Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Ratusan Pengidap HIV di Kotawaringin Barat Stop Berobat, Dinkes Berupaya Melacak Keberadaan Pasien

Koko Sulistyo • Rabu, 8 Juli 2026 | 19:13 WIB
Kepala Dinas Kesehatan Kotawaringin Barat Hardino
Kepala Dinas Kesehatan Kotawaringin Barat Hardino

 

PANGKALAN BUN, radarsampit.jawapos.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Kotawaringin Barat mencatat sebanyak 322 orang dengan HIV (ODHIV) berstatus lost to follow-up (LFU) atau putus pengobatan antiretroviral (ARV).

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kotawaringin Barat, Hardino, mengatakan kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena dapat memengaruhi keberhasilan program pengendalian HIV di daerah.

Menurutnya, pasien yang menghentikan terapi ARV berisiko mengalami penurunan sistem kekebalan tubuh sehingga lebih rentan terkena infeksi oportunistik, seperti tuberkulosis dan pneumonia. Jika tidak ditangani, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi AIDS.

"Pengobatan yang dijalani secara rutin membuat ODHIV tetap sehat dan produktif. Selain menjaga daya tahan tubuh, terapi ARV juga mampu menurunkan risiko penularan HIV kepada orang lain secara signifikan," ujarnya.

Hingga 2026, jumlah kumulatif kasus HIV di Kabupaten Kotawaringin Barat mencapai 676 kasus. Dari jumlah tersebut, sebanyak 295 ODHIV atau sekitar 43,6 persen masih aktif menjalani terapi ARV.

Sepanjang 2026, Dinas Kesehatan juga menemukan 26 kasus baru HIV. Seluruh pasien yang terdiagnosis langsung mendapatkan terapi ARV untuk menjaga kondisi kesehatan sekaligus menekan risiko penularan.

Hardino menilai stigma dan diskriminasi masih menjadi kendala dalam penanggulangan HIV. Akibatnya, sebagian ODHIV enggan menjalani pemeriksaan maupun melanjutkan pengobatan karena takut dikucilkan.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak keliru memahami cara penularan HIV. Virus tersebut tidak menular melalui berjabat tangan, berpelukan, berbagi makanan, maupun penggunaan fasilitas umum secara bersama.

Menurutnya, HIV ditularkan melalui hubungan seksual berisiko, penggunaan jarum suntik secara bergantian, transfusi darah yang tidak aman, serta penularan dari ibu kepada bayi tanpa upaya pencegahan.

Untuk memperkuat penanganan HIV, Dinas Kesehatan terus meningkatkan layanan skrining, Mobile VCT, penyediaan obat ARV, pelacakan pasien yang putus berobat, integrasi layanan TB-HIV, serta edukasi di sekolah, tempat kerja, dan lingkungan masyarakat.

"Kita gencarkan untuk melacak pasien yang putus berobat," pungkas Hardino. (tyo/yit)

 

 

Editor : Heru Prayitno
#kotawaringin barat #AIDS #hiv