Radar Utama Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno Kalteng

Kasus PPOK dan TBC Tinggi, Dokter Ingatkan Bahaya Rokok dan Rendahnya Kepatuhan Berobat

Heny Pusnita • Minggu, 30 November 2025 | 21:14 WIB
MELAYANI: Dokter Muhamad Taufiqurrahman saat memberikan pelayanan kepada pasien di Klinik Paru RSUD dr Murjani Sampit, Sabtu (29/11).
MELAYANI: Dokter Muhamad Taufiqurrahman saat memberikan pelayanan kepada pasien di Klinik Paru RSUD dr Murjani Sampit, Sabtu (29/11).

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Meski sebagian besar perokok mengetahui bahaya rokok bagi kesehatan, menghentikan kebiasaan tersebut tetap menjadi tantangan besar bagi mereka yang sudah kecanduan.

Dokter spesialis paru RSUD dr Murjani Sampit, dr Muhamad Taufiqurrahman Sp.P, mengungkapkan bahwa kasus Tuberkulosis (TBC) dan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan penyakit yang paling sering ditangani di Klinik Paru rumah sakit tersebut.

“Kasus TBC, PPOK, bronkitis kronis, dan emfisema termasuk yang paling banyak kami tangani,” ujarnya, Sabtu (29/11).

Menurut Taufiq, PPOK umumnya disebabkan paparan jangka panjang terhadap iritan paru seperti asap rokok, asap kimia, polusi udara, dan debu lingkungan kerja.

“Merokok merupakan faktor risiko utama yang dapat menyebabkan kerusakan permanen pada saluran napas. Tidak hanya perokok aktif, perokok pasif juga berisiko tinggi mengalami PPOK,” jelasnya.

Selain rokok, PPOK juga dapat dipicu oleh paparan asap rumah tangga pada ventilasi buruk serta faktor genetik langka seperti kekurangan protein alpha-1-antitrypsin.

Gejala PPOK biasanya muncul setelah bertahun-tahun, ditandai dengan sesak napas, batuk berdahak, dan napas cepat.

Penyakit ini dapat menyebabkan kerusakan saluran pernapasan, kerusakan mukosa, bronkitis kronis, hingga kerusakan jaringan paru.

Dalam kondisi berat, PPOK bisa berkembang menjadi komplikasi jantung bernama cor pulmonale, yaitu pembesaran ventrikel kanan akibat tekanan tinggi pada arteri paru.

”PPOK adalah penyakit progresif dan tidak dapat disembuhkan. Pengobatan hanya untuk mengurangi gejala dan memperbaiki kualitas hidup, seperti menjaga pola hidup sehat dan lingkungan udara bersih,” katanya.

Taufiq menegaskan bahwa tidak ada tips instan untuk berhenti merokok selain kesadaran diri sendiri.

”Menasehati perokok untuk berhenti itu sulit. Semua kembali pada diri sendiri. Jika ada kemauan dan kesadaran untuk menjaga diri dan keluarga, kecanduan bisa dihentikan,” ujarnya.

Ia memahami bahwa kecanduan nikotin membuat perokok sulit lepas, tetapi perubahan kebiasaan tetap mungkin dilakukan.

”Biasanya setelah makan atau saat senggang langsung ingin merokok. Itu bisa diganti dengan mengunyah permen mint bebas gula. Yang penting ada proses mengurangi sedikit demi sedikit,” katanya.

Selain PPOK, Klinik Paru RSUD dr Murjani Sampit menangani 15–30 pasien per hari, termasuk banyak pasien TBC.

Menurut Taufiq, masih banyak pasien yang tidak menyadari mengidap TBC sampai kondisinya parah.

”Sering kali pasien baru berobat sebulan dan merasa membaik, lalu putus obat. Padahal pengobatan TBC harus rutin selama enam bulan agar benar-benar sembuh,” paparnya.

TBC disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menyebar melalui droplet ketika penderitanya batuk, bersin, atau berbicara.

”TBC sama berbahayanya dengan Covid-19. Jika parah bisa menyebabkan kematian. Masalahnya, kesadaran menggunakan masker masih rendah, baik pada pasien maupun keluarga,” ujarnya.

Taufiq menyebut Indonesia berada di peringkat kedua dunia untuk jumlah kasus TBC setelah India.

Sementara di Kotim, kasus terbanyak ada di Kecamatan MB Ketapang dan Baamang. Kebanyakan adalah TBC sensitif yang masih bisa diobati dengan regimen standar. Namun, resisten obat terjadi jika pasien pernah berobat tetapi tidak tuntas. (hgn)

 

Data Kasus TBC di Kalteng Berdasarkan SITB

2020: 2.855 kasus sensitif, 19 resisten

2021: 3.557 sensitif, 37 resisten

2022: 5.071 sensitif, 70 resisten

2023: 6.019 sensitif, 60 resisten

2024 (Jan–Jun): 2.776 sensitif, 47 resisten

 

 

Data kasus TBC di Kotawaringin Timur 

2020: 497 sensitif, 5 resisten

2021: 565 sensitif, 9 resisten

2022: 809 sensitif, 16 resisten

2023: 869 sensitif, 13 resisten

2024 (Jan–Jun): 411 sensitif, 2 resisten

Editor : Gunawan.
#RSUD Murjani Sampit