Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Jauhkan Kampanye Hitam di Pemilihan Rektor UPR

Dodi Abdul Qadir
Penulis: Dodi Abdul Qadir❯
Para kandidat calon rektor UPR dalam moment adu gagasan, rekam jejak, dan visi  untuk membangun kampus. (dok.dodi/radarsampit)
Para kandidat calon rektor UPR dalam moment adu gagasan, rekam jejak, dan visi untuk membangun kampus. (dok.dodi/radarsampit)

Advertisement

PALANGKA RAYA,radarsampit.jawapos.com-Hitung mundur pemilihan tahap pertama Rektor Universitas Palangka Raya (UPR) mulai terasa. Para kandidat kini memasuki fase krusial untuk meyakinkan anggota senat sebagai pemilik hak suara melalui adu gagasan, rekam jejak, dan visi membangun kampus terbesar di Kalimantan Tengah itu.

Salah satu kandidat, Prof. Bhayu Rhama, S.T., M.B.A., Ph.D., menyatakan optimistis mampu meraih dukungan karena menawarkan program yang berorientasi pada kemajuan institusi. Menurutnya, keputusannya maju bukan didorong ambisi pribadi, melainkan pengalaman panjang memimpin dan mengabdi di lingkungan UPR.

"Dorongan menjadi Rektor UPR lahir dari pengalaman, bukan semata-mata ambisi. Amanah sebagai Dekan FISIP membuktikan bahwa kepemimpinan yang kolaboratif, terukur, dan berorientasi pada hasil mampu menghadirkan berbagai prestasi institusi," ujarnya,Senin (6/7).

Di sisi lain, kandidat Dr. Natalina Asi, M.A., juga menyatakan siap bertarung secara sehat dalam kontestasi pemilihan rektor. Wakil Rektor I UPR itu mengusung visi menjadikan UPR sebagai episentrum inovasi global yang berintegritas dengan berlandaskan falsafah Huma Betang menuju Indonesia Emas 2045.

Visi tersebut difokuskan pada penguatan kualitas pembelajaran, peningkatan sumber daya manusia, perluasan kerja sama, serta pembenahan tata kelola kelembagaan.

Advertisement

Natalina menegaskan dirinya siap menerima apa pun hasil pemilihan."Kalah atau menang itu hal biasa dalam demokrasi. Yang terpenting adalah memberikan kontribusi nyata bagi UPR dan menyukseskan agenda pemilihan rektor," katanya.

Ia mengingatkan seluruh pihak agar menjaga proses pemilihan tetap bersih dan bermartabat. Menurutnya, tidak boleh ada praktik politik uang, kampanye hitam maupun isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) yang dapat mencederai demokrasi kampus.

"Saya berharap senat memilih berdasarkan visi, misi, dan program kerja yang telah disampaikan para calon, bukan karena kepentingan lain," tegasnya.

Natalina juga mengajak seluruh sivitas akademika menjaga persatuan setelah proses pemilihan selesai. Siapa pun yang terpilih, menurutnya, harus mendapat dukungan penuh demi kemajuan UPR.

"UPR adalah rumah kita bersama. Kontestasi itu biasa, tetapi setelah selesai kita harus bersatu. Tidak boleh ada permusuhan di internal kampus. Siapa pun yang terpilih harus kita dukung," ujarnya.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar SampitIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Prof. Bhayu Pilih Adu Gagasan dalam Kontestasi Pemilihan Rektor UPR

Prof. Bhayu Pilih Adu Gagasan dalam Kontestasi Pemilihan Rektor UPR

Kontestasi pemilihan Rektor Universitas Palangka Raya (UPR) periode 2026–2030 terus berlangsung. Berbagai isu, tudingan, dan narasi negatif

Mengenal Tiga Calon Rektor Satu Diantaranya Pasti Jadi Rektor UPR (3/habis)

Mengenal Tiga Calon Rektor Satu Diantaranya Pasti Jadi Rektor UPR (3/habis)

Di ruang laboratorium Universitas Palangka Raya, Prof. Dr. Liswara Neneng, S.Pd., M.Si akrab dengan bakteri, gambut, dan tabung reaksi.

Mengenal Tiga Calon Rektor Satu Diantaranya Pasti Jadi Rektor UPR (2),

Mengenal Tiga Calon Rektor Satu Diantaranya Pasti Jadi Rektor UPR (2),

Mengenal Tiga Calon Rektor Satu Diantaranya Pasti Jadi Rektor UPR (2),Prof Bhayu Rhama Ingin Bawa UPR Berakar pada Huma Betang dan mendunia

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement

Populer