SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Detik-detik menegangkan saat proses evakuasi seorang warga bernama Shodiq dari sebuah pondok di tengah kawasan yang terbakar di Jalan HM Arsyad, tepatnya Gang Karya Bersama 2, Desa Pelangsian, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur berlangsung dalam kondisi penuh risiko.
Nyawa menjadi taruhan karena api mengepung kawasan sekitar pondok, sementara asap tebal membuat jarak pandang terbatas.
Anggota Palang Merah Remaja (PMR) MAN Kotim, Muhammad Prawira Utama Siregar, yang ikut dalam proses evakuasi tersebut, mengatakan pondok Shodiq berada sekitar 100–150 meter dari jalan setapak.
Untuk mencapainya, tim harus berjalan masuk melewati kebun singkong hingga kawasan yang sudah terbakar.
“Pondok beliau ada di dalam, sekitar 100–150 meter dari jalan setapak. Kami masuk dari pinggir, melewati kebun singkong. Setelah masuk, sudah hutan dan semuanya abu. Api sudah diinjak untuk dijadikan jalan menuju pondok Pak Shodiq,” ujarnya.
Baca Juga: Karhutla Mengganas di Pelangsian, Seorang Warga Terjebak Di Tengah Kepungan Api
Menurut Prawira, kondisi di sekitar pondok sangat panas. Meski berada di tengah kawasan yang dikepung api, Shodiq saat itu masih berada di bawah sebuah pohon yang kondisinya tetap hijau.
“Beliau di tengah. Alhamdulillah, beliau duduk bernaung di bawah pohon yang masih hijau, tetapi di sekelilingnya api semua,” katanya.
Asap tebal juga sempat menyulitkan tim memastikan kondisi pondok. Keberadaan Shodiq baru dapat diketahui setelah tim mendekati lokasi dan memanggilnya.
“Karena asapnya tebal sekali, pondok beliau tidak kelihatan. Kami tidak bisa memastikan apakah pondoknya terbakar atau tidak. Kemudian ketika dipanggil kerabatnya, ‘Ayo mulih’ atau pulang, akhirnya beliau pulang,” jelas Prawira.
Saat ditemukan, Shodiq masih dalam kondisi sadar dan sehat. Namun, panas di lokasi membuat proses evakuasi berlangsung cukup berat.
“Panas sekali, seperti di dalam oven. Hawa panas dari kebakaran ini seperti dalam panggangan bara,” ungkapnya.
Prawira mengatakan Shodiq saat itu juga dalam kondisi tubuh yang kering. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena warga berada cukup dekat dengan kobaran api.
Meski menghadapi situasi berbahaya, Prawira tetap ikut melakukan evakuasi karena merasa memiliki tanggung jawab kemanusiaan sebagai anggota PMR. Ia juga tidak bekerja sendirian karena mendapat bantuan warga sekitar yang mengetahui akses menuju lokasi.
Baca Juga: Video 'Kasir Indomaret' 7 Menit Viral, Benarkah Ada? Jangan Asal Klik Link!
“Alasannya karena saya anggota PMR, pasti kemanusiaan yang utama. Kebetulan ada warga di sini juga yang membantu. Akses jalannya lumayan mudah. Kalau saya sendirian, pasti buta karena tidak tahu medan,” ujarnya.
Dalam proses tersebut, tim membawa dua tabung oksigen sebagai perlengkapan awal untuk membantu kondisi korban. Namun, Prawira mengakui terdapat kekurangan dalam persiapan evakuasi karena tidak membawa air.
“Modal oksigen dua saja. Seharusnya air dulu yang dibawa. Ketika sampai di korban, korban dibasahi dulu supaya lebih segar, baru dievakuasi,” katanya.
Keterbatasan sumber air menjadi salah satu kendala dalam penanganan di lokasi. Akhirnya, tim hanya membawa oksigen dan mengandalkan keberanian untuk mengevakuasi Shodiq dari tengah kawasan yang terbakar.
Prawira mengatakan pengalaman tersebut menjadi pembelajaran penting dalam melakukan evakuasi di tengah kondisi karhutla. Persiapan perlengkapan, terutama air untuk membantu mendinginkan tubuh korban, perlu diperhatikan sebelum melakukan penyelamatan di lokasi dengan suhu panas ekstrem. (ktr-2)
Editor : Slamet Harmoko