Radar Utama Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno Kalteng

Mengapa Orang Bisa Emosi hingga Banting dan Pukul Kaca? Ini Penjelasan Psikologis dan Komunikasinya

Usay Nor Rahmad • Kamis, 10 Juli 2025 | 18:30 WIB
Ilustrasi kaca meja pecah. (Dibuat dengan akal imitasi)
Ilustrasi kaca meja pecah. (Dibuat dengan akal imitasi)

Radarsampit.jawapos.com – Tak jarang kita menyaksikan atau membaca berita tentang seseorang yang mendadak mengamuk, membanting barang, bahkan memukul kaca.

Perilaku seperti ini kerap terjadi di ruang publik—kantor pemerintahan, rumah tangga, hingga forum-forum diskusi. Lantas, apa sebenarnya yang mendorong seseorang sampai kehilangan kontrol emosinya?

Dari sudut pandang psikologi dan komunikasi publik, ledakan emosi ini bukanlah hal sepele. Ada proses psikologis dan interaksi sosial yang kompleks di baliknya.

Psikolog klinis sekaligus Ketua Ikatan Psikolog Klinis Indonesia, dr. Rose Mini Agoes Salim, menyebut perilaku agresif seperti membanting atau memukul barang bisa menjadi gejala dari emotional dysregulation atau kegagalan dalam mengelola emosi secara sehat.

“Emosi marah yang ditekan atau tidak disalurkan dengan cara yang tepat bisa berubah menjadi ledakan yang destruktif,” jelas Rose Mini dalam seminar Regulasi Emosi di Tempat Kerja (UI, 2022).

Hal ini didukung oleh penelitian dari Gross & Thompson (2007) dalam jurnal Emotion Regulation: Conceptual Foundations, yang menjelaskan bahwa emosi yang tidak dikelola akan mencari jalan keluar melalui perilaku impulsif seperti berteriak, membanting barang, atau bahkan menyakiti orang lain.

Sementara, menurut dosen komunikasi Universitas Gadjah Mada, Dr. Arie Setyawan, kegagalan dalam menyampaikan atau memahami pesan bisa menjadi pemicu utama konflik yang berujung pada luapan emosi.

“Ketika komunikasi tidak berjalan dua arah—misalnya, seseorang merasa dipotong, disepelekan, atau tidak dihargai pendapatnya—maka respons yang muncul bisa sangat emosional,” jelasnya dalam forum diskusi Komunikasi dan Kekerasan Simbolik (UGM, 2021).

Fenomena ini juga dijelaskan dalam konsep noise in communication dari Shannon & Weaver’s Communication Model, yaitu ketika gangguan dalam komunikasi (entah karena ego, status, atau emosi) membuat pesan gagal diterima atau ditafsirkan secara tepat.

Perilaku meledak-ledak di ruang publik tidak selalu semata-mata karena emosi. Bisa juga karena dorongan menunjukkan dominasi atau kekuasaan.

Ini disebut dalam teori "symbolic violence" oleh Pierre Bourdieu, bahwa tindakan seperti membanting barang dapat menjadi pesan simbolik untuk menunjukkan superioritas atau tekanan psikologis terhadap pihak lain.

Dalam konteks politik atau lembaga formal, hal ini kadang terjadi karena individu merasa wibawa atau otoritasnya terganggu. Jadi, ledakan emosi menjadi bentuk pertahanan diri atau demonstrasi kekuatan.

Apa yang Bisa Dilakukan untuk Mencegahnya?

1. Literasi Emosi di Tempat Kerja
Organisasi bisa menerapkan pelatihan emotional intelligence (EI). Penelitian oleh Daniel Goleman dalam bukunya Emotional Intelligence (1995) membuktikan bahwa individu dengan EI tinggi cenderung mampu mengelola stres, konflik, dan tekanan dengan lebih sehat.

2. Komunikasi Asertif
Melatih cara berbicara secara jujur tanpa menyakiti perasaan orang lain. Asertivitas menghindarkan seseorang dari akumulasi emosi yang meledak.

3. Etika Komunikasi Publik
Perlu dibangun budaya diskusi yang sehat, mendengar sebelum menyanggah, serta tidak menyudutkan pihak lain di ruang terbuka. Ini menjadi tanggung jawab institusi dan pemimpin.

4. Konseling dan Mediasi
Jika konflik berulang, melibatkan konselor, HRD, atau pihak ketiga sebagai mediator bisa menjadi langkah bijak sebelum emosi meledak.

Perilaku membanting barang atau memukul kaca bukan sekadar ekspresi spontan. Itu adalah gejala dari konflik internal, kegagalan komunikasi, dan tekanan psikologis yang tak tersalurkan dengan sehat.

Dalam masyarakat yang semakin kompleks, penting bagi setiap individu terutama tokoh publik untuk belajar mengelola emosi dan membangun komunikasi yang lebih etis, terbuka, dan manusiawi. (*)

Editor : Slamet Harmoko
#pecah kaca #banting #orang emosi #emosi #ngamuk