Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Rest Area Kotabesi sebagai Etalase Kuliner Khas Daerah

Heru Prayitno • Sabtu, 6 Juni 2026 | 11:34 WIB
Ilustrasi Kotabesi menjadi rest area yang menyediakan produk lokal, kuliner khas, dan pusat edukasi budaya. (foto: gemini generated picture)
Ilustrasi Kotabesi menjadi rest area yang menyediakan produk lokal, kuliner khas, dan pusat edukasi budaya. (foto: gemini generated picture)

 

Kepada Yth. Bupati Kotawaringin Timur

Bapak Halikinnor

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

"Membangun daerah ibarat menenun kain; Setiap benang aspirasi warga adalah penguat bagi motif kemajuan yang ingin Bapak wujudkan."

Bersama surat ini, izinkan saya, Elina Alifia Callysta seorang pelajar SMPN 1 Kotabesi yang mencintai tanah ini, menyampaikan beberapa butir pemikiran yang lahir dari pengamatan terhadap dinamika masyarakat. Sejauh mata memandang, kami melihat jejak-jejak perubahan yang telah Bapak torehkan. Ibarat pelukis yang mengerjakan kanvas raksasa, warna-warna kemajuan mulai tampak nyata. Namun, layaknya sebuah lagu yang membutuhkan harmoni agar terdengar sempurna, izinkan saya menciptakan satu nada tambahan dalam melodi surat ini.

Maksud dari surat ini adalah untuk menyampaikan harapan dan saran mengenai beberapa hal yang sedang terjadi di kabupaten Kotim tercinta. Di balik kemajuan yang ada, saya melihat masih terdapat riak konflik yang jika tidak dimitigasi sejak dini, dapat menghambat visi besar Bapak untuk daerah ini. Berikut adalah beberapa poin yang saya usulkan:

  1. Identifikasi Wilayah secara Menyeluruh

Konflik di berbagai wilayah Kabupaten Kotim sering kali dipicu oleh kurangnya data akurat mengenai batas wilayah. Celah inilah yang memicu perselisihan. Oleh karena itu, kita memerlukan identifikasi wilayah secara menyeluruh. Tujuannya bukan hanya mencatat apa yang ada, tetapi memahami elemen di dalamnya untuk menentukan arah pembangunan yang lebih terstruktur.

Data yang sering saya temukan di beberapa laporan warga dan berita platform media sosial tersebut juga sangat krusial untuk menyelesaikan masalah yang baru-baru ini terjadi, seperti sengketa kewajiban plasma 20%. Ketidakjelasan batas lahan dan minimnya komunikasi perusahaan adalah akar masalahnya. Dengan data yang akurat mengenai daftar penerima plasma, dan batas lahan, masyarakat dapat memverifikasi informasi dengan jelas.

Selain itu, potensi wilayah seperti di kecamatan Kotabesi dapat dimaksimalkan. Sebagai "leher" penghubung Sampit dengan wilayah utara dari jalur lintas provinsi, Kotabesi berpotensi menjadi rest area (titik singgah terpadu). Tempat ini hendaknya tidak hanya menyediakan fasilitas dasar, tetapi menjadi etalase produk lokal, kuliner khas, dan pusat edukasi budaya. Dengan arsitektur yang menarik sehingga dapat menciptakan lapangan kerja baru dan tentu dengan perencanaan pembangunan yang maksimal.

  1. Perencanaan Tata Ruang dan Infrastruktur yang Memadai

Perencanaan tata ruang ibarat peta pembagian tugas agar pembangunan terarah. Meski pemerintah telah melakukan perbaikan, hingga tahun 2026 ini masih ada infrastruktur yang kurang memadai, seperti akses jalan yang rusak yang menghambat mobilitas warga.

Masalah lain adalah minimnya pemerataan energi. Di beberapa wilayah, kegelapan masih menghantui warga saat matahari terbenam. Contohnya di kecamatan tetangga kami yaitu Cempaga Hulu, daerah pedalaman pelantaran yang terkendala akses aliran listrik karena perizinan jalur kabel yang melewati area perkebunan sawit; anak-anak belajar dengan lilin dan akses internet sulit didapat. Begitu pula dengan ketersediaan air bersih. Tanpa air bersih, ancaman penyakit kulit dan diare akan terus menghantui masyarakat. Perencanaan yang matang sangat diperlukan agar masalah ini tidak menjadi beban berkelanjutan di masa depan.

  1. Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang Berkualitas

Wilayah yang maju tidak hanya dilihat dari bangunan fisiknya, tetapi juga kapasitas orang di dalamnya. Saya mengusulkan beberapa langkah untuk mencetak SDM berkualitas:

Demikian hasil pengamatan dan aspirasi ini saya sampaikan. Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Bupati yang telah meluangkan waktu untuk membaca surat ini. Besar harapan saya, Bapak melihat surat ini bukan sebagai selembar kertas biasa, melainkan sebagai detak jantung dan suara dari tanah yang kita pijak bersama.

Kepemimpinan Bapak adalah nahkoda bagi kapal besar daerah ini. Kami siap menjadi dayung yang bergerak selaras, selama arah kompas kita tetap tertuju pada kesejahteraan bersama. Semoga Bapak selalu diberi kekuatan untuk mengubah setiap keluh serta harapan kami menjadi karya nyata penuh inovasi. Sekian yang dapat saya sampaikan. Sebelum saya tutup, saya ada pantun;

"Ikan paus pandai menyelam, biru laut seperti kolam. Dari lubuk hati yang paling dalam, saya tutup surat ini dengan salam". 

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Hormat Saya,

 Elina Alifia Callysta

Pelajar SMPN 1 Kotabesi

 

Catatan redaksi: Rubrik ini dirancang sebagai ruang aspirasi, gagasan, dan suara hati pelajar untuk pemerintah daerah, khususnya Bupati Kotawaringin Timur. Surat terbuka ini berisi tentang pendidikan, sosial, ekonomi, budaya, lingkungan, kesehatan, teknologi, fasilitas publik, hingga mimpi para pelajar  terhadap masa depan Kotawaringin Timur.

 

Editor : Heru Prayitno
#Surat untuk Bupati Kotawaringin Timur #kotabesi