El Nino Kuat Diprediksi Bertahan hingga Awal 2027, BMKG Siaga Hadapi Ancaman Karhutla dan Kekeringan

Slamet Harmoko • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 19:23 WIB

 

Salah satu lahan pertanian warga wilayah Kecamatan Kota Besi, yang rentan terdampak kekeringan  di musim kemarau.(dok.radarsampit)
Salah satu lahan pertanian warga wilayah Kecamatan Kota Besi, yang rentan terdampak kekeringan di musim kemarau.(dok.radarsampit)

JAKARTA, radarsampit.jawapos.com – Indonesia diperkirakan masih akan menghadapi ancaman kekeringan ekstrem dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga awal 2027.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena El Nino kategori kuat masih bertahan hingga kuartal pertama 2027, dengan potensi diperparah oleh fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) Positif pada September hingga Desember 2026.

Mengantisipasi kondisi tersebut, BMKG memperkuat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di sejumlah wilayah prioritas guna menekan risiko meluasnya karhutla dan dampak kekeringan.

Baca Juga: Antisipasi El Nino, Seruyan Matangkan Kesiapsiagaan Karhutla

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan langkah tersebut merupakan bagian dari strategi mitigasi bencana hidrometeorologi secara terpadu.

"BMKG mengambil langkah proaktif dengan memperkuat dan memperluas OMC sebagai bentuk komitmen mitigasi bencana hidrometeorologi secara terpadu di Indonesia," ujarnya.

Puncak Kemarau Diperkirakan Terjadi Agustus

Berdasarkan data BMKG hingga pertengahan Juli 2026, sebanyak 509 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 54,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Puncak musim kemarau diproyeksikan terjadi pada Agustus dan mencakup hampir 49 persen wilayah daratan Indonesia, kemudian berlanjut pada September.

Sebagian besar daerah diperkirakan mengalami musim kemarau yang lebih kering dan lebih panjang dibanding kondisi normal. BMKG mencatat 437 ZOM atau sekitar 48,77 persen wilayah mengalami durasi kemarau lebih lama dari biasanya.

Baca Juga: Karhutla Mulai Memakan Korban Satwa Liar, Ular Sanca Paling Banyak Ditemukan Terbakar di Kotim

Catatan hari tanpa hujan (HTH) terpanjang saat ini terjadi di Purworejo, Jawa Tengah, dengan durasi mencapai 80 hari berturut-turut tanpa hujan.

Seiring meningkatnya kekeringan, jumlah titik panas (hotspot) juga terus bertambah. Hingga 29 Juli 2026, BMKG mendeteksi sebanyak 5.019 hotspot yang tersebar di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Riau, Papua Selatan, dan sejumlah wilayah rawan lainnya.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan indeks Nino 3.4 pada akhir Juni telah mencapai angka 1,56, yang menunjukkan El Nino sudah berada pada kategori kuat.

Menurutnya, dampak terbesar El Nino tetap akan dirasakan selama periode musim kemarau di Indonesia meskipun fenomena tersebut diperkirakan masih berlangsung hingga awal 2027. "Dampak utamanya tetap terfokus pada periode musim kemarau di wilayah Indonesia," jelas Ardhasena.

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, mengatakan penyemaian awan melalui OMC saat ini terus dilakukan di Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah dengan dukungan BNPB dan Kementerian Kehutanan.

Posko OMC juga telah dibuka di Pekanbaru untuk melindungi wilayah Riau serta di Bandung guna membantu mengatasi kekeringan di Jawa Barat.

Sepanjang 2026, BMKG telah melaksanakan 17 operasi modifikasi cuaca di berbagai daerah rawan karhutla seperti Aceh, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, hingga Kalimantan Selatan.

Selain menekan risiko kebakaran, OMC juga dimanfaatkan untuk mengisi cadangan air di sejumlah waduk dan daerah aliran sungai strategis, termasuk kawasan Danau Toba, DAS Citarum, DAS Brantas, dan DAS Mamasa.

"Penyemaian awan melalui OMC merupakan upaya komplementer untuk mengoptimalkan potensi hujan alami sebelum kekeringan parah terjadi. Namun ketika kondisi cuaca tidak memungkinkan, pemadaman titik api di darat tetap menjadi tumpuan utama," ujar Seto.

BMKG Minta Semua Sektor Bersiap

BMKG mengimbau berbagai sektor segera melakukan langkah antisipasi menghadapi musim kemarau panjang.

Sektor pertanian diminta menyesuaikan pola tanam dan menggunakan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan. Pengelola sumber daya air dan pembangkit listrik tenaga air juga diminta mengantisipasi potensi berkurangnya debit air.

Di bidang kesehatan, masyarakat diingatkan mewaspadai meningkatnya risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), demam berdarah, malaria, hingga heat stroke akibat suhu udara yang lebih tinggi dan kualitas udara yang menurun.

Meski demikian, BMKG menilai musim kemarau juga dapat memberikan keuntungan bagi sektor tertentu, seperti peningkatan produksi garam serta hasil tangkapan ikan akibat fenomena upwelling di sejumlah perairan Indonesia. (jpg)

Editor : Slamet Harmoko
BMKG el nino kekeringan karhutla