Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Penggunaan Gadget Tak Terkontrol Picu Gangguan Mental dan Penyalahgunaan Napza pada Anak

Heny Pusnita • Kamis, 27 November 2025 | 07:20 WIB
Psikolog Ary Anisa saat memberikan pelayanan kepada salah satu pasien anak yang berobat rawat jalan di Klinik Psikolog RSUD dr Murjani Sampit.
Psikolog Ary Anisa saat memberikan pelayanan kepada salah satu pasien anak yang berobat rawat jalan di Klinik Psikolog RSUD dr Murjani Sampit.

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Kasus gangguan kesehatan mental pada anak yang ditangani Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Murjani Sampit terus mengalami peningkatan. Kondisi ini turut memicu perubahan perilaku hingga kenekatan anak dan remaja dalam menggunakan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (napza).

Psikolog RSUD dr. Murjani Sampit, Ary Anisa, mengatakan lebih dari 10 pasien berusia 10–16 tahun menjalani pemeriksaan karena penyalahgunaan napza.

“Ada yang menghirup lem, minum obat zenit, hingga mengonsumsi minuman keras oplosan,” ujarnya.

Menurut Ary, sebagian kasus yang ditangani menunjukkan anak telah menggunakan napza lebih dari dua tahun. Bahkan terdapat pasien yang mulai memakai sejak masih duduk di kelas V SD. Faktor penyebabnya antara lain lingkungan pergaulan, kurangnya perhatian keluarga, serta lemahnya pengawasan.

“Ada pula kasus yang terungkap dari pihak sekolah karena siswa sering bolos dan menunjukkan perubahan perilaku,” katanya. 

Namun, ia menyebut RSUD dr. Murjani Sampit belum pernah melakukan rehabilitasi khusus bagi pasien usia anak. Sementara itu, sekolah maupun keluarga kerap menyerahkan sepenuhnya penanganan kepada rumah sakit.

Ary menegaskan bahwa penanganan gangguan mental dan kasus penyalahgunaan napza pada anak memerlukan kerja sama banyak pihak, terutama keluarga, sekolah, dan instansi pemerintah.

“Usia anak memerlukan perhatian khusus, berbeda dengan pasien dewasa,” ujarnya.

Ia menjelaskan, keinginan anak untuk mengonsumsi napza biasanya dipicu gangguan mental seperti sulit mengontrol emosi, kesulitan berkonsentrasi, sedih berkepanjangan, gangguan tidur, hingga keluhan fisik seperti sakit kepala dan sakit perut.

Penggunaan gadget tanpa kontrol juga dapat memicu perilaku agresif dan emosi tidak stabil.

“Jika tidak ditangani serius, dampaknya bisa menurunkan prestasi belajar hingga mendorong anak melakukan tindakan kriminal seperti pencurian,” tambahnya.

Ary menyampaikan bahwa gangguan kesehatan mental merupakan fenomena gunung es. Banyak faktor pemicu seperti kurangnya perhatian keluarga, perundungan (bullying), kekerasan seksual, atau pengalaman traumatis lainnya.

Karena itu, sistem dukungan (support system) harus berjalan baik, mulai dari kemampuan anak mengelola stres, dukungan keluarga, sekolah, lingkungan, hingga pemerintah daerah.

“Kasus gangguan mental tidak bisa dianggap remeh. Dampak terburuknya adalah percobaan bunuh diri. Sudah banyak pasien dari berbagai usia yang pernah mencoba bunuh diri namun akhirnya melakukan pemeriksaan psikologis,” ujarnya.

Ia menyoroti pentingnya peran keluarga dalam memastikan tumbuh kembang anak.

“Pernah ada anak yang datang diantar gurunya, sementara orang tuanya tidak peduli karena menganggap gangguan mental bukan penyakit yang perlu dikhawatirkan. Padahal dukungan keluarga sangat penting untuk kesembuhan,” katanya.

Ary menambahkan, tidak ada patokan waktu bagi pasien untuk benar-benar pulih dari gangguan mental. Pemulihan bergantung pada dukungan dan lingkungan yang sehat.

“Yang terpenting adalah kemampuan mengendalikan diri, menjalani kehidupan sosial yang baik, berolahraga, makan sehat, serta membangun komunikasi yang positif agar pengobatan lebih efektif,” tandasnya. (hgn/yit)

 

Editor : Heru Prayitno
#RSUD dr Murjani Sampit #napza #anak