PANGKALAN BUN, radarsampit.jawapos.com – Musim kemarau yang melanda Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah dan sekitarnya perlu diwaspadai masyarakat.
Selain meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kondisi tersebut juga berpotensi menurunkan kualitas udara akibat munculnya kabut asap dari lahan yang terbakar.
Kabut asap yang menyelimuti suatu wilayah tidak hanya mengganggu jarak pandang, tetapi juga dapat berdampak terhadap kesehatan, terutama jika konsentrasi partikel halus atau PM2.5 di udara meningkat.
Meski alat pantau kualitas udara di Taman Kota Manis Pangkalan Bun 'diduga' rusak, masyarakat tak perlu khawatir, alat pantau kualitas udara milik BMKG saat ini berada di kawasan Radar Cuaca di Desa Pasir Panjang, Kecamatan Arut Selatan, Pangkalan Bun masih berfungsi secara baik.
Masyarakat Pangkalan Bun dan wilayah sekitarnya dapat memantau kondisi kualitas udara secara mandiri melalui laman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Salah satu indikator yang perlu diperhatikan adalah konsentrasi PM2.5, yakni partikel udara berukuran sangat kecil yang dapat masuk hingga ke bagian dalam sistem pernapasan.
Cek Kualitas Udara Pangkalan Bun Melalui BMKG
Untuk mengetahui kondisi kualitas udara terkini, masyarakat dapat mengakses laman kualitas udara BMKG melalui https://www.bmkg.go.id/kualitas-udara/pm25.
Setelah halaman terbuka, masyarakat dapat melihat informasi mengenai konsentrasi PM2.5 berdasarkan wilayah pemantauan yang tersedia.
Langkah ini penting dilakukan, terutama ketika kondisi cuaca sedang panas dan kering serta terdapat kebakaran lahan di sekitar wilayah tempat tinggal.
Informasi kualitas udara tersebut dapat menjadi salah satu pertimbangan masyarakat sebelum melakukan aktivitas di luar rumah, khususnya bagi kelompok yang lebih rentan terhadap paparan polusi udara.
Mengapa PM2.5 Perlu Diwaspadai?
PM2.5 merupakan partikel berukuran sangat kecil yang dapat berasal dari berbagai sumber, termasuk asap kebakaran hutan dan lahan.
Ketika karhutla terjadi, asap yang dihasilkan membawa berbagai partikel dan senyawa hasil pembakaran. Jika konsentrasi partikelnya meningkat, kualitas udara dapat menurun dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
Paparan asap dapat menyebabkan keluhan seperti batuk, iritasi tenggorokan, mata terasa perih, pilek, sesak atau rasa tidak nyaman pada saluran pernapasan.
Kelompok seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki sensitivitas terhadap gangguan pernapasan perlu mendapat perhatian lebih ketika kualitas udara memburuk.
Kemarau dan Karhutla Jadi Ancaman
Kondisi kemarau membuat vegetasi dan lahan menjadi lebih kering sehingga api lebih mudah muncul dan menyebar. Kebakaran yang terjadi di wilayah Kobar maupun daerah sekitar Pangkalan Bun juga berpotensi menghasilkan asap yang terbawa angin menuju kawasan permukiman.
Karena itu, masyarakat tidak disarankan hanya menunggu kabut asap terlihat secara kasatmata untuk mulai berhati-hati.
Pemantauan kualitas udara secara berkala dapat dilakukan sebagai langkah antisipasi. Jika kualitas udara memburuk, masyarakat dapat mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker yang sesuai ketika harus keluar rumah.
Masyarakat juga diimbau tidak melakukan aktivitas pembakaran lahan maupun sampah selama kondisi kemarau. Percikan api yang awalnya kecil dapat dengan cepat merambat pada lahan yang kering dan menambah titik kebakaran.
Jangan Tunggu Asap Pekat
Kemunculan kabut asap menjadi tanda yang tidak boleh dianggap sepele. Namun, kondisi udara juga dapat berubah meskipun asap belum terlihat terlalu pekat.
Karena itu, masyarakat Pangkalan Bun dan sekitarnya dapat menjadikan informasi PM2.5 dari BMKG sebagai salah satu rujukan untuk mengetahui kondisi udara di wilayahnya.
Cek kualitas udara sebelum beraktivitas, kurangi paparan asap saat kondisi memburuk, dan segera cari pertolongan medis apabila mengalami gangguan pernapasan yang berat.
Di tengah ancaman karhutla selama musim kemarau, menjaga kualitas udara bukan hanya tugas pemerintah dan petugas pemadam. Mencegah munculnya titik api dari lingkungan sekitar juga menjadi tanggung jawab bersama. (sla)
Editor : Slamet Harmoko