Dibacakan Oleh : Dion Atharizz Gaizan Rabbani Wibowo
Asal Sekolah : SDN 2 Mentawa Baru Hulu
Penulis Naskah : Cahya Zebina Oz Shira
Coba kalian bayangkan berdiri di tengah hutan, tapi tidak ada pohon yang rimbun. Rasanya panas sekali, bukan? Nah, itulah yang dirasakan oleh Arung, Si Orang Utan Kalimantan.
Di tepian Sungai Mentaya, ada seekor orangutan bernama Arung. Arung sangat aktif di hutan, ia sering melompat dari pohon ke pohon untuk mencari makan. Tubuhnya yang besar, membuat ia memiliki porsi makan yang lebih banyak dibanding hewan lainnya.
Suatu hari, Arung menghela nafas panjang. Tangannya mengibas-ibas di depan wajah, berharap ada angin yang lewat. Sedari pagi ia tidak menemukan satu buah pun di hutan itu, ditambah dengan cuaca yang panas membuat ia semakin lemas.
"Aduh… lapar sekali... kemana perginya buah-buah di hutan ini?" gumamnya lemas sambil melihat pohon-pohon yang sudah gundul.
Beberapa hari belakangan ia sering melihat manusia mendatangi hutannya dan mengambil pohon-pohon tempat ia mencari makanan. Ia tak berani bertindak, yang ada nanti dia yang punah!
Tiba-tiba, Angin besar datang dari kepakan sayap burung raksasa. Namanya Datu Tingang. Ia merupakan tetua hutan seberang. Dia turun dari langit membawa kabar gembira.
"Arung," panggil Datu Tingang
“Mengapa engkau murung sekali?” Tanya Datu setelah menyaksikan Arung seperti tidak memiliki semangat hidup.
“Datu… Lihat hutanku. Tidak ada pohon… tidak ada buah yang tersisa. Aku sangat lapar” Ujar Arung dengan lemas.
"Wah, wah... Datu punya kabar baik untukmu.”
“Kabar baik? Apa itu Datu?” Wajah Arung berubah penasaran.
“Datu tahu satu tempat rahasia. Buahnya lebat, airnya jernih. Tapi, gerbangnya terkunci. Nah… kebetulan Datu sedang membuat lomba, yaitu Lomba Membuat Tampah Beras. Tampah beras dari rotan paling rapi dan kuat, dia yang dapat kuncinya!"
Seketika Arung menjadi semangat sekali! Dia langsung menyetujui lomba itu dan menyeberang sungai bersama Datu Tingang. Arung mengumpulkan rotan di sekeliling hutan. setelah dirasa cukup banyak, ia mulai menganyam. Tangannya yang besar itu mulai bergerak lincah. Memiliki tangan yang besar pun tidak menghentikannya, Arung sangat telaten menganyam rotan itu.
Namun, tanpa Arung sadari ada seekor kancil yang dari tadi mengamatinya. Namanya Isen.
“Sejak kapan orang utan itu bisa menganyam!” gumamnya dari kejauhan.
Ia iri melihat Arung yang ternyata jago menganyam. Sedangkan, ia hanya memiliki tangan kecil yang masih sering bergetar saat menganyam. Ketika sedang mengamati Arung, ia terpikir sesuatu.
Arung merasa tangannya mulai pegal. ia memutuskan untuk beristirahat dan pergi mencuci muka di tepi sungai mentaya. Dengan perlahan, Isen mengendap-endap mendekati anyaman Arung. Ia menukar rotan pilihan Arung dengan rotan yang sudah busuk dan rapuh.
“Hahaha! Rasakan ini Arung!” Ujar Isen sebelum ia pergi jauh-jauh.
Arung kembali dari sungai dan kembali melanjutkan anyamannya. Ketika sudah hampir selesai, tiba-tiba tampah berasnya hancur berkeping-keping!
"K-kok bisa! pa…padahal tadi kuat sekali...!" Arung sedih melihat usahanya sia-sia. Ia tahu pasti ada yang dengan sengaja melakukan ini. Dari kejauhan Isen tertawa,
"Hahaha! Arung, Arung... kamu tidak akan bisa menang!"
Tiba-tiba, Langit yang tadinya panas berubah menjadi gelap. daun-daun beterbangan, Hujan badai turun deras sekali! Sungai Mentaya yang tadinya tenang berubah jadi ganas. arus airnya kencang bukan main. Isen dengan badan kecilnya, tidak kuat menahan arus. Dia terpeleset dan hanyut terbawa ombak sungai yang deras! "Tolong! tolong aku! Aku tenggelam!"
Arung yang melihat itu langsung mengambil sisa-sisa rotannya, diikatnya sekuat tenaga menjadi tali darurat, lalu dilempar ke arah Isen. "Pegang talinya, Isen! Cepat!" teriak Arung.
Dengan tenaga yang sangat kuat, Arung menarik Isen naik ke daratan. Isen batuk-batuk dan hanya bisa menunduk malu, akhirnya ia mengaku,
“Arung… Maafkan aku! akulah yang sudah menukar rotanmu dengan yang rusak…! aku iri kepadamu… aku menyesal!” ujarnya terisak tangis.
Arung yang mendengar itu hanyar bisa menghela napas, “Sudah, sudah, tak apa, Isen. yang penting kamu selamat”
Datu Tingang yang sedari tadi memperhatikan mereka, terbang turun mendekat. Dia melihat tampah Arung yang sudah hancur di tanah. "Arung, tampahmu hancur. Kenapa kamu malah menyelamatkan Isen yang sudah mencurangimu?"
Arung mengusap air hujan di mukanya. "Datu... tampah bisa saya bikin lagi kalau ada rotan. Tapi kalau Isen hanyut, saya nggak akan punya teman lagi di hutan ini, Datu."
Datu Tingang tersenyum bangga. Dia lalu menjatuhkan kunci emas dari paruhnya tepat ke tangan Arung. "Pemenang itu bukan yang punya barang paling bagus, tapi yang punya hati paling luas. Kunci ini milikmu, Arung."
Dengan kebesaran hatinya, Arung membawa Isen untuk masuk ke hutan buah itu bersama-sama sebagai sahabat baru.
Sejak saat itu Arung dan Isen berjani kepada Datuk Tinggang untuk menjaga alam dan hutan buah dengan cara menanam pohon agar hutan mereka tidak tandus.(*)
Editor : Agus Jaka Purnama