Di tengah denyut perdagangan dan padatnya permukiman Jalan Darmosugondo No 67, Kelurahan Pahandut, Kecamatan Pahandut, Palangka Raya, berdiri masjid Nurul Hikmah yang tak sekadar menjadi tempat ibadah. Masjid itu diyakini yang tertua di Kota Palangka Raya.
--------------------------------
Masjid ini didirikan pada 1962 Masehi oleh ulama asal Kalimantan Selatan, Muhammad Madjedi. Masjid ini menjadi pusat dakwah dan syiar Islam pertama di wilayah yang saat itu masih dalam fase awal pertumbuhan. Dari sinilah, geliat perkembangan Islam di Bumi Tambun Bungai mulai berakar kuat.
Awalnya, bangunan itu hanyalah sebuah musala atau langgar sederhana berukuran 25x35 meter. Dindingnya terbuat dari kayu, lantainya papan, dan atapnya dari tumpukan daun pelepah kelapa (kajang). Tempat wudu pun masih berupa kolam biasa. Airnya diambil langsung dari Sungai Kahayan di kawasan Pelabuhan Rambang oleh para pemuda dan warga sekitar.
Kala itu, kawasan yang dulu disebut Palangkasari itu merupakan pusat ekonomi dan permukiman para pedagang pendatang dari Banjarmasin, Amuntai, hingga Martapura. Aktivitas perdagangan tumbuh pesat, namun pembinaan keagamaan belum berkembang signifikan. Kehadiran KH Muhammad Madjedi menjadi titik balik.
Tokoh masyarakat setempat, H Ridhani menuturkan, kedatangan sang ulama ibarat cahaya di tengah kegelapan. “Beliau datang membawa semangat dakwah. Mengajak masyarakat salat berjamaah, membina ukhuwah, dan perlahan membangun fondasi keislaman di Palangka Raya,” ujarnya, yang juga wakil ketua pengurus masjid.
Ia melanjutkan, tak lama setelah menetap, KH Muhammad Madjedi memprakarsai pembangunan Masjid Nurul Hikmah. Sambutan masyarakat luar biasa. Dengan pendekatan yang arif dan penuh keteladanan, ia mampu merangkul warga untuk bersama-sama membangun rumah ibadah dan menegakkan salat berjamaah secara rutin.
Seiring bertambahnya jumlah muslim, khususnya para pendatang yang menetap di Palangkasari, kapasitas musala tak lagi mencukupi. Pada akhirnya, langgar sederhana itu ditingkatkan statusnya menjadi masjid. Letaknya tetap di jantung kawasan perdagangan, diapit Jalan Banda dan Jalan Bali.
Perjalanan Masjid Nurul Hikmah terbilang panjang dan penuh dinamika. Sejak berdiri pada 1962 hingga 2010, masjid ini telah mengalami beberapa kali perombakan dan perbaikan demi kenyamanan jamaah. Seluruh pembiayaan diperoleh dari swadaya masyarakat dan dukungan pemerintah.
Penggalangan dana dilakukan dengan cara khas lelang amal. Sebuah tradisi yang bukan sekadar mencari biaya pembangunan, tetapi juga mempererat kebersamaan warga.
Ujian berat datang pada 2013, saat kebakaran besar melanda kawasan Palangkasari dan menghanguskan bangunan masjid. Namun semangat warga tak padam. Masjid kembali dibangun di lokasi yang sama, berdiri lebih kokoh dan representatif hingga sekarang.
Katanya, Masjid Nurul Hikmah bukan hanya tempat salat lima waktu. Di sinilah salat Tarawih, buka puasa bersama, peringatan hari besar Islam, hingga salat Idulfitri dan Iduladha rutin digelar. Masjid ini juga menjadi saksi perjalanan dakwah dan pembentukan karakter masyarakat muslim Palangka Raya.
Dari bangunan kayu beratap daun kelapa hingga menjadi masjid permanen di pusat kota, Nurul Hikmah mencerminkan transformasi sosial dan religius masyarakat setempat. Ia berdiri di tengah denyut ekonomi, menjadi penyeimbang antara aktivitas duniawi dan spiritual.
Kini, lebih dari enam dekade setelah didirikan, Masjid Nurul Hikmah tetap menjadi simbol awal tumbuhnya Islam di Palangka Raya. Di tengah modernisasi kota, masjid ini menyimpan jejak sejarah panjang tentang perjuangan, kebersamaan, dan cahaya dakwah yang tak pernah padam.
“Menjadi masjid tertua di Palangka Raya, bahkan Kalimantan tengah.Tahun 1962 masehi oleh ulama asal kalimantan Selatan KH Muhammad Madjedi. Masjid itu bahkan pernah menjadi pusat dakwah dan kegiatan syiar Islam pertama di Kalteng, dan jadi saksi awal perkembangan Islam di Kalteng,” papar H Ridhani. (bersambung)
Editor : Agus Jaka Purnama