SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Penantian panjang warga Kecamatan Bukit Santuai, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), untuk menikmati aliran listrik PLN akhirnya mendekati kenyataan.
Setelah 18 tahun sejak kecamatan ini dimekarkan dari Mentaya Hulu, program listrik desa (lisdes) untuk 10 desa dipastikan siap direalisasikan.
Kepastian tersebut menyusul rampungnya seluruh perizinan lintasan jaringan listrik yang melewati area perkebunan besar swasta (PBS). Camat Bukit Santuai Agus Saptono memastikan, tidak ada lagi kendala dari sisi perizinan.
“Izin melintas jaringan listrik sudah clear. Semua sudah keluar dan tidak ada hambatan lagi,” ujarnya, Sabtu (10/1/2026).
Izin melintas dari PBS telah dikantongi untuk Desa Tumbang Batu, Tumbang Torung, Lunuk Bagantung, Tumbang Tawan, dan Tumbang Saluang. Sementara itu, izin dari PT ABP untuk wilayah Desa Tumbang Batu juga telah diterbitkan.
Dengan rampungnya perizinan, pembangunan lisdes mulai bergerak. Di Desa Tumbang Batu, mobilisasi tiang listrik sudah berjalan, sebagian material bahkan telah tiba di lokasi. Namun, untuk desa-desa lainnya, proses pengangkutan material belum dimulai.
Kendala yang kini menjadi fokus utama adalah kondisi infrastruktur jalan. Agus menjelaskan, jalan menjadi faktor krusial karena akan dilalui kendaraan besar pengangkut tiang listrik.
Situasi ini semakin menantang karena perusahaan yang sebelumnya membantu pemeliharaan jalan kini sudah tidak lagi beroperasi.
“Kalau jalan tidak disiapkan, terutama di musim hujan, risikonya besar. Mobil fuso bisa terjebak atau jalan amblas,” jelasnya.
Untuk itu, pihak kecamatan berencana menggelar pertemuan dengan 10 kepala desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), tokoh masyarakat, serta sejumlah perusahaan yang masih beroperasi di wilayah Bukit Santuai, yakni PT ABP, PT AWL, PT Buana Aditama, dan PT Sarpatim.
Pertemuan tersebut dijadwalkan setelah penutupan Sampit Expo, dengan agenda utama membahas dukungan perbaikan dan sterilisasi jalan. Koordinasi persiapan jalan direncanakan berlangsung pada 15 Januari.
Dua ruas jalan menjadi prioritas perbaikan, yakni jalur penghubung Desa Tumbang Batu–Tumbang Saluang yang melintasi lima desa, serta jalur Desa Tumbang Sapia–Tumbang Kania.
Agus berharap perusahaan dapat memberikan dukungan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) demi kepentingan masyarakat luas.
“Ini untuk kepentingan umum. Kami berharap dukungan penuh agar listrik desa bisa segera terwujud,” tegasnya.
Diketahui, pada tahun 2026, sebanyak 10 desa di Kecamatan Bukit Santuai telah masuk dalam peta jalan (road map) program lisdes PLN.
Desa-desa tersebut meliputi Tumbang Sapia, Tumbang Getas, Tewai Hara, Tumbang Payang, Tumbang Kania, Tumbang Torung, Lunuk Bagantung, Tumbang Tawan, Tumbang Saluang, dan Tumbang Batu.
Saat ini, dari total 14 desa di Bukit Santuai, baru empat desa yang telah menikmati aliran listrik PLN, yakni Desa Tumbang Kementing, Tanah Haluan, Tumbang Penyahuan, dan Tumbang Tilap.
Agus menyampaikan apresiasi kepada Bupati Kotim Halikinnor yang dinilai konsisten memperjuangkan kebutuhan listrik desa hingga ke pemerintah pusat. Upaya tersebut membuahkan hasil dengan disetujuinya program lisdes melalui anggaran tambahan Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan (DJK) Kementerian ESDM.
Apresiasi juga disampaikan kepada Anggota DPRD Kotim Dapil V serta Komisi I DPRD Kotim yang aktif mendorong dan memfasilitasi koordinasi lintas sektor.
“Setelah 18 tahun, Bukit Santuai akhirnya mendapat kuota listrik desa. Ini adalah harapan besar bagi masyarakat kami,” pungkasnya. (oes)
Editor : Slamet Harmoko