PALANGKA RAYA,radarsampit.jawapos.com-Berbagai upaya disertai dengan tambahan personel pemadaman serta peralatan telah dilakukan, untuk meredam meluasnya karhutla dalam sepekan terakhir. Namun, kebakaran lahan masih saja mengepung sejumlah wilayah perkotaan, baik di Palangka Raya dan Kota Sampit di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Jumat (4/9).
Di Palangka Raya kemarin, dalam sehari, karhutla terdeteksi di sedikitnya empat kecamatan. Kondisi paling mengkhawatirkan terjadi di kawasan Jalan Nagasari, sekitar Jalan Tjilik Riwut Kilometer 11, Kelurahan Bukit Tunggal, Kecamatan Jekan Raya. Kebakaran di kawasan tersebut bahkan telah berlangsung selama berminggu-minggu dan melanda lahan hingga puluhan hektare. Warga bersama petugas pemadam terpaksa melakukan penanganan secara swadaya karena keterbatasan personel dan peralatan.
Ketua Pemadam Nagasari Dawam mengatakan, kawasan yang terdampak berada di sekitar permukiman warga. Tim pemadam bersama warga bahkan harus berjaga hingga 24 jam untuk mengantisipasi api kembali berkobar.
“Kami memadamkan swadaya. Jalan Nagasari ada 300-an rumah,” katanya, Jumat (4/9).
Tak hanya membakar lahan, kobaran api juga menghanguskan sejumlah bangunan, di antaranya pondok dan sarang burung walet. Dawam menyebut, puluhan hektare lahan telah terbakar di kawasan tersebut.
Keterbatasan air menjadi salah satu kendala utama. Kondisi itu membuat petugas dan warga harus memanfaatkan peralatan seadanya. Bahkan, dahan dan daun digunakan untuk membantu memadamkan api. “Sudah puluhan hektare terbakar. Sampai sekarang belum ada warga yang mengungsi,” tambahnya.
Mengantisipasi kebakaran meluas ke kawasan lain, patroli juga dilakukan selama dua malam berturut-turut. Warga dan petugas terus memantau titik-titik yang masih mengeluarkan asap.
Baca Juga: Sudah Tiga Kali Pemkab Kotawaringin Barat Memperpanjang Status Tanggap Darurat Karhutla
Karhutla juga terjadi di Jalan Mahir Mahar, Kelurahan Bukit Tunggal, Kecamatan Jekan Raya. Kapolsek Pahandut AKP Iyudi Hartanto bersama personel langsung menuju lokasi setelah menerima informasi kebakaran.
Petugas mendapati bara api masih membakar lapisan tanah gambut. Pemadaman dan pendinginan dilakukan untuk mencegah bara kembali menjadi api dan merambat ke lahan di sekitarnya.
“Personel melakukan pemadaman dan pendinginan secara maksimal, terutama pada titik-titik yang masih terdapat bara api dan kepulan asap,” ujar Iyudi.
Pemadaman menggunakan mesin pompa dengan memanfaatkan air dari sumur bor di sekitar Polsubsektor Jekan Raya. Namun, kondisi gambut, bara yang berada di titik sulit dijangkau, serta angin kencang membuat proses penanganan tidak mudah.
Penanganan di lokasi tersebut turut dipantau Dir Sabhara Polda Kalteng Kombes Pol Viddy Dasmasela. Mereka berkoordinasi dengan Satgas Siaga Karhutla Kota Palangka Raya, BPBD, dan relawan.
Di Kecamatan Sabangau, titik api terdeteksi di Jalan Tabat Kalsa, Kelurahan Sabaru. Polsek Sabangau bersama Masyarakat Peduli Api (MPA), turun ke lokasi untuk memadamkan.
Kapolsek Sabangau Iptu Agung Setiyanto mengatakan, mereka menggunakan mesin pemadam dengan mengambil air dari parit sekitar lokasi. Namun, kondisi parit yang hampir mengering menjadi kendala tersendiri.
“Personel bersama MPA langsung melakukan pemadaman di titik hotspot. Karena lokasi sulit dijangkau mesin pemadam, sumber air dari parit yang hampir mengering dimanfaatkan untuk membantu proses pemadaman,” jelasnya.
Sementara itu, di Kecamatan Rakumpit, karhutla terjadi di Jalan Tumbang Talaken Km 73, Kelurahan Petuk Barunai. Tiga personel Polsek Rakumpit bersama seorang warga diterjunkan untuk melakukan pemadaman sekaligus penyekatan.
Kapolsek Rakumpit Iptu Didik Suhardianto mengatakan, penyekatan dilakukan untuk mencegah api merambat ke lahan di sekitarnya.
“Rekan kami melakukan pemadaman dan penyekatan untuk mencegah api meluas, dengan tetap memperhatikan kondisi serta keselamatan selama berada di lokasi,” katanya.
Petugas menggunakan mesin alkon. Kondisi lahan yang didominasi granit, pasir, dan semak belukar kering menjadi tantangan. Ditambah lagi, ketersediaan air di lokasi sangat terbatas.
Meski demikian, petugas berhasil melakukan penyekatan sehingga api tidak merambat ke lahan lain yang berbatasan dengan parit. Penanganan berikutnya dikoordinasikan dengan Posko Lapangan Terpadu Karhutla Kecamatan Rakumpit.
Deteksi dini juga dilakukan di Kecamatan Bukit Batu. Polisi mengecek informasi hotspot di kawasan Jalan Tjilik Riwut Km 23, Kelurahan Marang.
Kapolsek Bukit Batu Ipda Muhammad Hafiizh Ramadhan mengatakan, setiap laporan mengenai titik panas harus segera ditindaklanjuti dengan pengecekan lapangan.
“Setiap informasi titik hotspot harus segera ditindaklanjuti dengan pengecekan langsung di lapangan sebagai langkah deteksi dini dan pencegahan agar kebakaran tidak meluas,” tegasnya.
Dari hasil pengecekan, ditemukan kebakaran lahan sekitar enam kilometer dari muara Jalan Tjilik Riwut Km 23. Lokasi yang cukup jauh dari permukiman dan minim sumber air menjadi kendala dalam penanganan.
Bhabinsa Bukit Tunggal Suyatno mengungkapkan, petugas bersama warga terus berupaya mengendalikan api. Kepungan asap dan keterbatasan peralatan membuat pemadaman semakin berat.
Dalam kondisi tersebut, petugas bahkan memanfaatkan daun dan dahan untuk membantu memadamkan kobaran api.“Kami akan terus berupaya,” tandasnya.
Sementara itu di sekitar Kota Sampit Kabupaten Kotim, kebakaran lahan juga masih terjadi, kendati dengan intensitas yang menurun. Salah satunya di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, yang berada dalam lingkar kota, beberapa titik kebakaran lahan sempat membuat warga panik.
Di Kecamatan Parenggean,s ebanyak 60 personel gabungan disiagakan untuk mempercepat penanganan kebakaran di sejumlah wilayah yang masih rawan terbakar.
Wakil Ketua DPRD Kotim, Juliansyah, saat menghadiri Apel Siaga Karhutla di Kantor Kecamatan Parenggean mengungkapkan, dalam dua hari terakhir titik api di wilayah itu mulai berkurang. Kondisi tersebut tidak lepas dari pengerahan kekuatan secara maksimal, baik personel maupun peralatan pemadaman.
“Kita kerahkan kekuatan maksimal. Ada sekitar 60 orang yang tergabung, mulai dari tim kecamatan, relawan, sampai dukungan dari perusahaan dan dunia usaha di wilayah Parenggean,” paparnya, Jumat (4/9).
Menurutnya, penanganan Karhutla tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Seluruh unsur harus bergerak bersama, terutama karena kondisi cuaca masih kering dan belum menunjukkan tanda-tanda hujan.
Dari sisi peralatan, Juliansyah menyebut sejumlah kebutuhan di lapangan terus dilengkapi. Dukungan dunia usaha juga dimaksimalkan untuk memenuhi peralatan yang masih kurang.
“Kalau dari segi peralatan sudah kita perkuat. Kita maksimalkan apa yang masih kurang. Tadi kami langsung keroyokan untuk melengkapi, termasuk juga dunia usaha di wilayah Parenggean,” imbuhnya.
Kendala lain yang dihadapi tim di lapangan adalah keterbatasan sumber air. Kekeringan mulai melanda sejumlah wilayah sehingga pencarian sumber air untuk pemadaman menjadi semakin sulit.
“Cuaca sampai sekarang belum ada tanda-tanda hujan. Kekeringan juga sudah mulai melanda sehingga menyulitkan akses air untuk memadamkan api,” tukas Juliansyah.
Camat Parenggean Muhammad Jais menambahkan tim kecamatan turut memperkuat koordinasi penanganan di lapangan. Pemerintah kecamatan, relawan, masyarakat, perusahaan dan dunia usaha dilibatkan untuk mempercepat pemadaman serta mengantisipasi munculnya titik api baru.
“Apel Siaga Karhutla tersebut menjadi bagian dari penguatan kesiapsiagaan menghadapi kondisi cuaca kering yang masih berlangsung di Parenggean,” pungkasnya. (daq/ang/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama