JAKARTA, radarsampit.jawapos.com – Wacana pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 RI, Soeharto, mendapat dukungan yang makin nampak kuat dari berbagai lapisan masyarakat termasuk politisi, organisasi massa, dan akademisi.
Suara pro-usulan ini muncul bersamaan dengan perdebatan publik soal warisan sejarah dan bagaimana bangsa menghargai jasa para pemimpinnya.
Mukhamad Misbakhun yang kini menjabat sebagai Ketua Komisi XI DPR RI dan juga tercatat memimpin Depinas SOKSI menegaskan dukungannya.
Menurutnya, Soeharto bukan sekadar tokoh politik tetapi juga tokoh yang berperan dalam menjaga stabilitas serta mendorong pembangunan nasional.
”Kami menilai Jenderal Besar Soeharto adalah sosok yang ikut memperjuangkan, mempertahankan, sekaligus mengisi kemerdekaan Indonesia,” ujar Misbakhun.
Ketua DPP Partai NasDem Irma Suryani Chaniago juga setuju dengan usulan itu. Irma menyoroti aspek stabilitas politik dan capaian ketahanan pangan pada masa Orde Baru sebagai salah satu alasan melihat sisi positif kepemimpinan Soeharto.
”Bahkan Indonesia pernah swasembada pangan di era beliau,” katanya.
Dukungan tidak hanya datang dari politikus. Dari ranah akademik, Ni Made Adi Novayanti, Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi dan Bisnis Universitas Dwijendra mengimbau publik untuk menilai capaian sejarah secara objektif.
Dia mengingatkan agar konteks pencapaian pembangunan selama era kepemimpinan Soeharto tetap menjadi bagian penilaian.
”Terlepas dari kontroversinya, selama 32 tahun memimpin, Soeharto telah mencatat banyak prestasi yang berdampak besar bagi pembangunan nasional,” ungkap Novayanti.
Senada, I Gede Nandya Oktora dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana menekankan pentingnya menjaga memori bangsa terhadap jasa pemimpin terdahulu.
”Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pemimpinnya. Soeharto dikenal sebagai tokoh Pembangunan yang telah meletakkan fondasi penting bagi kemajuan Indonesia,” kata Nandya.
Sementara itu, hasil survei dan sejumlah petisi online menunjukkan adanya dukungan publik yang signifikan, namun tetap ada kontra. (*/ign)
Editor : Gunawan.