PANGKALAN BUN, radarsampit.jawapos.com – Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) menempati peringkat ketiga kasus HIV/AIDS tertinggi di Kalimantan Tengah (Kalteng). Hingga tahun 2025, tercatat sebanyak 832 kasus ditemukan di daerah tersebut.
Wakil Bupati Kobar Suyanto menyebut kondisi ini sebagai pekerjaan rumah besar yang memerlukan penanganan lintas sektor.
“Kasus HIV/AIDS di Kobar pernah berada di peringkat pertama se-Kalteng. Saat pengamanan kapal Thailand, kasus sempat melonjak tinggi. Dampaknya masih terasa sampai sekarang hingga Kobar berada di posisi ketiga,” ujarnya.
Dari total 832 kasus, terdapat 69 kasus baru yang ditemukan sepanjang tahun 2025.
Situasi semakin mengkhawatirkan karena banyak pasien berhenti menjalani pengobatan. Sebanyak 329 pasien tercatat sebagai lost to follow up atau hilang kontak, sementara 50 pasien dilaporkan telah meninggal dunia.
Kepala Dinas Kesehatan Kobar, Achmad Rois, membenarkan kondisi tersebut.
“Benar, mereka yang tidak terjangkau ini rentan menularkan. Itu yang menjadi target pencarian agar mau melanjutkan pengobatan,” katanya.
Rois mengakui bahwa proses penelusuran sering terkendala karena sebagian pasien menghindar saat mengetahui yang datang adalah tenaga kesehatan.
Fenomena ini, lanjutnya, memperkuat dugaan bahwa HIV/AIDS merupakan fenomena gunung es, di mana jumlah kasus sebenarnya diyakini lebih tinggi dari data yang tercatat.
Rois menambahkan, penyebaran HIV/AIDS kini semakin meluas. Tidak hanya terjadi pada kelompok berisiko tinggi, tetapi juga mulai menjangkiti ibu rumah tangga dan ibu hamil. Bahkan, pada tahun 2023, dilaporkan terdapat satu kasus anak yang terinfeksi HIV.
Ia menilai stigma negatif masih menjadi hambatan besar dalam penanganan di lapangan. Banyak pengidap enggan memeriksakan diri karena takut mendapat penilaian buruk dari masyarakat.
“Upaya pencegahan terus kami lakukan melalui penyuluhan di sekolah, pelacakan kontak erat, serta pendampingan bagi para pengidap,” tutupnya. (tyo/yit)
69 Kasus Baru HIV/AIDS di Kobar Tahun 2025
Usia 20–29 tahun 24 kasus
Usia 40–59 tahun 25 kasus
Usia 30–39 tahun 17 kasus
Usia 15–19 tahun 2 kasus
Usia 1–4 tahun 1 kasus
Editor : Heru Prayitno