Tak Lagi Ramai, Pedagang Eceran Bersaing dengan Grosir
Menjelang meriahnya malam pergantian tahun 2024 ke 2025, pedagang terompet dan beragam jenis kembang api mulai ramai terlihat menjajakan dagangan mereka di sekitar Kota Sampit. Salah satunya di dekat kawasan Taman Kota.
Yuni Pratiwi Iskandar, Sampit
Dewi Murni, salah satu pedagang terompet dan kembang api yang mencoba peruntungan berjualan benda itu menjelang malam pergantian tahun 2024/2025, merasa omsetnya bakal menurun dari tahun-tahun sebelumnya.
"Biasanya di tahun-tahun lalu dari awal bulan berjualan sudah mulai ramai pembeli. Kalau tahun ini, baru pertengahan bulan ada pembeli yang mulai datang. Itu pun tidak seramai tahun lalu," ungkapnya, saat ditemui, Sabtu (28/12).
Dirinya menduga penurunan penjualan tahun ini disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah banyaknya masyarakat yang memilih berliburan ke lokasi wisata, hingga ke luar kota untuk menyambut malam pergantian tahun. Terlebih di tahun ini moment pergantian tahun bersamaan dengan masa libur sekolah.
"Mungkin uangnya terpakai untuk keperluan lain atau banyak yang sedang berlibur, jadi penjualan di sini menurun," imbuh Dewi.
Selain itu menurutnya, ada persaingan harga antara pedagang kembang api eceran dengan agen grosir, juga membuat keuntungan mereka semakin tipis. "Sekarang harga di pinggir jalan hampir sama dengan di agen. Selisihnya hanya sekitar Rp5.000. Jadi, dari sisi keuntungan memang terasa turun," tuturnya.
Diungkapkannya pula, lesunya penjualan kembang api, lebih lesu lagi penjualan terompet yang di tahun-tahun lalu masih identik dengan penyambutan malam pergantian tahun. Terompet dijualnya dengan harga Rp20.000 hingga Rp25.000 per buah. Dewi juga mengaku tahun ini tidak menjual terompet berbahan kertas, karena musim hujan membuatnya cepat rusak.
Meski penjualan terompet tak menggembirakan, menurutnya kembang api tetap menjadi daya tarik utama pembeli. Menurutnya Jenis kembang api "roman 8" dan "kotak isi 100-shot" menjadi yang paling banyak dicari, terutama oleh anak-anak.
Harganya bervariasi, mulai dari Rp8.000 untuk gasing hingga Rp180.000 untuk kembang api jenis 8-shot atau petasan 8 tembakan. Salah satu kembang api yang paling populer di kalangan pembeli adalah jenis roman candle yang menghasilkan suara dan efek visual saat dinyalakan.
Sementara itu, Dewi pun berencana menghentikan penjualan terompet tepat pada malam pergantian tahun, tetapi dagangan kembang api akan tetap tersedia hingga beberapa hari ke depan setelah malam pergantian tahun. "Biasanya ada acara-acara tertentu yang masih membutuhkan kembang api meski tahun baru sudah lewat," tukasnya.
Meski penjualannya melambat, namun dengan semangat dan harapan, Dewi tetap optimistis bahwa perayaan tahun baru akan membawa kebahagiaan bagi dirinya dan semuanya “Semoga tahun depan lebih baik, baik untuk kami pedagang maupun masyarakat,” tuturnya.
Arul, salah satu warga Sampit yang setiap tahun rutin berkumpul bersama keluarga untuk menyambut pergantian tahun, mengaku selalu menyalakan kembang api panjang dengan ledakan yang cukup besar untuk merayakan momen itu.
Namun tahun lalu, perayaan itu meninggalkan cerita pahit ketika anaknya mengalami luka bakar akibat percikan kembang api.
"Tahun kemarin ada insiden kecil, anak saya terkena percikan kembang api, sampai luka bakar. Jadi tahun ini kami hanya membeli kembang api jenis air mancur yang percikannya kecil dan lebih aman," ujarnya, saat ditemui usai membeli kembang api di kawasan Taman Kota Sampit, Sabtu (28/12).
Menurut Arul, meskipun kembang api besar terlihat lebih spektakuler, keselamatan keluarga tetap menjadi prioritas. Ia pun memilih kembang api air mancur yang lebih sederhana tetapi tetap menghadirkan suasana meriah.
"Tadi saya beli kembang api jenis air mancur saja. Harganya juga cukup terjangkau, hanya Rp 8.000 per pak. Yang penting anak-anak tetap bisa menikmati suasana malam tahun baru dengan aman," pungkasnya.(*/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama