Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Suasana Ramadan di Pondok Pesantren Al Marhamah,

Heny Pusnita • Sabtu, 28 Februari 2026 | 22:10 WIB

 SUASANA PESANTREN : Suasana Pondok Pesantren Al Marhamah saat Ramadan di Jalan Ir Soekarno KM 8, Senin (23/2). HENY/RADARSAMPIT
SUASANA PESANTREN : Suasana Pondok Pesantren Al Marhamah saat Ramadan di Jalan Ir Soekarno KM 8, Senin (23/2). HENY/RADARSAMPIT

Santri kelas akhir diperlakukan berbeda selama Ramadan. Tak dipulangkan ke rumah keluarga lebih awal, seperti adik kelasnya. Puluhan santri yang segera lulus dibekali ekstra ilmu keagamaan agar siap menyiarkan agama islam di lingkungan sekitar.


HENY, Sampit

Suasana Pondok Pesantren Al Marhamah siang itu, nampak sepi tak ada aktivitas. Lokasi yang jauh dari perkotaan, tepatnya di Jalan Ir Soekarno KM 8 (Lingkar Utara) membuat suasana pondok lebih syahdu tanpa kebisingan hiruk pikuk keramaian kota.

Suara adzan dzuhur berkumandang dari Masjid Jami Zainul Anwar. Santri putra terlihat keluar satu per satu dari bangunan ruang asrama berwarna hijau terang.

Bergerak menuju tempat wudu yang berada disisi kiri asrama. Suara gemericik air bersahutan. Diiringi dengan suara langkah kaki bergerak cepat menuju masjid berwarna putih biru.

Satu saf panjang terisi penuh, mereka bersiap menunaikan ibadah wajib salat dzuhur berjamaah.

Suasana pondok yang tadinya hening, kembali ramai dengan lantunan ayat suci Al Quran. Beberapa santri laki-laki duduk berkelompok memenuhi masjid, mengaji quran selepas salat dzuhur.

Tak jauh dari Masjid, Radar Sampit menghampiri kediaman Ketua Yayasan Panti Asuhan dan Pondok Pesantren Al Marhamah.

Muhammad Zaini Anwar mempersilakan masuk ke ruang tamu yang dilengkapi sofa kulit maroon.

Bekali Santri Ilmu Sebelum Lulus, Ramadan Jadi Momentum Penguatan Amalan Ibadah

Di ruang tamu yang tak terlalu luas itu, pandangan Radar Sampit langsung tertuju pada foto pigura besar sosok ulama tersohor asal Tunggul Irang, Martapura yang dikenal dengan nama Muhammad Zaini bin Abdul Gani atau akrab disapa Abah Guru Sekumpul yang mengenakan jas hitam sambil memegang tongkat di tangan kanannya.

Adapula foto KH Khoirul Anwar ayah dari Muhammad Zaini Anwar saat bersimpuh duduk dihadapan Abah Guru Sekumpul. Kedua tokoh ulama ini, sudah wafat dan hanya meninggalkan foto kenang-kenangan yang bisa disaksikan kepada setiap tamu yang singgah ke rumah M Zaini Anwar.

Zaini mengawali perbincangan dengan mengisahkan sejarah pendirian Panti Asuhan dan Ponpes Al Marhamah yang mulanya didirikan oleh ayahandanya, KH Khoirul Anwar.

Keberadaan panti asuhan Al Marhamah berawal dari gagasan almarhum KH Khoirul Anwar, yang ingin menyalurkan amanah zakat para jemaah kalangan pedagang secara tepat sasaran, khususnya bagi anak yatim dan piatu.

Sejak tahun 1992, panti asuhan mulai berdiri di atas tanah pinjaman dari salah satu jemaah di Jalan Tjilik Riwut. Kemudian pada tahun 2001 berdiri Pondok Pesantren Al Marhamah di Jalan Tjilik Riwut yang kini dikhususkan sebagai asrama putri. Sementara, Ponpes Al Marhamah untuk santri putra di Jalan Ir Soekarno didirikan pada tahun 2018 dan mulai beroperasi pada Juli 2019 yang saat itu diresmikan langsung oleh Sugianto Sabran Gubernur Kalteng Periode 2016-2025.

Saat ini, jumlah santri mencapai 405 orang, terdiri dari 127 santri laki-laki dan 278 santri perempuan yang menempati asrama terpisah di Jalan Tjilik Riwut.

Berbekal keilmuan yang dimiliki, dari keenam anak almarhum KH Khoirul Anwar, Zaini sebagai anak keempat dipercaya meneruskan kepemimpinan ayahandanya mengurus Ponpes Al Marhamah.

Zaini pernah mengenyam pendidikan di Ponpes Gontor Ponorogo pada tahun 2002 hingga 2006. Kemudian, mengabdi tugas selama dua tahun di Ponpes Gontor selama dua tahun.

Berkat dorongan amanat mendiang ayahandanya, Zaini mengikuti tes muqabalah (seleksi ujian wawancara) di Kampus Islamic University of Madinah.

Ponpes Gontor saat itu membuka kesempatan untuk umrah bersama sebagai salah satu syarat mengikuti ujian. Tahun 2007 ia berangkat umrah saat Ramadan bersama delapan peserta lainnya.

Setahun kemudian, hasil ujian tes diumumkan. Namanya, diterima sebagai penerima beasiswa di University of Madinah.

"Dari 50 peserta Indonesia yang ikut tes, hanya dua saja yang lulus. Saya dan Haidir teman saya. Awalnya saya juga tidak menaruh harapan tinggi, tetapi Abah yang meyakini kalau saya bisa lulus. Inilah bukti doa orang tua bisa mengalahkan segala keraguan dalam diri yang kita anggap tidak mungkin, mudah bagi Allah mengabulkannya," M Zaini Anwar, Ketua Yayasan Panti Asuhan dan Pondok Pesantren Al Marhamah, saat ditemui Radar Sampit, Senin (23/2).

Oktober 2008, Zaini berangkat dari Indonesia ke Madinah. Selama 4,5 tahun, pria kelahiran 30 Januari 1988 ini, menempuh pendidikan mengambil jurusan S-1 Dakwah Usuludin. Kemudian lulus, dan kembali pulang ke kampung halaman di Kota Sampit pada Maret 2013.

"Belajar di Madinah sangat saya syukuri. Lokasi kampus hanya berjarak 7 km dari kampus. Setiap kali ada bus yang antar jemput. Mendapat uang saku 840 riyal per bulan, asrama, keperluan makan minum semua ditanggung. Saya hanya fokus belajar saja," ucapnya.

Niatan melanjutkan pendidikan S-2 pernah ia inginkan, namun ayahandanya meminta pulang karena kerinduan terhadap sang anak yang sudah bertahun-tahun tak hidup berkumpul bersama.

"Abah meminta saya pulang. Dan, mulai tahun 2013 bantu mengurus pondok pesantren. Namun, setelah Abah wafat 15 Maret 2021, pengurusan Ponpes Al Marhamah Putra menjadi tanggungjawab saya dan Ponpes Putri diurus oleh Wardatul Gina adik saudara perempuan saya yang kelima," ujarnya.

Zaini berencana akan membangun asrama putri baru bersebelahan dengan asrama putra di Jalan Ir Soekarno di atas lahan seluas satu hektare.

Ia berharap Pondok Pesantren Al Marhamah bukan sekadar tempat menimba ilmu agama islam. Bulan suci Ramadan menjadi momentum pembinaan spiritual, penguatan akhlak, dan pembentukan karakter santri agar siap kembali ke masyarakat sebagai pemimpin keagamaan.

“Selama sebulan penuh Ramadan kami memprioritaskan ibadah di pondok pesantren. Tidak menerima undangan kegiatan di luar. Kalau ada donatur yang menyumbang makanan tentu kami terima dengan senang hati,” ujarnya.

Menurutnya, Ramadan bukan sekadar ritual ibadah, tetapi proses pembentukan karakter santri agar mengenal Allah, memahami ajaran agama, dan menata hati dengan akhlak yang baik.

“Ramadan adalah bulan beramal. Ilmu yang sudah dipelajari harus diwujudkan dalam amal,” kata Zaini.

Dengan pembinaan intensif sepanjang bulan suci, pesantren berharap para santri tidak hanya menjadi pribadi religius, tetapi juga mampu memberi manfaat bagi masyarakat ketika kembali ke lingkungan masing-masing.

Selama Ramadan, aktivitas santri berjalan dalam ritme ibadah yang ketat sejak dini hari hingga malam.
Kegiatan dimulai dengan sahur bersama, dilanjutkan pembacaan tarhim saat imsak, salat subuh berjamaah, wirid, dan halaqah Al-Qur’an. Setelah waktu syuruq berakhir, santri melaksanakan salat dhuha dan kemudian beristirahat.

Siang hingga sore diisi dengan salat zuhur dan asar berjamaah, dzikir sore, serta pembacaan Surah Yasin, Al-Waqiah, Al-Fattah, dan Al-Mulk. Santri juga mempelajari Kitab Risalah hingga pukul 16.00 WIB.

Menjelang berbuka, santri mengikuti dzikir dan wirid, membaca Yasin, Ratibul Haddad, tahlil, serta doa termasuk mendoakan keluarga yang telah meninggal dunia.

"Sore menjelang berbuka puasa para santri semangat membantu mempersiapkan hidangan berbuka puasa. Menu berbuka disiapkan oleh tim dapur pesantren, seperti bubur ayam, kurma, dan minuman segar," ujarnya.

Setelah salat magrib berjamaah dan makan malam, kegiatan dilanjutkan salat isya, salat tarawih 23 rakaat, dan tadarus Al-Qur’an.

Selama Ramadan, pembelajaran difokuskan kepada santri kelas akhir, yakni kelas 3 SMP dan 3 SMA. Sekitar 60 santri tingkat akhir tetap tinggal di pesantren selama bulan puasa. Tujuannya agar mereka memiliki bekal keilmuan saat kembali ke masyarakat.

Mereka dibimbing mengulang kembali praktik ibadah seperti tata cara wudu dan salat, membaca Al-Qur’an, adzan, hingga fardu kifayah seperti pengurusan jenazah.

“Harapannya santri yang keluar dari pondok mampu memimpin dan mengisi langgar atau masjid di kampungnya,” kata Zaini.

Selain itu, pembelajaran juga menekankan pemahaman fiqih, tauhid, akhlak, dan tasawuf, termasuk makna sahur sebagai amalan yang penuh keberkahan.

Menurutnya, Ramadan menjadi masa pengamalan ilmu yang telah dipelajari selama 11 bulan sebelumnya.

"Setiap ilmu dan amal yang dipelajari dengan benar akan melahirkan akhlak baik. Sebaliknya, jika tidak membuahkan kebaikan, berarti ada persoalan dalam hatinya," ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya konsistensi dalam beribadah. “Pesan dari almarhum Abah, selesaikan apa yang sudah dimulai, pasti akan menghasilkan sesuatu yang istimewa. Semua amalan harus dilakukan secara istiqamah diiringi dengan hati yang ikhlas,” ujarnya mengutip pesan almarhum ayahanda sang pendiri Ponpes Al Marhamah.

Pada 10 hari terakhir Ramadan, pesantren juga menggelar tahajud bersama, salat tasbih, dan salat hajat yang dapat diikuti santri maupun keluarga.

Santri kelas 1 dan 2 SMP dan SMA diliburkan mulai 15 Februari - 29 Maret 2026. Sedangkan, santri kelas 3 SMP dan SMA mulai diliburkan pada 25 Februari-29 Maret 2026.

"Selama Ramadan, santri tidak diperbolehkan pulang hingga Hari Raya Idulfitri. Terutama 14 santri yatim piatu tetap bertahan di pondok. Penggunaan telepon seluler juga dilarang, agar mereka bisa fokus belajar dan melaksanakan amalan ibadah tidak terganggu dengan dunia luar," ujarnya.

Untuk mengantisipasi permasalahan di ponpes, ia menerapkan aturan ketat untuk menjaga ketertiban, seperti kewajiban mengunci lemari, penggunaan tempat tidur terpisah, serta pengawasan kesehatan dan keamanan santri.

"Tantangan yang dihadapi santri umumnya terkait kehilangan barang, masalah pertemanan, hingga persoalan kesehatan. Namun semua dapat dicegah jika aturan dipatuhi. Jadi, lebih nyaman menjadi orang yang mudah diatur daripada tidak diatur,” ujarnya.

Santri yang lulus tidak langsung menerima ijazah, melainkan wajib menjalani masa pengabdian selama satu tahun. Selain itu, pesantren juga bekerja sama dengan sejumlah lembaga pendidikan Islam, termasuk Pondok Modern Darussalam Gontor, untuk mendatangkan tenaga pengajar pengabdian.

Saat ini terdapat sekitar 10 pengajar, termasuk lulusan internal pesantren serta tenaga dari berbagai pondok pesantren di Indonesia.

Terkait pembiayaan pendidikan, pesantren menerapkan sistem infaq bulanan sebesar Rp1 juta per santri yang mencakup biaya pendidikan, asrama, serta kebutuhan makan. Namun terdapat 14 anak yatim piatu yang digratiskan.

"Setiap penghujung Ramadan pesantren juga menerima dan menyalurkan zakat fitrah maupun zakat harta dari masyarakat," tandasnya. (hgn)

Editor : Slamet Harmoko
#ramadan #ponpes #pondok pesantren