Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Sungai Mentaya, Urat Nadi Kehidupan Kotim yang Kian Terabaikan

Usay Nor Rahmad • Minggu, 27 Juli 2025 | 09:35 WIB
Seorang nelayan tangkap menjaring ikan di tengah kondisi air Sungai Mentaya yang kotor. (Dokumentasi Usay Nor Rahmad untuk Radar Sampit)
Seorang nelayan tangkap menjaring ikan di tengah kondisi air Sungai Mentaya yang kotor. (Dokumentasi Usay Nor Rahmad untuk Radar Sampit)

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Sungai Mentaya membelah jantung Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, seperti urat nadi yang mengalirkan kehidupan.

Selama puluhan tahun, sungai ini menjadi sumber penghidupan, jalur transportasi, hingga tempat bermain anak-anak di masa lampau.

Namun kini, perannya mulai tergerus. Di momen Hari Sungai Nasional yang jatuh pada 27 Juli ini, Sungai Mentaya justru menampilkan wajah lain: cantik dari kejauhan, memprihatinkan dari dekat.

Hari Sungai Nasional sendiri ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2011 tentang Sungai.

Peringatan ini rutin disuarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sebagai upaya membangkitkan kesadaran publik untuk menjaga ekosistem sungai yang sehat dan berkelanjutan.

Tahun ini, tema nasional yang diangkat adalah “Sungai Lestari, Lingkungan Sehat, Masyarakat Sejahtera.”

Sungai Mentaya sejatinya memegang peran besar dalam sejarah ekonomi dan sosial masyarakat Sampit.

Dahulu, perahu kelotok dan rakit kayu lalu-lalang membawa hasil bumi, ikan air tawar, hingga kebutuhan pokok.

Sungai menjadi urat transportasi utama ketika akses darat belum semudah sekarang. Pasar rakyat tumbuh di tepi sungai, dan kehidupan begitu lekat dengan alirannya.

Namun kini, cerita indah itu mulai pudar. Keruhnya air, tumpukan sampah plastik, hingga pencemaran limbah rumah tangga menjadikan Sungai Mentaya tak lagi sebersih dulu.

Beberapa titik bantaran sungai mulai tergerus ablasi. Aktivitas pertambangan dan pembukaan lahan di hulu turut memperparah kondisi aliran air yang dulunya jernih.

“Kalau hujan deras, air sungai cepat meluap. Warna air pekat, dan limbah rumah tangga ikut hanyut. Dulu anak-anak mandi di sungai, sekarang orang tua takut,” keluh Basuni, warga Kelurahan Baamang Hulu.

Sejumlah komunitas lingkungan di Kotim sebenarnya sudah melakukan berbagai inisiatif, seperti kegiatan susur sungai dan bersih-bersih bantaran.

Namun upaya itu masih sporadis dan sering kali tidak berkelanjutan karena minim dukungan kebijakan dan kesadaran kolektif.

Momen Hari Sungai Nasional mestinya bukan hanya seremoni tahunan. Ia harus menjadi pengingat bahwa sungai bukan tempat sampah, melainkan sumber kehidupan.

Jika tak segera direspons, bisa jadi beberapa dekade ke depan keindahan Sungai Mentaya hanya akan tinggal nama sekadar latar dalam cerita masa kecil orang tua kita.

Sudah saatnya pemerintah daerah, masyarakat, dan sektor swasta duduk bersama menyusun rencana penyelamatan Sungai Mentaya.

Bukan hanya untuk hari ini, tapi untuk masa depan. Sungai ini telah memberi banyak kepada kita. Sekarang, giliran kita merawat dan menjaganya. (*)

Editor : Slamet Harmoko
#sungai mentaya #hari sungai nasional #urat nadi #kotim