SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Reuni akbar dan halal bihalal alumni Persatuan Guru Agama (PGA) Negeri Sampit di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga momentum untuk merancang aksi nyata bagi masyarakat.
Para alumni berencana membentuk yayasan sosial keagamaan sebagai wadah pengabdian bersama.
Kegiatan yang digelar di Aula Wisata Aqui Sampit, Sabtu (28/3), dihadiri sekitar 170 alumni dari berbagai angkatan, mulai dari lulusan tahun 1970-an hingga 1990-an. Para alumni juga datang dari berbagai daerah di Indonesia.
Ketua Panitia Pelaksana, Zainuddin, mengatakan reuni akbar tersebut menjadi sarana mempererat hubungan antaralumni yang selama ini tersebar di berbagai daerah.
“Alhamdulillah hari ini kita melaksanakan reuni akbar sekaligus halal bihalal alumni PGA Negeri Sampit. Kegiatan ini menjadi momentum untuk menjalin silaturahmi antaralumni dari berbagai angkatan,” ujar Zainuddin.
Ia menyebutkan, meskipun lembaga pendidikan PGA Negeri Sampit telah lama dibubarkan oleh pemerintah, para alumninya tetap aktif dan tersebar di berbagai wilayah.
“Alumni yang hadir tidak hanya dari Sampit, tetapi juga ada yang datang dari Banjarmasin, Jawa hingga Jakarta. Ini menunjukkan bahwa alumni PGA tetap eksis di mana pun berada,” terangnya.
Menurut Zainuddin, kegiatan reuni ini diharapkan tidak hanya berhenti pada pertemuan semata, tetapi juga melahirkan berbagai program yang bermanfaat bagi masyarakat.
Sementara itu, perwakilan alumni PGA, Sudarsono, mengatakan para alumni berencana membentuk sebuah yayasan sebagai wadah untuk menjalankan berbagai program sosial dan keagamaan.
“Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti sampai di sini. Silaturahmi harus terus berlanjut, bahkan kalau bisa dilaksanakan setiap tahun,” ucap Sudarsono yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi I DPRD Provinsi Kalimantan Tengah.
Ia menjelaskan, melalui yayasan tersebut para alumni ingin menghadirkan kontribusi nyata di tengah masyarakat, salah satunya melalui pembangunan rumah ibadah.
“Dalam waktu dekat kami sudah menyiapkan pembentukan yayasan alumni PGA. Melalui yayasan ini kami ingin membuat gerakan nyata, misalnya mendirikan rumah ibadah seperti musala atau masjid,” ungkapnya.
Selain itu, keberadaan yayasan tersebut juga membuka peluang untuk mengembangkan lembaga pendidikan keagamaan apabila tersedia dukungan fasilitas maupun lahan di masa mendatang.
“Jika suatu saat ada yang menghibahkan tanah, tidak menutup kemungkinan kita juga dapat mendirikan sekolah atau lembaga pendidikan keagamaan yang sejalan dengan semangat pendidikan guru agama,” katanya.
Sudarsono menambahkan, sebagai alumni dari lembaga pendidikan guru agama, para alumni PGA memiliki tanggung jawab moral untuk terus berkontribusi dalam bidang keagamaan dan pendidikan.
Ia juga menyadari jumlah alumni PGA tidak akan bertambah karena lembaga pendidikan tersebut sudah tidak lagi ada.
“Karena jumlah alumni terbatas, selama masih ada kesempatan kita ingin melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat. Harapannya ini bisa menjadi amal jariah bagi kita semua,” tutup Sudarsono. (ktr-2)
Editor : Slamet Harmoko