Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Ancaman Kekeringan dan Karhutla Meningkat Drastis.Curah Hujan di Bawah Normal, Kotim masuki Kemarau Ekstrem 

Rado. • Jumat, 19 Juni 2026 | 20:39 WIB
Lahan yang mengalami kebakaran hutan dan lahan yang masih sering terjadi wilayah Kotim dan Kalteng secara umum, terutama ketika kekeringan melanda. (dok/radarsampit)
Lahan yang mengalami kebakaran hutan dan lahan yang masih sering terjadi wilayah Kotim dan Kalteng secara umum, terutama ketika kekeringan melanda. (dok/radarsampit)

SAMPIT,radarsampit.jawapos.com-Masyarakat Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali akan menghadapi cobaan ketika memasuki puncak musim kemarau, sejak awal Juni 2026 ini. Seluruh dataran di wilayah ini berpotensi mengalami kondisi kering atau kemarau ekstrem, selama periode Juli hingga September 2026.

Kondisi tersebut membuat ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meningkat signifikan, terutama pada kawasan gambut yang selama ini menjadi salah satu titik rawan saat musim kemarau.

Dijelaskan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim Multazam, prediksi itu berdasarkan buletin iklim Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika di bulan Juni 2026. Tercatat, curah hujan di seluruh wilayah Kotim diperkirakan berada pada kategori sangat rendah, yakni hanya 0–20 milimeter atau di bawah normal.

"Kondisi tersebut harus menjadi perhatian bersama, khususnya berkaitan dengan potensi karhutla yang akan meningkat signifikan," ujarnya.

Menurutnya, kondisi kemarau ekstrem tersebut dipengaruhi fenomena El Niño yang diperkuat Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Dampaknya tidak hanya membuat suhu udara meningkat dan musim kering berlangsung lebih panjang, tetapi juga menyebabkan lahan gambut semakin mudah terbakar.

Baca Juga: BMKG Ingatkan Ancaman Puting Beliung Saat Kemarau di Kalimantan Tengah

Menghadapi ancaman itu, BPBD Kotim mulai memperkuat langkah pencegahan. Mulai dari peningkatan patroli, pengaktifan posko pemantauan, hingga pengawasan titik panas melalui sistem satelit dan laporan petugas di lapangan.

Masyarakat pun diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar maupun melakukan aktivitas yang dapat memicu munculnya titik-titik api. "Jangan membuang puntung rokok sembarangan, karena dalam kondisi sangat kering. Api kecil pun bisa memicu kebakaran besar. Pencegahan sejak dini menjadi kunci agar peristiwa karhutla besar dan kabut asap yang pernah terjadi di Kotim tidak kembali terulang,” ujar Multazam mengingatkan.

Selain itu, pemerintah desa dan masyarakat diminta mulai menyiapkan sumber air cadangan, membuat sekat atau jalur pemisah api (firebreak), serta memastikan peralatan pemadam sederhana siap digunakan.

BPBD juga mengingatkan masyarakat menyiapkan masker N95 sebagai langkah antisipasi apabila kabut asap kembali muncul dan berdampak terhadap kualitas udara.

"Kami berharap seluruh elemen masyarakat lebih disiplin menjaga lingkungan selama musim kemarau berlangsung agar kejadian karhutla besar yang pernah melanda Kotim tidak kembali terulang," imbuh Multazam.

Sebelumnya, Kepala BMKG Kotim, Mulyono Leo Nardo, mengatakan wilayah Kotim secara meteorologis telah memasuki musim kemarau sejak awal Juni 2026. Meski masih terjadi hujan dalam beberapa hari terakhir, kondisi tersebut merupakan hal yang wajar pada fase awal musim kemarau.

“Awal Juni ini kita sudah memasuki musim kemarau. Namun awal musim kemarau bukan berarti langsung tidak ada hujan. Hujan masih bisa terjadi, hanya intensitas dan frekuensinya berkurang,” katanya, pekan lalu.

Mulyono juga mengingatkan, kondisi iklim tahun ini menunjukkan potensi musim kemarau yang lebih kering. Dampaknya, risiko terjadinya karhutla diperkirakan lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. (ang/ktr-2/gus)

 

Editor : Agus Jaka Purnama
#kekeringan\ #kemarau ekstrem #BMKG #karhutla #Multazam