
----------------------------------
Pertengahan Maret lalu, seekor beruang madu dilaporkan muncul di kawasan Jalan Lingkar Kota Utara, Kecamatan Baamang, Sampit, menuju Simpang arah Desa Kandan Kecamatan Kota Besi.
Fendi, warga yang melaporkan, awalnya mengaku mendengar suara ribut dari arah semak-semak pada malam hari. Suara gonggongan anjing terdengar keras seperti sedang menyerang sesuatu.
“Suaranya ramai sekali, seperti ada perkelahian. Tapi saya tidak berani mendekat,” ujarnya.
Rasa penasarannya itu baru terjawab keesokan harinya. Saat mendatangi lokasi itu, Fendi menemukan pemandangan mengerikan. Seekor anjing tewas dengan kondisi hanya tersisa bagian hidungnya.
Ia juga mengaku sempat melihat sosok beruang berukuran besar di sekitar lokasi kejadian. Fendi menduga beruang tersebut sempat dikeroyok beberapa anjing peliharaan warga.
Namun, situasi berbalik. Diduga karena kalah kuat, sebagian anjing kabur. Sementara satu ekor anjing tewas, diduga kuat dimangsa oleh beruang itu. “Di lokasi juga ada semak belukar yang roboh, seperti bekas perkelahian,” ungkap Fendi.
Memasuki bulan Mei ini, beruang kembali muncul di wilayah Desa Bukit Raya, Kecamatan Cempaga, dan sempat videonya sempat direkam warga, serta beredar di media sosial.
Dalam video berdurasi 21 detik itu, seekor beruang terlihat berada di antara pepohonan dan semak-semak tak jauh dari area aktivitas warga. Situasi menjadi menegangkan saat seorang pria berkaos merah terlihat nekat mendekati satwa liar itu sambil membawa parang.
Saat pria tersebut semakin mendekat, beruang langsung bergerak menjauh dan menghilang. Unggahan itu juga menyebutkan lokasi kemunculan beruang berada di dekat rumah, dan sempat menyantap buah kelapa.
Dan yang terbaru, Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Sampit kembali mendapat laporan kehadiran dua ekor anak beruang, dan aktivitas hewan itu terekam video warga di kawasan Samuda.
Video tersebut beredar luas di media sosial dan memperlihatkan dua anak beruang berada di area yang diduga ladang milik warga. Satwa liar itu terlihat berjalan di sekitar semak dan kebun sebelum akhirnya menjauh.
Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah, mengatakan pihaknya masih melakukan penelusuran terkait video viral itu untuk memastikan kondisi di lapangan.
“Kalau di narasinya disebut di Samuda. Dari pengamatan video, lokasinya seperti di ladang dan beruang berjumlah dua ekor, masih anaknya. Dari dua video yang beredar itu, lokasi pastinya masih kami telusuri,” ujarnya, Rabu (13/5).
Ia mengungkapkan, sebelum video kemunculan beruang dari Cempaga dan Samuda ramai beredar, pihaknya juga menerima laporan kemunculan beruang di Desa Kandan, Kecamatan Kotabesi sekitar sepekan lalu. Namun setelah sempat terlihat warga, beruang tersebut tidak muncul lagi dan diduga hanya melintas di kawasan itu.
“Di wilayah Desa Kandan setelah muncul sudah tidak terlihat lagi. Dugaan sementara memang hanya melintas,” terang Muriansyah.
Menurutnya, beruang umumnya akan menghindari manusia selama masih memiliki ruang untuk melarikan diri. Namun jika merasa terancam atau terdesak, hewan tersebut bisa berubah agresif.
“Kalau beruang merasa terancam dan terdesak, beruang bisa menyerang. Tapi selama masih bisa menghindar, biasanya mereka akan menjauh dari manusia,” paparnya.
Muriansyah menduga kemunculan beruang di sekitar permukiman terjadi karena satwa tersebut sedang mencari makanan. Kondisi itu juga menunjukkan adanya perubahan perilaku alami akibat terganggunya habitat.
Ia menjelaskan, beruang pada dasarnya merupakan hewan nokturnal yang lebih aktif pada malam hari. Sedangkan pada siang hari biasanya lebih banyak berada di sarang.
Selain kerusakan habitat, menurutnya musim kemarau juga disebut turut memengaruhi perilaku satwa liar tersebut. Saat sumber air dan pakan di dalam hutan berkurang, beruang mulai bergerak ke wilayah aktivitas manusia.
“Ketika kemarau, di habitatnya beruang kekurangan makan dan minum. Akhirnya keluar mencari sumber makanan baru,” tukas Muriansyah.
Menurutnya, kawasan kebun dan permukiman menjadi sasaran karena menyediakan banyak makanan yang mudah ditemukan, seperti buah nangka, nenas, rambutan, buah naga hingga cempedak milik warga. Tak hanya itu, sampah rumah tangga yang dibuang sembarangan juga bisa memancing beruang datang.
“Beruang juga memakan sisa sampah rumah tangga yang dibuang warga sembarangan,” imbuh Muriansyah.
Muriansyah menyoroti masih adanya kebiasaan warga membuang sampah di semak-semak belakang rumah maupun di tepi jalan, terutama di kawasan yang berbatasan dengan semak belukar seperti wilayah Kelurahan Baamang Barat.
“Di daerah dekat semak belukar masih ada warga yang membuang sampah sembarangan di belakang rumah atau pinggir jalan. Itu bisa memancing satwa itu datang,” tegasnya.
BKSDA mengimbau masyarakat agar tidak mendekati ataupun mencoba mengusir beruang secara langsung karena berisiko memicu serangan. Warga diminta segera melapor jika menemukan kemunculan satwa liar di sekitar lingkungan mereka.
Sementara itu pihaknya pun sudah beberapa kali memasang jebakan di beberapa lokasi kemunculannya, untuk mengevakuasi beruang-beruang itu. Namun hingga saat ini belum ada satu ekor pun yang berhasil masuk perangkap.
Menurut Muriansyah, sulitnya menangkap hewan buas itu lantaran pergerakannya sulit diprediksi dan sering kali hanya berpindah tempat dalam jangka waktu tertentu.(oes/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama