Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Mengapa Lagu-Lagu Lama Tetap Enak Didengar? Ini Kata Ahli Musik dan Psikolog

Usay Nor Rahmad • Minggu, 13 Juli 2025 | 16:45 WIB
Ilustrasi Musik Nostalgia (Akal Imitasi)
Ilustrasi Musik Nostalgia (Akal Imitasi)

Radarsampit.jawapos.com – Lagu lawas seperti Separuh Nafas milik Dewa 19 atau Kangen dari Dewa 19, bahkan tembang jadul milik Nike Ardilla, masih sering terdengar di kafe, radio, bahkan TikTok.

Tak sedikit generasi muda ikut menyanyikan, meski lagu-lagu itu rilis jauh sebelum mereka lahir. Tapi, kenapa ya lagu lama tetap terasa lebih “ngena” dibanding lagu baru?

Ternyata, ada penjelasan ilmiahnya. Baik dari sisi musikologi, psikologi, maupun budaya.

1. Pola Nada Lebih Sederhana dan Mudah Diingat

Dalam beberapa sumber menyebut bahwa banyak lagu era 80-90an hingga awal 2000-an memakai pola chord yang repetitif dan mudah diikuti.

“Lagu zaman dulu itu jujur. Tidak banyak permainan efek atau teknologi. Yang menonjol adalah kekuatan melodi dan lirik,” kata .

Lagu-lagu seperti Cinta Kan Membawamu Kembali milik Dewa 19 atau Sesuatu di Jogja dari Adhitia Sofyan menggunakan progresi akor yang sederhana. Ini membuat otak manusia lebih cepat menyerap dan mengingatnya.

2. Efek Nostalgia yang Menghangatkan

Menurut psikolog musik dari Universitas Indonesia, Intan Nurlita, mendengarkan lagu lama bisa memicu memori emosional.

Terutama jika lagu itu sering didengar saat momen penting, seperti masa sekolah, jatuh cinta pertama, atau saat hidup terasa lebih “sederhana”.

“Nostalgia adalah pelarian emosional yang sehat. Lagu jadul bisa menjadi semacam ‘tempat pulang’ secara psikologis,” jelas Ojan, salah seorang pecinta musik.

Musik menjadi semacam mesin waktu emosional. Cukup satu intro, langsung terbawa suasana masa lalu.

3. Lagu Lama Sering Direkam Live, Lebih “Manusiawi”

Banyak lagu lawas direkam secara live di studio. Tidak terlalu banyak editan. Ini membuat hasilnya lebih “mentah” dan manusiawi.

Hal ini berbanding terbalik dengan banyak lagu masa kini yang nyaris sempurna karena hasil olahan digital.

Menurut produser musik senior, Bemby Noor, “Lagu zaman dulu banyak direkam bareng-bareng satu ruangan. Feel-nya terasa lebih jujur. Pendengar bisa merasakan emosinya.”

4. Diputar Ulang di Berbagai Media Sosial

Media sosial ikut memperpanjang umur lagu-lagu jadul. TikTok misalnya, sering melambungkan kembali lagu lawas lewat video pendek dan tren nostalgia.

Bahkan, lagu Buih Jadi Permadani atau Sakit Gigi bisa viral kembali dan dinyanyikan lintas generasi.

Playlist Nostalgia Akhir Pekan Versi Jawa Pos

Coba dengarkan ulang lagu-lagu ini, siapa tahu bisa membangkitkan kenangan indah:

- Dewa 19 – Kangen
- Sheila on 7 – Dan
- Nike Ardilla – Bintang Kehidupan
- Iwan Fals – Bento
- Kla Project – Yogyakarta
- Slank – Terlalu Manis

Lagu lama bukan sekadar musik. Ia adalah memori yang tak lekang oleh waktu. Tak heran jika meski puluhan tahun berlalu, lagu-lagu itu masih tetap “nempel” di hati banyak orang.

Jadi, jika akhir pekan ini kamu sedang merasa rindu rumah, masa muda, atau sekadar ingin “pulang” sejenak ke masa lalu, nyalakan lagu-lagu jadul favoritmu. Nikmati, dan biarkan musik membawamu kembali. (*)

Editor : Slamet Harmoko
#Didengarkan #musik #enak #ahli #psikolog #nostalgia #lagu lama