
SAMPIT,radarsampitjawapos.com- Fenomena tak biasa terjadi di sektor pertanian Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Meski memiliki harga jual lebih tinggi, komoditas rotan dan karet justru mulai ditinggalkan petani. Sebaliknya, kelapa sawit yang harganya lebih rendah kini menjadi primadona.
Perubahan ini bukan tanpa alasan. Bagi petani, pertimbangan utama bukan lagi sekadar harga, melainkan efisiensi tenaga dan waktu kerja.
Salah satu petani, Alex, mengaku telah sepenuhnya beralih ke sawit. Bahkan, pada 2025 lalu ia menebang kebun rotan dan karet miliknya untuk diganti dengan tanaman sawit.
“Memang harga rotan dan karet lebih tinggi, tapi kerjanya berat. Tidak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan,” ujarnya.
Saat ini, harga rotan di tingkat petani berkisar Rp4.500 per kilogram, sementara karet mencapai Rp10 ribu per kilogram. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan harga tandan buah segar (TBS) sawit yang hanya sekitar Rp3.000 per kilogram.
Baca Juga: Petani Rotan di Kotim Menjerit Hadapi Fluktuasi Harga Jelang Akhir Tahun
Namun dari sisi produktivitas, sawit jauh lebih unggul. Rotan hanya mampu menghasilkan sekitar 60 hingga 70 kilogram per hari jika dikerjakan sendiri. Sementara karet lebih rendah lagi, sekitar 20 kilogram per hari, dengan jam kerja panjang sejak pagi dan sangat bergantung pada kondisi cuaca.
“Kalau hujan, tidak bisa menyadap. Artinya tidak ada penghasilan,” tambah Alex.
Berbeda dengan sawit yang tidak membutuhkan perawatan harian intensif. Dalam satu hektare, produksi bisa mencapai 700 kilogram hingga 1 ton setiap panen, yang dilakukan sekitar dua minggu sekali.
“Kerjanya lebih ringan, tidak harus tiap hari,” katanya.
Selain itu, sawit memiliki masa produktif panjang hingga sekitar 20 tahun. Hal ini menjadikannya sebagai sumber penghasilan jangka panjang yang lebih stabil bagi petani.
Kondisi ini membuat minat terhadap sawit terus meningkat. Lahan kosong di Kotim kini banyak diburu, tidak hanya oleh warga lokal, tetapi juga pendatang dari luar daerah seperti Sumatera dan Jawa. Kehadiran pemodal dari luar turut mempercepat ekspansi kebun sawit di wilayah tersebut.
Data menunjukkan, luas kebun sawit rakyat di Kotim telah mencapai sekitar 3.900 hektare. Dari jumlah itu, sekitar 1.159,6 hektare telah memiliki Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB).
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kotim, Yephi Hartady, mendorong petani segera mengurus legalitas kebun melalui STDB.
“Ini penting agar petani mendapatkan pembinaan dan akses program pemerintah,” ujarnya.
Meski demikian, beralih ke sawit bukan tanpa tantangan. Modal awal yang dibutuhkan tergolong besar, mulai dari pembelian lahan yang mencapai Rp20–30 juta per hektare, bibit sekitar Rp8 juta per hektare, hingga biaya penggarapan dan penanaman.
“Awalnya memang berat, tapi setelah berjalan lebih ringan,” kata Alex.
Di sisi lain, peralihan besar-besaran ini juga membawa konsekuensi. Komoditas rotan dan karet yang dulu menjadi andalan kini kian terpinggirkan. Ketergantungan pada satu komoditas juga dinilai berisiko, terutama jika terjadi fluktuasi harga sawit di masa mendatang.
Selain itu, masuknya investor dari luar daerah berpotensi memicu persaingan lahan hingga konflik jika tidak diatur dengan baik. (ang/sla)
Editor : Agus Jaka Purnama