Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

 Fenomena Boti di Sampit Bukan Lagi Persoalan Kecil

Heru Prayitno • Kamis, 28 Mei 2026 | 07:20 WIB
Siswa SMKN 4 Sampit Gabriella Siagara didampingi Direktur Radar Sampit Siti Fauziah memberikan karangan bunga kepada Bupati Kotawaringin Timur H Halikinnor usai membacakan surat untuk Bupati Kotim di halaman Radar Sampit, 25 Mei 2026. (Foto: Prokom Pemkab Kotim)
Siswa SMKN 4 Sampit Gabriella Siagara didampingi Direktur Radar Sampit Siti Fauziah memberikan karangan bunga kepada Bupati Kotawaringin Timur H Halikinnor usai membacakan surat untuk Bupati Kotim di halaman Radar Sampit, 25 Mei 2026. (Foto: Prokom Pemkab Kotim)

Kepada Yth. Bupati Kotawaringin Timur

Bapak H Halikinnor

Dengan hormat, 

Saya menulis surat ini sebagai seorang pelajar yang merasa sedih, takut, dan prihatin melihat kondisi pergaulan remaja saat ini di Kota Sampit. Saya bukan ingin menghina siapa pun, tetapi saya ingin menyampaikan kenyataan yang benar-benar terjadi di lingkungan sekolah kami dan sudah menjadi pembicaraan banyak pelajar.

Saat ini fenomena “boti” atau laki-laki yang berperilaku menyerupai perempuan semakin terlihat terbuka di lingkungan remaja dan sekolah. Hal yang dulu dianggap aneh dan memalukan, sekarang perlahan mulai dianggap biasa. Kami melihat sendiri ada pelajar laki-laki yang berbicara dengan gaya perempuan, berjalan seperti perempuan, bersikap kemayu, menyukai aksesoris wanita, bahkan berpenampilan menyerupai perempuan di lingkungan sekolah.

Yang membuat hati saya sedih adalah keadaan ini seperti dibiarkan begitu saja. Tidak ada pembinaan yang benar-benar serius. Tidak ada perhatian khusus untuk membantu mereka memperbaiki diri. Bahkan sebagian siswa mulai menganggap perilaku seperti itu sebagai sesuatu yang normal dan lucu untuk ditonton.

Sebagai pelajar, saya merasa takut melihat perubahan lingkungan sekolah kami. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat membentuk karakter laki-laki dan perempuan yang baik justru perlahan kehilangan arah pembinaan moralnya. Kami takut generasi muda di Kotawaringin Timur akan semakin rusak karena pengaruh media sosial, budaya luar, dan lingkungan pergaulan yang salah.

Mengapa kaum seperti ini di sekolah dibiarkan dan tidak ditindak secara khusus, apakah dunia pendidikan karakter sekarang menurun drastis ?

Fenomena “boti” di Kota Sampit ini bukan lagi hal kecil. Di kalangan pelajar, kondisi ini sudah nyata terjadi dan semakin terlihat. Banyak anak muda mulai mengikuti gaya berbicara, gaya berpakaian, dan perilaku menyerupai perempuan karena dianggap keren, viral, atau mendapatkan perhatian di media sosial. Bahkan beberapa komunitas pergaulan remaja di Sampit juga ikut membawa pengaruh terhadap pola pikir anak muda sehingga mereka semakin berani menunjukkan perilaku tersebut di depan umum. 

Namun saya juga sadar bahwa anak-anak seperti ini sebenarnya membutuhkan perhatian dan arahan. Banyak dari mereka tumbuh tanpa pengawasan yang cukup, kurang perhatian keluarga, minim pendidikan karakter, dan terlalu bebas menerima pengaruh internet tanpa bimbingan yang benar.  

Karena itu saya berharap Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur tidak menutup mata terhadap kondisi ini. Kami berharap ada langkah nyata untuk menyelamatkan generasi muda, terutama di lingkungan sekolah.

Saya berharap pemerintah daerah dapat memperkuat pendidikan karakter dan akhlak di sekolah, memperkuat peran guru Bimbingan Konseling (BK), menghadirkan pembinaan khusus bagi siswa yang mengalami penyimpangan perilaku, serta memperbanyak kegiatan positif bagi remaja agar mereka tidak kehilangan arah dalam pergaulan.

Bapak Bupati yang saya hormati, tahukah bapak fenomena ini?

Saya juga berharap sekolah tidak hanya fokus mengejar nilai akademik, tetapi benar-benar memperhatikan moral, mental, dan perkembangan perilaku siswa. Jangan sampai sekolah hanya diam ketika melihat fenomena “boti” semakin terbuka dan dianggap biasa oleh para pelajar.

Sudah banyak saksi mata, bahkan saya sendiri merasa jijik bahkan keheranan ketika seorang boti alias bencong ini ada di lingkungan sekolah. 

Surat ini saya tulis karena saya masih peduli terhadap masa depan generasi muda di daerah kami sendiri. Saya tidak ingin beberapa tahun ke depan anak-anak muda di Kotim kehilangan jati dirinya dan menganggap perilaku menyimpang sebagai sesuatu yang normal.

Saya hanya ingin melihat sekolah kembali menjadi tempat yang sehat untuk membentuk karakter generasi muda yang baik, kuat mentalnya, sehat pergaulannya, dan mampu menjaga nilai budaya serta norma masyarakat yang selama ini dijunjung tinggi.

Atas perhatian Bapak, saya ucapkan terima kasih. Semoga senantiasa diberikan kesehatan dalam memimpin daerah tercinta ini.

Hormat saya,

Gabriella Siagara

(Siswa SMKN 4 Sampit) 

 

Catatan redaksi: Rubrik ini dirancang sebagai ruang aspirasi, gagasan, dan suara hati pelajar untuk pemerintah daerah, khususnya Bupati Kotawaringin Timur. Surat terbuka ini berisi tentang pendidikan, sosial, ekonomi, budaya, lingkungan, kesehatan, teknologi, fasilitas publik, hingga mimpi para pelajar  terhadap masa depan Kotawaringin Timur.

Editor : Heru Prayitno
#Boti #bupati kotawaringin timur #surat