Radarsampit.jawapos.com - Dimarahi oleh atasan memang bukan momen yang menyenangkan. Rasanya campur aduk, mulai dari kaget, kesal, malu, hingga ingin membela diri saat itu juga.
Namun, merespons dengan emosi yang meledak-ledak biasanya justru akan memperburuk situasi profesional Anda.
Berikut adalah beberapa cara efektif untuk menahan emosi dan tetap tenang saat menghadapi teguran keras dari atasan:
1. Terapkan Aturan "Jeda 5 Detik" dan Tarik Napas Dalam
Saat dikritik, tubuh otomatis mengaktifkan mode fight or flight (melawan atau kabur) yang memicu lonjakan adrenalin.
Baca Juga: Dua Truk Tronton PT KIBA Dijarah Sopir Sendiri di Cempaga Hulu, Perusahaan Rugi Hampir Rp 100 Juta
- Tindakan: Sebelum Anda membuka mulut untuk merespons, ambil jeda selama 5 detik. Atur napas Anda: tarik napas dalam-dalam melalui hidung, tahan sebentar, lalu embuskan perlahan lewat mulut.
- Tujuan: Jeda ini memberi waktu bagi otak rasional Anda untuk mengambil alih kendali sebelum otak emosional telanjur melontarkan kata-kata yang memicu penyesalan.
2. Pisahkan "Pesan" dari "Cara Penyampaiannya"
Terkadang yang membuat kita sangat marah bukanlah inti masalahnya, melainkan nada bicara atau pilihan kata atasan yang bernada tinggi.
Baca Juga: Portal Akses Kebun Sawit di Cempaga Dirusak Kelompok Misterius
- Tindakan: Coba lakukan filtrasi mental. Singkirkan dulu bentakan, sindiran, atau nada ketusnya. Fokus hanya pada fakta dan data objektif dari apa yang dia keluhkan.
- Tanyakan pada diri sendiri: "Apa kesalahan kerja yang sebenarnya sedang dia bahas di sini?"
3. Jangan Langsung Memotong atau Membantah (Defensive)
Memotong pembicaraan saat atasan sedang emosi ibarat menyiram bensin ke dalam api. Meskipun Anda merasa berada di pihak yang benar, simpan dulu pembelaan tersebut.
Baca Juga: Ngamuk Bawa Mandau, Pemuda Bacok Ibu dan Anak di Palangka Raya
- Tindakan: Biarkan atasan menyelesaikan semua kalimatnya sampai tuntas. Dengarkan dengan saksama, jaga kontak mata yang netral (jangan melotot atau menunduk terlalu dalam), dan tunjukkan gestur mengangguk kecil sebagai tanda Anda menyimak.
4. Gunakan Bahasa Tubuh yang Terbuka
Tanpa sadar, saat merasa diserang, kita sering menunjukkan bahasa tubuh yang menantang atau menutup diri.
- Hindari: Melipat tangan di dada, mengepalkan tinju, mengetuk-ngetukkan kaki, atau memutar bola mata (eye-rolling).
- Lakukan: Jaga posisi tangan tetap santai di samping tubuh atau di atas paha (jika duduk), dan pastikan bahu Anda tetap rileks (tidak tegang).
5. Respons dengan Kalimat Netral dan Berfokus pada Solusi
Setelah atasan selesai bicara, jangan membalas dengan nada yang sama tingginya. Ambil kendali situasi dengan tetap tenang dan profesional. Anda bisa menggunakan template kalimat seperti ini:
- "Saya paham poin Anda, Pak/Bu. Maaf atas kekeliruan dalam laporan tersebut. Saya akan segera memperbaikinya dan memastikan hal ini tidak terulang kembali."
- "Terima kasih masukkannya, Pak/Bu. Boleh saya minta waktu nanti sore atau besok untuk mendiskusikan solusi terbaiknya setelah situasinya lebih tenang?"
Baca Juga: Bilal FC dan MHU FC Menang Telak di HNR CUP II 2026
6. Cari Tempat untuk "Rilis" Setelah Keluar dari Ruangan
Menahan emosi di depan atasan bukan berarti Anda harus memendamnya selamanya. Menimbun emosi justru bisa memicu stres berat.
- Tindakan: Setelah pertemuan selesai, izinlah ke toilet sebentar untuk membasuh muka, berjalan kaki ringan di sekitar kantor, atau ambil minum. Jika emosi masih sangat padat, Anda bisa menceritakannya (ventilasi) kepada rekan kerja tepercaya atau pasangan setelah jam kerja usai.
Satu hal yang perlu diingat: Teguran atau amarah atasan biasanya (dalam konteks profesional) ditujukan pada kinerja atau hasil kerja Anda, bukan harga diri Anda sebagai manusia. Jaga batasan mental tersebut agar Anda tidak terlalu memasukkannya ke dalam hati (don't take it personally).
Apakah saat ini Anda sedang menghadapi situasi spesifik seperti ini di kantor, atau sedang mempersiapkan diri untuk skenario tertentu? (*)
Editor : Farid Mahliyannor