Catatan Perjalanan ke Timor Leste (1): Bertemu Presiden Josė Manuel Ramos Horta

Oleh Andriani SJ Kusni & Kusni Sulang
Perjalanan Kusni Sulang dan Andriani SJ Kusni ke Timor Leste pada Mei 2026 bukan sekadar perjalanan memenuhi undangan Presiden José Ramos Horta, tapi juga perjumpaan sahabat yang lebih dari dua dekade terpisah. Catatan perjalanan ini ditulis sebagai upaya menangkap sisi-sisi personal, pemikiran, dan pengalaman Kusni Sulang dalam mengikuti The Prezidente Horta Show.
Sebagai kontributor Harian Radar Sampit, sejak sepuluhan tahun lebih, dengan dua rubrik tetap yaitu rubrik kebudayaan Sahéwan Panarung dan Halaman Masyarakat Adat, kami merasa ada semacam tanggung jawab moral bagi kami untuk memenuhi permintaan Radar Sampit, yakni menulis catatan perjalanan ke Timor Leste.
Perlu dicatat bahwa tadinya undangan khusus dari Presiden Timor Leste, José Ramos Horta itu dialamatkan hanya kepada Kusni Sulang seorang sebagai penyair Dayak. Dengan berbagai pertimbangan untuk kepentingan jangka jauh dan pekerjaan-pekerjaan praktis jurnalistik, Kusni Sulang mengusulkan kepada Presiden agar ia bisa datang memenuhi undangan khusus tersebut dengan dua orang jurnalis dari Kalimantan Tengah, yaitu Andriani SJ. Kusni dari Harian Radar Sampit Jawa Pos Group dan Pebri Ayu Lestari dari Majalah Panutung Tarung, Palangka Raya. Usul ini disetujui oleh Presiden Timor Leste.
Tanggal 17 Mei 2026 kami bertiga memulai perjalanan ke Timor Leste menggunakan rute Palangka Raya – Jakarta, Bali dan Dili. Untuk sampai ke Dili memerlukan waktu dua hari dan mesti menginap di Den Paser.
Berikut adalah sebagian cerita perjalanan singkat kami ke Dili yang berlangsung dari 17 Mei sampai 21 Mei 2026.
Saya mengenal José Ramos Horta sejak lama. Lama, dihitung dari waktu Indonesia masih berada di bawah kendali Orde Baru pimpinan Jenderal Soeharto menyusul Tragedi September 1965 yang membuat saya jadi pengembara menjelajahi benua demi benua planet kecil kita ini. Ramos dan kawan-kawan dari Fretilin, waktu itu juga mengalami penindasan berdarah dari kekuasaan yang sama dan berjuang untuk kemerdekaan Timor Leste. Ramos yang berjuang di dunia diplomasi untuk kemerdekan negerinya juga menjelajahi benua satu ke benua yang lain, termasuk Eropa Barat di mana saya menumpang berkemah. Kami menghadapi penindas yang sama, yaitu Orde Baru pimpinan Jenderal Soeharto. Artinya kami bertemu dalam keadaan sama-sama menderita. Kalau istilah menderita ini terlalu kers, katakanlah sama-sama dalam keadaan susah. Sama halnya ketika saya berkenalan dengan Gus Dur atau Abdurachman Wahid, yang kemudian juga menjadi Presiden, yaitu Presiden Republik Indonesia Ke-4. Sehingga sejauh ini, ada dua teman saya yang jadi presiden yaitu Gus Dur dan Ramos. Persahabatan kami jadinya diasuh oleh penderitaan panjang bersama ini. Kalau pepatah mengatakan ”Sahabat sesungguhnya adalah sahabat yang hadir saat diperlukan” (A friend indeed is a friend in need), persahabatan saya dengan Ramos adalah termasuk persahabatan demikian. Persahabatan tulus-setulusnya. Persahabatan yang dalam tradisi Dayak Katingan bisa dikategorikan sebagai persahabatan yang meningkat ke jenjang ”saudara melalui sumpah dengan darah” . Persahabatan dengan kualitas begini bagi Orang Dayak pantang dikhianati tanpa konsekwensi berat, bahkan sangat berat. Perwujudan kongkretnya tentu akan terlalu panjang jika dituturkan rinci.
Setelah keadaan politik di Indonesia dan Timor Leste sedikit membaik, Ramos dan saya meneruskan kegiatan masing-masing dan tidak pernah berjumpa lagi. Dari berita-berita media, saya mengetahui Ramos sebelum yang sekarang, pernah terpilih jadi Presiden Timor Leste, bahkan pernah terjadi upaya pembunuhan terhadap dirinya. Sedangkan saya melanjutkan pekerjaan saya, terutama sebagai pencinta sastra-seni, seseorang yang hanya punya kata-kata. Masih melanglangbuana benua demi benua, pulau demi pulang serta sungai-sungai dan hutan-hutan asing. Paling sedikit, kami tak penah saling bertemu dan saling berkabar selama 20 (dua puluh) tahun. Tapi kami percaya bahwa walau pun lama tak saling berkabar dan tak saling bertemu, masing-masing adalah sahabat yang tak akan pernah hilang. Sahabat Yang Tak Akan Pernah Hilang adalah istilah di kalangan kami untuk satu kategori kualitas sahabat dan persahabatan. Persahabatan dengan kualitas begini diperlukan oleh pekerjaan-pekerjaan mendasar-strategis serta jangka panjang.
Hingga sampailah pada suatu hari saya diberi tahu oleh teman saya Standy Christanto, Direktur Eksekutif Borneo Institute, sebuah LSM Dayak di Palangka Raya memberitahu saya melalui WA bahwa Presiden Timor Leste, José Ramos Horta mencari sahabatnya bernama Kusni Sulang. Setelah itu pemeritahuan serupa datang dari teman-teman yang tinggal di berbagai tempat. Pencarian Ramos dimulai dengan wawancaranya dengan Uni Lubis dari IDN News. Kemudian dilanjutkan oleh wartawan senior Tempo, Agung Sedayu yang mempunyai jaringan dengan Perry, Staf Kepresidenan Timor Leste di Dili. Ramos akhirnya mendapatkan alamat saya dan mengirim WA berikut:
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




