SAMPIT,radarsampit.jawapos.com-Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur terus meluas. Bahkan dampaknya bagi masyarakat sudah mulai terasa, dengan munculnya kabut asap tipis pada malam dan dini hari, disertai bau asap bekas tanah terbakar.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim, sejak Januari hingga 14 Juli 2026 tercatat 372 titik panas (hotspot) dengan 72 kejadian karhutla. Sebanyak 64 kejadian berhasil ditangani petugas, sementara luas lahan yang terbakar mencapai 151,7 hektare.
Bupati Kotim Halikinnor pun menyikapi hal itu dengan meminta seluruh jajarannya sampai ke pemerintahan desa, serta pihak perusahaan besar swasta (PBS) perkebunan, hingga masyarakat, agar sama-sama ikut mencegah meluasnya karhutla.
Halikinnor juga meminta masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar. Menurutnya, kondisi cuaca yang panas dipadukan dengan karakteristik lahan gambut di Kotim membuat api sangat mudah menyebar dan sulit dikendalikan.
"Kalau api sudah membesar di lahan gambut, tenaga, waktu, dan biaya yang dibutuhkan akan jauh lebih besar. Selain itu nanti asapnya mengganggu kesehatan, pendidikan, transportasi dan juga berdampak terhadap ekonomi secara keseluruhan. Karena itu semua pihak harus bergerak sejak dini,” ungkapnya menyerukan.
Halikinnor juga meminta pemerintah desa meningkatkan pengawasan terhadap wilayah yang rawan terbakar. Ia juga meminta perusahaan perkebunan menyiagakan personel dan peralatan pemadam, serta segera turun membantu apabila terjadi kebakaran di sekitar wilayah operasionalnya.
Ditegaskannya,penanganan karhutla tidak bisa hanya mengandalkan BPBD maupun aparat gabungan. Keterlibatan pemerintah desa, perusahaan, dan masyarakat menjadi kunci agar titik api dapat ditangani sebelum meluas.
BPBD Kotim juga mencatat, wilayah tengah menjadi daerah dengan luas kebakaran terbesar, yakni 77,93 hektare atau 51,37 persen dari total lahan yang terbakar. Disusul wilayah selatan seluas 72,33 hektare atau 47,68 persen, sedangkan wilayah utara tercatat 1,45 hektare atau 0,96 persen. Data tersebut masih bersifat sementara dan dapat berubah seiring proses verifikasi di lapangan.
Baca Juga: 151,7 Hektare Lahan Terbakar, DPRD Kotim Desak Penguatan Desa Rawan Karhutla
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperbarui prakiraan musim kemarau di Kotim. Berdasarkan evaluasi terbaru, puncak musim kering yang sebelumnya diprediksi terjadi pada Agustus kini bergeser menjadi September, meski secara umum wilayah Kotim telah memasuki musim kemarau.
Dijelaskan Kepala Stasiun Meteorologi H.Asan Kotim Mulyono Leo Nardo, perubahan tersebut terjadi setelah BMKG meninjau kembali perkembangan kondisi atmosfer dan curah hujan dalam beberapa pekan terakhir. Hasil evaluasi menunjukkan awal musim kemarau juga bergeser dari awal Juni menjadi pertengahan Juni.
"Karena awal musim kemarau ikut bergeser, maka puncaknya juga mundur menjadi September. Meski demikian, saat ini wilayah Kotim sudah memasuki musim kemarau," ujarnya.
Diungkapkannya pula,musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung lebih lama dibanding beberapa tahun terakhir. BMKG memperkiarkan musim kering berlangsung sekitar lima bulan, dimulai pertengahan Juni hingga akhir Oktober 2026.
Menurut Mulyono, kondisi tersebut dipengaruhi oleh fenomena El Nino yang tahun ini berada pada kategori sedang menuju kuat . Dampakya, curah hujan berkurang sehingga udara menjadi lebih kering dan musim kemarau terasa lebih panjang.
Ia menambahkan, mundurnya awal musim kemarau dipengaruhi masih berlangsungnya Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di kawasan lahan gambut serta curah hujan yang masih cukup tinggi hingga akhir Juni.
Dengan kondisi tersebut, BMKG mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak musim kemarau, terutama potensi kekeringan dan meningkatnya risiko karhutla. Paling penting, masyarakat juga diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar serta mengunakan air secara hemat.
"Upaya pencegahan karhutla tidak bisa hanya dilakukan pemerintah. Peran aktif masyarkat sangat dibutuhkan agar musim kemarau tahun ini tidak memicu kebakaran hutan dan lahan," pungkas Mulyono. (ang/yn/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama