Jahatnya Perundungan yang Mampu Ciptakan Trauma Mendalam

Radar Sampit • Dipublikasikan Rabu, 21 Oktober 2026 | 20:23 WIB
Ilustrasi aksi perundungan di kalangan pelajar (dok.radarsampit/modifikasi AI)
Ilustrasi aksi perundungan di kalangan pelajar (dok.radarsampit/modifikasi AI)

SAMPIT- Kasus bullying atau perundungan kembali menodai dunia pendidikan. Perilaku itu sering kali tidak terlihat dampaknya dari luar secara langsung. Namun, ia menggerogoti pondasi mental, rasa percaya diri, dan kesehatan jiwa korbannya secara perlahan hingga akhirnya runtuh sama sekali.

Meskipun pelaku meminta maaf, bekas-bekas lipatan trauma itu akan tetap ada dan sulit hilang sepenuhnya. Bullying bisa menciptakan atmosfer yang beracun, membuat orang lain takut, hilang empati, dan merusak keharmonisan sebuah komunitas, baik di sekolah, tempat kerja hingga lingkungan sosial.

“Walaupun kami miskin, jangan bully anak saya,”Kalimat menyayat hati itu jadi permintaan Arini, orangtua pelajar perempuan korban yang menjadi perundungan, saat ditemui Rabu (21/10/2026).

Warga Kecamatan Baamang, Kabupaten Kotawaringin Timur itu mengungkapkan bahwa anak bungsunya berulang kali menjadi korban dugaan perundungan oleh teman sekolahnya.

Diungkapkan Arini, anaknya kerap menerima ejekan terkait kondisi ekonomi keluarganya. Sang anak bahkan disebutnya pernah dituduh mencuri di hadapan banyak orang. Perlakuan itu pun membuat anaknya malu, sakit hati, dan sering menangis setiap pulang sekolah.

“Anak saya sering diolok-olok, dibilang miskin dan katain tidak pernah melihat uang. Dia juga pernah dikatakan maling di tengah orang banyak. Anak saya malu karena dilihati orang-orang,” paparnya.

Menurutnya, dugaan perundungan itu dilakukan oleh seorang teman sekolah yang juga merupakan tetangga mereka. Berdasarkan cerita anaknya, teman-teman yang lain tidak ikut melakukan tindakan tersebut.

Diungkapkannya pula, perlakuan itu tidak hanya berupa ejekan verbal. Arini juga mengatakan, jok sepeda anaknya pernah sampai disobek. Karena kejadian tersebut terus berulang, anaknya yang berusia sekitar 10 tahun itu bahkan sempat tidak mau berangkat sekolah lantaran merasa sakit hati.

Arini pun mengaku telah melaporkan persoalan tersebut kepada pihak sekolah. Namun, menurut dia, perlakuan yang dialami anaknya masih berlanjut meskipun laporan telah disampaikan.

“Perundungan ini bukan hanya sekali, tetapi sudah berkali-kali. Saya sudah melaporkannya ke pihak sekolah, tetapi anak saya masih mengalami perlakuan seperti itu,” ucapnya lirih.

Lebih lanjut diungkapkannya, dugaan perundungan mulai terjadi setelah anaknya pindah ke sekolah yang lebih dekat dengan rumah mereka, sekitar Juni atau Juli lalu.

Keputusan memindahkan anaknya diambil, lantaran Arini mengalami kecelakaan saat mengantar anaknya itu ke sekolah lama. Dalam kejadian tersebut, mereka ditabrak oleh seorang pelajar, hingga Arini mengalami kesulitan berjalan akibat cedera.

Karena kondisi itu, Arini memilih sekolah yang lebih dekat agar anaknya lebih mudah dijangkau. Namun, ia tidak menyangka anaknya justru mengalami dugaan perundungan di lingkungan sekolah barunya.

Padahal, sebelum bersekolah di tempat yang sama, hubungan anaknya dengan teman yang kini diduga melakukan perundungan disebut tidak bermasalah. Keduanya masih bertegur sapa ketika bertemu.

Arini berharap pihak sekolah dapat menindaklanjuti laporannya dan memastikan anaknya tidak lagi menerima perlakuan serupa. Ia ingin anaknya dapat kembali bersekolah dengan aman tanpa harus merasa takut atau malu karena kondisi ekonomi keluarganya.

“Harapan saya, anak saya tidak dibully lagi. Walaupun kami orang miskin, jangan sampai anak saya yang harus menanggung perlakuan seperti itu. Kasihan anak saya,” tuturnya.

Di tengah persoalan yang dialami anaknya, Arini juga menghadapi keterbatasan ekonomi. Ia mengaku belum pernah menerima bantuan sosial dari pemerintah, meskipun sebelumnya telah dua kali didata.

Arini telah tinggal di wilayah tersebut selama sekitar tiga tahun. Ia memiliki tiga anak, dua di antaranya telah berkeluarga, sedangkan anak bungsunya masih duduk di bangku sekolah dasar.

Demi memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia terkadang menerima kiriman uang dari kedua anaknya yang telah berkeluarga dan bekerja.

Selain itu, Arini mengandalkan bantuan dari warga yang peduli terhadap kondisinya. Sebelum mengalami kecelakaan, ia berusaha mencari penghasilan dengan berjualan Botok keliling dan membuat keripik, di sekolah lama anaknya.

Dari penjualan itu, ia mengaku hanya memperoleh sekitar Rp30 ribu sehari. Setelah mengalami kecelakaan dan kesulitan berjalan, ia tidak lagi leluasa berjualan sehingga semakin bergantung pada bantuan orang-orang di sekitarnya.

Di tengah keterbatasan tersebut, Arini berharap anaknya mendapat perlindungan dan kesempatan untuk belajar dengan tenang. Baginya, kondisi ekonomi keluarga tidak seharusnya menjadi alasan bagi buah hatinya itu untuk direndahkan atau diperlakukan berbeda oleh teman-temannya.(ktr-2/gus)

Editor : Agus Jaka Purnama
orangtua sekolah bullying pelajar perundungan