi minyak tanah ke elpiji 3 kilogram yang hingga kini belum merata di seluruh wilayah.
Kondisi ini menyebabkan warga di sejumlah kecamatan harus membeli elpiji dengan harga tinggi akibat keterbatasan distribusi.
Wakil Bupati Kotim, Irawati, mengatakan kebutuhan elpiji terus meningkat, sementara distribusi belum menjangkau semua daerah.
Dari 17 kecamatan di Kotim, enam kecamatan belum tersentuh program konversi, yakni Kotabesi, Telawang, Mentaya Hulu, Bukit Santuai, Telaga Antang, dan Antang Kalang, yang mencakup sekitar 80 desa.
Meski belum masuk program konversi, masyarakat di wilayah tersebut sebagian besar telah beralih menggunakan elpiji karena minyak tanah semakin langka.
Akibatnya, warga harus membeli elpiji dari kecamatan lain yang sudah terjangkau program, sehingga meningkatkan permintaan di tengah keterbatasan kuota.
Kondisi tersebut berdampak pada lonjakan harga di tingkat masyarakat. Di sejumlah desa wilayah utara, harga elpiji 3 kilogram berkisar antara Rp45.000 hingga Rp50.000 per tabung, jauh di atas harga eceran tertinggi (HET).
Bahkan, di Desa Tumbang Gagu, Kecamatan Antang Kalang, harga elpiji dapat mencapai Rp110.000 per tabung. Warga setempat terpaksa membeli dari wilayah tetangga di Kabupaten Katingan karena akses jalan lebih terbuka, meski harus menanggung biaya transportasi tinggi.
“Jika menuju pusat kecamatan, biaya sewa kelotok bisa mencapai Rp6 juta. Karena itu, meskipun mahal, warga tetap membeli selama barang tersedia,” ujar Irawati.
Ia menambahkan, persoalan utama tidak hanya harga, tetapi juga ketersediaan elpiji yang kerap tidak menentu. Selain untuk kebutuhan rumah tangga, elpiji 3 kilogram juga menjadi penopang utama bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Pemerintah daerah telah menyampaikan persoalan tersebut kepada Pertamina saat kunjungan di Sampit. Pemkab berharap ada penambahan pasokan serta percepatan perluasan program konversi agar distribusi elpiji merata hingga ke pelosok.
Dengan demikian, masyarakat diharapkan dapat memperoleh energi dengan harga terjangkau dan pasokan yang stabil. (yn/yit)
Editor : Heru Prayitno