Perjalanan pria yang sudah kehilangan orangtuanya sejak remaja belia itu, dimulai dari langkah sederhana. Ia hanya bermodal berjalan kaki dengan sandal jepit lusuh menuju kantor Radar Sampit untuk mengambil koran, lalu menjualnya di jalan dekat lampu merah, di pasar dan di pusat keramaian lainnya.
“Dulu pertama kali kenal koran, satu hari laku satu eksemplar saja saya sudah senang,” kenangnya.
Namun seiring waktu, kehadiran Radar Sampit semakin dikenal dan dipercaya masyarakat. Berita-beritanya menjadi rujukan dan dicari banyak orang setiap hari.
“Begitu nama Radar Sampit mulai dikenal, penjualan koran saya terus naik. Dalam satu jam bisa habis 50 eksemplar,” ungkap Alfi yang akrab disapa “Kai” oleh para karyawan setempat.
Setiap hari, bahkan sebelum matahari terbit, Alfianur sudah memulai aktivitasnya. Subuh hari, saat sebagian orang masih terlelap, ia sibuk menyusun tumpukan koran yang baru selesai dicetak.
Dengan cekatan, ia mengatur, menghitung, lalu bersiap menyebarkannya ke berbagai sudut kota, dari rumah ke rumah, warung kopi, hingga perkantoran. Menjelang siang selesai mengantar koran, baru ia istirahat.
Aktivitasnya berlanjut di sore hari. Dengan berseragam serba hitam dan sepatu kulit hitam, Alfi bertugas menjaga kantor sampai tengah malam sebagai security. Tugas itu bergantian dengan dua orang rekannya.
“Dari dulu memang begitu. Subuh saya sudah harus jalan, supaya orang bisa baca koran pagi-pagi,” katanya.
Rutinitas itu ia jalani dengan penuh tanggung jawab. Baginya, mengantar koran bukan sekadar pekerjaan, tetapi bagian dari memastikan informasi sampai tepat waktu ke pembaca. “Kalau telat, pelanggan pasti komplain. Mereka sudah terbiasa menunggu,” ucapnya.
Konsistensi itu membawanya berkembang. Dari asongan di jalan, Alfianur kemudian menjadi loper tetap dan berani mengambil langkah besar dalam hidupnya.
“Setelah jadi asongan, saya coba jadi loper. Saya berani kredit motor untuk bantu kerja,” ujarnya. Keputusan itu membuka jalan bagi kehidupannya. Dari hasil menjual koran, ia mampu memenuhi kebutuhan hidup.
“Dari hasil Radar Sampit saya bisa kredit rumah, motor. Ya seperti orang-orang juga, cukup,” kata Alfi yang mengaku tak pernah mengenyam pendidikan formal ini.
Namun demikian, kegigihannya untuk maju dan berkembang patut diacungi jempol.
Seiring perkembangan teknologi, ia memahami cara masyarakat mengakses informasi memang semakin beragam. Bagi Alfianur, Radar Sampit tetap memiliki tempat tersendiri di tengah masyarakat.
“Sekarang memang banyak yang baca lewat HP. Tapi koran tetap dicari, karena informasinya bisa dipercaya, Saya bertahan, saya syukuri saja. Inilah rezeki saya,” ungkapnya.
Selain tetap menawarkan koran versi cetak, ia juga menawarkan koran versi elektronik kepada pembaca yang ingin berlangganan.
Dan selama masih ada yang menunggu kabar setiap pagi, langkahnya akan terus berjalan, membawa berita, menjaga kepercayaan, dan menjadi bagian dari perjalanan panjang Radar Sampit. (ang/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama