Melihat dari Dekat Penanganan Karhutla di Taman Nasional Tanjung Putting


Bermalam di Lokasi, Jaga Pasokan Logistik Pemadaman Api
TNTP bukan sekadar hamparan hutan di Kalimantan, melainkan benteng kehidupan dan simbol kekayaan hayati Indonesia. Menjaganya adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas mereka yang berada di garis depan melawan api
------------------------------------------------------
Malam belum sepenuhnya tenang di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP). Setelah hampir seharian menyusuri hutan bersama para relawan, Bupati Kotawaringin Barat (Kobar), Nurhidayah, kembali ke dermaga untuk beristirahat sejenak di atas perahu. Waktu tersebut dimanfaatkan untuk menunaikan salat dan mengisi tenaga setelah menempuh perjalanan panjang di tengah medan gambut dan kepungan asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Seusai salat Magrib dan Isya, Nurhidayah kembali bergerak menyambangi Camp Pesalat untuk memastikan para relawan yang berjibaku menjaga kawasan konservasi tersebut mendapatkan dukungan yang memadai.
Di Camp Pesalat, sejumlah relawan terlihat beristirahat setelah menjalankan tugas di lapangan. Menariknya, perjuangan menjaga TNTP tidak hanya dilakukan kaum adam. Para perempuan juga mengambil peran penting, terutama membantu mengurus logistik dan menyiapkan konsumsi bagi personel yang bertugas.
Dalam suasana sederhana di tengah hutan, Nurhidayah berdialog langsung dengan para relawan, mendengarkan berbagai masukan sekaligus keluhan yang mereka hadapi. Percakapan itu membuka gambaran bahwa perjuangan memadamkan api tidak hanya membutuhkan tenaga di lapangan, tetapi juga dukungan logistik, makanan, kesehatan, dan sarana komunikasi yang memadai.
Baca Juga: Melihat dari Dekat Penanganan Karhutla di TNTP,Nurhidayah Ikut Merasakan Beratnya Perjuangan Relawan
Para relawan menyampaikan, kebutuhan logistik selama ini sebagian dipenuhi melalui donasi, sementara sebagian lainnya diperoleh dari posko karhutla. Mereka juga berharap variasi menu makanan dapat ditingkatkan dengan menyediakan ikan segar, tidak hanya mengandalkan ikan asin dan mi instan.
Namun, keterbatasan stok dan pendanaan menjadi kendala tersendiri. Selain kebutuhan konsumsi, relawan mengungkapkan perlunya perangkat komunikasi handy talkie (HT) untuk memudahkan koordinasi antarpersonel di lokasi. Menanggapi masukan tersebut, Nurhidayah turut mengoordinasikan kebutuhan komunikasi dengan pengurus Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI), termasuk upaya pemasangan repeater agar jangkauan komunikasi di kawasan tersebut lebih baik.
“Kita di Pesalat melakukan komunikasi dan menawarkan kepada relawan yang mau memeriksakan kesehatan,” jelasnya.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




