SAMPIT, Radarsampit.jawapos.com - Masyarakat Kotawaringin Timur (Kotim) sebaiknya meningkatkan kewaspadaan. Pasalnya, belakangan ini kasus pencurian dengan kekerasan (curas) alias begal sering terjadi.
Menurut informasi yang dihimpun, awal Tahun 2026, aksi begal sudah terjadi dua kali di lokasi yang berbeda. Pertama, seorang karyawan transporter kelapa sawit harus kehilangan uang setengah miliar rupiah lebih akibat dirampok.
Perampokan tersebut terjadi di Desa Kabuau, Kecamatan Parenggean, Kotim, pada Sabtu (10/1/2026) pagi. Kejadian berawal saat korban Panji sedang membawa uang Rp 551 juta lebih yang merupakan uang setoran angkutan (replas) kelapa sawit.
Di tengah perjalanan, korban dicegat sekelompok orang tak dikenal. Korban ditodong menggunakan senjata api. Panji tak berkutik, hanya bisa pasrah saat tas berisi uang dibawa kabur kawanan perampok.
Panji kemudian melaporkan kejadian itu kepada petugas dan kasus tersebut langsung ditangani Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Kotim.
Selanjutnya, aksi serupa juga terjadi pada Sabtu (17/1/2026) petang. Seorang pria asal Desa Terantang, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Sampit, Bernama Khaliqin juga jadi korban pembegalan.
Ia mengaku dibegal, dua logam mulia, telepon genggam serta barang berharga lainnya dicuri kawanan pelaku.
Kejadian ini berawal saat korban dalam perjalanan pulang menggunakan sepeda motor. Tiba tiba motornya mendadak mogok dan berhenti di pinggir jalan. Saat itu lah sekelompok pelaku datang membegal korban dengan menggunakan senjata tajam.
Akibatnya, korban harus mengalami kerugian puluhan juta rupiah dan mengadukan aksi tersebut kepada petugas setempat.
"Kasus ini sudah kami laporkan ke Polres. Selasa (20/1/2026), kami juga mengecek saldo ATM milik suami. Ternyata, semua isi uang ikut ludes dicuri pelaku," ungkap Nemah istri korban.
Ia menambahkan, saat itu para pelaku menggunakan dua sepeda motor jenis matik. Satu pelaku membawa senjata tajam jenis pisau. "Mereka ada yang bawa pisau. Untung saja saat itu suami saya tidak dilukai oleh mereka," tandas Nemah. (sir/fm)
Editor : Farid Mahliyannor