PALANGKA RAYA,radarsampit.jawapos.com-Peristiwa dibalik gugurnya tiga personel Satresnarkoba Polres Katingan saat menggerebek bandar narkoba di Desa Tumbang Kalemei, 2 Juli 2026 lalu, terus ditelusuri aparat berwenang. Lembaga pengawas eksternal Polri itu menegaskan proses penyelidikan harus dituntaskan secara transparan, akuntabel, serta mampu memberikan kepastian hukum.
Hasil pendalaman Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) mengarah pada dugaan kuat bahwa ketiga anggota Polri itu lebih dulu dianiaya secara brutal hingga tewas, sebelum jasad mereka ditemukan mengapung di DAS Katingan.
Temuan tersebut disampaikan Komisioner Kompolnas RI Mochammad Choirul Anam usai melakukan peninjauan lapangan dan mendalami hasil autopsi serta keterangan para saksi.
Tim Kompolnas yang dipimpin Dr. Supardi Hamid bersama anggota Mochammad Choirul Anam, Yozi Erfandi Pratama, dan Zullastri melakukan peninjauan langsung ke tempat kejadian perkara (TKP), Senin (6/7). Mereka didampingi Kapolres Katingan AKBP Dodik Hartono.
Di lokasi penggerebekan, rombongan menerima paparan lengkap mengenai kronologi insiden, kondisi medan operasi, hingga perkembangan penyelidikan dan pengejaran terhadap para pelaku yang diduga terlibat dalam tragedi tersebut.
Ketua Tim Kompolnas Dr Supardi Hamid mengatakan peninjauan langsung dilakukan, agar pihaknya memperoleh gambaran utuh mengenai peristiwa yang menewaskan tiga anggota Polri saat menjalankan tugas negara.
"Monitoring ini dilakukan agar kami mendapatkan fakta secara menyeluruh sehingga pengawasan terhadap proses penanganan perkara dapat dilakukan secara objektif," ujarnya saat menggelar konferensi pers di Mapolres Katingan. Hadir dalam kegiatan tersebut Bupati Katingan Syaiful, Dandim 1019/Katingan Letkol Kav Prima Wahyudi, serta jajaran Forkopimda setempat.
Selain itu, Mochammad Choirul Anam membeberkan, hasil autopsi menunjukkan korban mengalami luka-luka berat akibat kekerasan saat masih hidup.
Baca Juga: Kompolnas Kunjungi Polres Katingan, Dalami Kasus Penggerebekan Bandar Sabu di Tumbang Kalemei
"Dugaan kuatnya adalah terjadi penyiksaan, kekerasan, atau penganiayaan. Itu terlihat dari karakter luka. Ada trauma benda tumpul, retak pada tulang, retak pada tengkorak, serta resapan darah di bawah kulit. Itu menunjukkan korban masih hidup ketika mengalami kekerasan,"bebernya.
Temuan itu sekaligus membantah dugaan bahwa ketiga personel meninggal akibat tenggelam.
"Mereka bukan meninggal karena tenggelam. Mereka meninggal lebih dulu, kemudian baru dibuang ke sungai. Itu sangat tragis," tegas Anam.
Kompolnas juga mengungkap adanya lima lokasi kejadian perkara (TKP) yang saling berkaitan dalam insiden berdarah tersebut. Peristiwa bermula ketika tim Satresnarkoba melakukan penggerebekan terhadap seorang bandar narkoba.
Saat petugas melakukan tindakan lanjutnya, mereka telah memperkenalkan diri sebagai anggota kepolisian. Namun situasi berubah ketika muncul teriakan "perampok" dari pihak pelaku, sehingga memancing keluarga dan kelompok pelaku berdatangan.
Akibat provokasi tersebut, anggota polisi mendapat perlawanan secara brutal menggunakan senjata tajam hingga senjata api. Bahkan ketika personel berusaha mundur, mereka terus dikejar.
"Di dalam rumah sudah ada anggota yang terluka. Ketika mundur, mereka terus dikejar, disiksa, kemudian dibunuh. Setelah itu jasadnya dibuang ke sungai," ungkap Anam.
Menurutnya, sebagian personel sempat menyelamatkan diri dengan melompat ke sungai. Salah seorang anggota bahkan berenang sekitar 400 meter sebelum menepi untuk mencari perlindungan. Namun beberapa personel lainnya diduga berhasil dikuasai kelompok pelaku.
"Kalau tidak ada provokasi dengan meneriakkan 'perampok', kemungkinan peristiwa ini tidak akan terjadi. Begitu juga jika anggota yang mundur tidak terus dikejar," tambah Anam.
Ia juga mengungkapkan, keluarga pelaku memiliki rekam jejak yang kurang baik dan selama ini kerap berselisih dengan warga sekitar.
"Banyak laporan masyarakat yang mengaku diancam menggunakan parang dan diteror. Keluarga pelaku memang dikenal sering bermasalah dengan lingkungan. Para pelaku diduga memiliki hubungan kekeluargaan dan berjumlah cukup banyak,” papar Anam.
Sementara itu, Kapolda Kalimantan Tengah Irjen Pol Iwan Kurniawan memastikan Polda Kalteng membuka ruang seluas-luasnya kepada Kompolnas untuk melakukan pengawasan terhadap penanganan perkara tersebut.
"Kami memberikan keleluasaan dan transparansi penuh kepada Kompolnas dalam melakukan pengecekan dan pendalaman kasus ini," katanya.
Kapolda menegaskan pemberantasan narkoba menjadi prioritas utama, karena peredarannya di Kalteng sudah sangat mengkhawatirkan.
"Narkoba menjadi atensi Presiden dan Kapolri. Dalam enam bulan terakhir saja kami telah menangkap sekitar 400 tersangka. Bahkan ada beberapa kawasan yang sudah masuk kategori kampung narkoba. Ini harus diberantas," tegas Iwan Kurniawan.
Menurut Iwan, operasi penangkapan di desa itu telah dilakukan sesuai prosedur. Personel dibagi dalam beberapa tim, termasuk melibatkan polisi wanita karena target utama yang hendak diamankan merupakan bandar perempuan.
Namun situasi berubah drastis ketika kelompok pelaku memprovokasi warga dengan meneriakkan bahwa yang datang adalah perampok.
"Anggota sudah menjalankan SOP. Tetapi di lapangan muncul provokasi, pelaku mengeluarkan senjata tajam dan senjata api laras panjang. Demi menghindari korban masyarakat, anggota mundur, namun tetap diserang," lanjut Iwan Kurniawan.
Diungkapkan pula, setelah terjun ke sungai, para personel berenang sejauh kurang lebih 400 meter hingga berhasil menepi di area pulau-pulau kecil di tengah sungai. Di titik tersebut, para anggota sempat berkumpul kembali dan menyadari bahwa beberapa di antara mereka telah mengalami luka-luka.
Namun lanjut Kapolda, kelompok pelaku ternyata tidak menghentikan aksinya. Mereka terus memburu dan melakukan serangan susulan dari dua arah, baik dari darat maupun lewat jalur air menggunakan perahu kelotok.
Diungkapkannya pula, beberapa saksi yang telah diperiksa menguatkan dugaan bahwa tiga personel sempat mengalami penganiayaan sebelum akhirnya dibunuh. Bahkan lanjutnya, menurut keterangan saksi, salah seorang pelaku sempat mengatakan kepada keluarganya bahwa mereka telah menghabisi nyawa anggota Polri.
"Saya fokus pada penegakan hukum. Beberapa pelaku sudah kami amankan, sedangkan lainnya masih dalam pengejaran. Saya mengimbau para pelaku yang masih buron segera menyerahkan diri. Tidak ada kata mundur bagi Polri dalam memberantas narkoba," pungkas Iwan Kurniawan.
Hingga kini penyidik Polda Kalteng masih memburu sejumlah pelaku yang masuk daftar pencarian orang (DPO) sembari mengembangkan kasus untuk mengungkap seluruh jaringan narkoba yang diduga menjadi pemicu tragedi berdarah tersebut.(daq/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama