Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sudah Lima Tahun Lebaran di Tanah Rantau

Heru Prayitno
Penulis: Heru Prayitno❯

 


Advertisement

Nana Suryana
Nana Suryana

Nana Suryana, seorang perantau asal Jawa Barat yang kini bekerja sebagai Manajer Marketing di Aquarius Boutique Hotel Sampit. Sejak tahun 2019, ia merantau ke Sampit demi pekerjaan. Tahun ini menjadi tahun kelima baginya tidak bisa pulang kampung saat Lebaran.

Menurut Nana, keputusan untuk tidak mudik tahun ini bukanlah rencana sejak awal. Situasi pekerjaan membuatnya harus tetap berada di perantauan.

Advertisement

“Karena ada urusan pekerjaan yang belum bisa ditinggalkan,” ujarnya.

Menjalani Lebaran jauh dari keluarga tentu bukan perkara mudah. Tantangan terbesar yang ia rasakan adalah menahan rindu terhadap kebersamaan dengan keluarga di kampung halaman.

Baginya, momen Lebaran di rumah selalu memiliki suasana yang berbeda. Selain kebersamaan dengan keluarga besar, ada pula hal-hal sederhana yang paling dirindukan.

Advertisement

“Yang paling dirindukan itu makanan dan suasana di kampung,” katanya.

Perasaan haru kerap muncul ketika melihat orang lain bisa mudik dan berkumpul dengan keluarga. 

“Kadang merasa sedih ketika melihat orang lain bisa pulang,” ungkapnya.

Ada satu momen yang menurutnya terasa paling berat saat Lebaran di perantauan, yaitu ketika teringat kebiasaan berkumpul bersama orang tua dan keluarga besar. Tradisi itulah yang selama ini menjadi inti dari perayaan Lebaran.

Meski demikian, suasana Lebaran di tanah rantau tetap berusaha ia jalani dengan penuh kebersamaan. Bersama teman-teman sesama perantau, Nana tetap merayakan hari raya meskipun jauh dari keluarga.

Biasanya mereka memasak bersama dan berkeliling untuk bersilaturahmi dengan sesama teman di perantauan. Dari kebersamaan itu, muncul ikatan emosional yang kuat di antara mereka.

“Merasakan suka duka sesama perantau,” katanya, menggambarkan momen kebersamaan yang paling berkesan selama merayakan Lebaran jauh dari kampung halaman.

Di balik semua itu, harapan untuk bisa pulang tetap ia simpan. Nana berharap suatu saat dapat merayakan Lebaran bersama keluarga di kampung halaman.

Jika kesempatan itu datang, hal pertama yang ingin ia lakukan adalah bersilaturahmi dengan keluarga besar, kerabat, dan tetangga.

Bagi Nana, merantau memang penuh tantangan, tetapi juga mengajarkan arti kebersamaan dan saling mendukung. Ia pun menyampaikan pesan bagi para perantau lain yang juga tidak bisa mudik saat Lebaran.

“Semoga tetap semangat di perantauan, tetap kompak dan saling suport,” pesannya.

Lebaran di tanah rantau mungkin tak sehangat di kampung halaman. Namun bagi para perantau seperti Nana, kebersamaan dengan teman-teman senasib menjadi pengobat rindu, sekaligus penguat langkah untuk terus berjuang jauh dari rumah. (yit)

 

Advertisement
Editor : Heru Prayitno
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar SampitIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

 Hotspot Masih Terdeteksi, Potensi Hujan di Kotim Masih Ringan

Hotspot Masih Terdeteksi, Potensi Hujan di Kotim Masih Ringan

Berdasarkan data Stasiun Meteorologi Haji Asan Kotim, titik panas tersebar di enam desa pada lima kecamatan. Sebaran terbanyak berada di Kec

Kabut Asap Kembali Landa Sampit, Warga Keluhkan Bau Menyengat dan Mata Perih Lagi

Kabut Asap Kembali Landa Sampit, Warga Keluhkan Bau Menyengat dan Mata Perih Lagi

Kabut asap kembali menyelimuti Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Rabu (4/11/2026). Kondisi tersebut dikeluhkan warga

BKSDA Pantau Bagendang Tengah, Diduga Masih Ada Tiga Orangutan Berkeliaran

BKSDA Pantau Bagendang Tengah, Diduga Masih Ada Tiga Orangutan Berkeliaran

Berdasarkan laporan kepala desa dan masyarakat, diduga masih ada sedikitnya tiga individu orangutan lain di sekitar hutan dan semak belukar

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement

Populer