Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Kesempatan Mudik Tak Selalu Datang Tiap Tahun

Usay Nor Rahmad • Jumat, 20 Maret 2026 | 16:10 WIB

 

Yuda, salah seorang pemudik dari Sampit, bersama sepeda motornya, sebelum memasuki kapal yang akan bertolak ke Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Sabtu (6/3/2026).
Yuda, salah seorang pemudik dari Sampit, bersama sepeda motornya, sebelum memasuki kapal yang akan bertolak ke Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Sabtu (6/3/2026).

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Arus mudik dari Sampit selalu menghadirkan kisah perantau yang akhirnya bisa kembali ke kampung. Bagi sebagian orang, mudik bukan hanya soal perjalanan panjang, tetapi juga tentang menuntaskan kerinduan yang selama ini tertahan.

Di tengah aktivitas calon penumpang yang bersiap berangkat di Pelabuhan Sampit, Senin (16/3), terlihat wajah-wajah penuh harap para pemudik. Mereka membawa tas besar, oleh-oleh, dan cerita perjuangan selama merantau di Kalimantan.

Salah satunya adalah Suyadi, pekerja kebun sawit yang merantau di Kabupaten Kotawaringin Timur. Tahun ini ia akhirnya bisa pulang ke kampung halamannya di Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah.

Bagi Suyadi, perjalanan mudik kali ini terasa sangat berarti. Selain untuk merayakan Hari Raya Idulfitri bersama keluarga, ia juga memiliki agenda penting yang membuat kepulangannya tidak bisa ditunda. 

“Ya, saya mudik. Selain momen Lebaran juga ada keperluan keluarga, rencananya anak saya mau menikah,” ujarnya.

Suyadi sudah cukup lama merantau di Kalimantan untuk bekerja di sektor perkebunan kelapa sawit. Selama itu pula ia harus menahan rindu terhadap keluarga yang berada jauh di Pulau Jawa.

Kesempatan pulang kampung tidak selalu datang setiap tahun. Ia mengaku biasanya hanya bisa mudik setiap dua hingga tiga tahun sekali, tergantung kondisi pekerjaan serta kemampuan keuangan.

“Biasanya dua tahun atau tiga tahun sekali mudik. Melihat situasi kondisi, yang jelas keuangannya juga diperhitungkan,” katanya.

Sebagai pekerja kebun sawit, kehidupan di perantauan sudah menjadi bagian dari kesehariannya. Ia menjalani pekerjaannya dengan tekun demi memenuhi kebutuhan keluarga.

Meski jauh dari kampung halaman, ia bersyukur selama bekerja di Kalimantan, khususnya di Kotawaringin Timur, situasi relatif aman dan kondusif.

“Kerja di kebun sawit. Kalau tantangan besar sih tidak ada. Alhamdulillah di Kalimantan, khususnya di Kotawaringin Timur aman-aman saja,” ucapnya.

Namun, bagi seorang perantau, yang paling berat sebenarnya adalah menahan rindu kepada keluarga. Momen Lebaran menjadi waktu yang paling dinantikan untuk kembali berkumpul.

“Ya jelas sangat bahagia. Karena setelah sekian lama tidak pulang pasti ada rindu sama keluarga,” tuturnya.

Menunggu Cuti Bertahun-tahun

Cerita serupa juga dialami Adi, seorang pekerja di salah satu tempat penjualan suku cadang alat berat di Jalan Kapten Mulyono, Sampit. Berbeda dengan Suyadi yang terkendala biaya dan waktu, Adi baru tahun ini bisa mudik karena akhirnya mendapat kesempatan cuti dari pekerjaannya.

Selama beberapa tahun terakhir, Adi selalu merayakan Lebaran di Sampit karena tidak mendapatkan cuti saat hari raya.

“Baru kali ini bisa mudik. Sebelumnya setiap Lebaran saya tetap kerja, jadi tidak pulang,” katanya.

Pria asal Madura itu sebenarnya sudah lama ingin kembali ke tanah kelahirannya saat Lebaran. Namun tuntutan pekerjaan membuatnya harus menunda keinginan tersebut.

Selama ini ia merayakan Idulfitri di Sampit bersama keluarga besar istrinya yang memang menetap Kotawaringin Timur. 

“Biasanya Lebaran di Sampit saja, kumpul dengan keluarga besar istri,” ujarnya.

Namun Lebaran tahun ini terasa berbeda. Untuk pertama kalinya, Adi membawa istri dan kedua anaknya pulang ke Madura untuk merayakan hari raya di kampung halamannya.

“Ini pertama kalinya juga anak-anak Lebaran di Madura,” katanya.

Perjalanan mudik tersebut menjadi momen yang sangat dinantikan oleh keluarganya. Selain bersilaturahmi dengan orang tua dan saudara di kampung halaman, ia juga ingin memperkenalkan anak-anaknya dengan keluarga besar di Madura.

“Sudah beberapa tahun tidak pulang, jadi pasti senang sekali bisa kembali,” ujarnya.

Makna Pulang bagi Para Perantau

Kisah Suyadi dan Adi hanyalah sebagian kecil dari cerita para perantau di Sampit yang akhirnya bisa pulang kampung saat Lebaran.

Bagi mereka, mudik bukan sekadar perjalanan jauh dari Kalimantan menuju Pulau Jawa. Di balik perjalanan itu tersimpan perjuangan panjang, mulai dari bekerja keras, menabung, hingga menunggu kesempatan cuti.

Namun semua rasa lelah tersebut terasa terbayar ketika akhirnya bisa kembali ke kampung halaman dan berkumpul bersama keluarga tercinta.

Bagi para perantau, pulang saat Lebaran selalu memiliki makna yang lebih dalam: melepas rindu, mempererat silaturahmi, dan merasakan kembali hangatnya suasana rumah yang selama ini hanya bisa mereka bayangkan dari kejauhan. (yit)

Editor : Heru Prayitno
#mudik #lebaran #sampit