Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Sawit Naik Cuma Rp100, Harga Pupuk Nonsubsidi Naiknya Mencekik

Rado. • Senin, 8 Juni 2026 | 12:48 WIB
Rapat harga sawit di DPRD Kotim tak hanya membahas TBS. Petani mandiri mengungkap mahalnya pupuk non-subsidi yang disebut menjadi beban terbesar. (Rado/Radar Sampit)
Rapat harga sawit di DPRD Kotim tak hanya membahas TBS. Petani mandiri mengungkap mahalnya pupuk non-subsidi yang disebut menjadi beban terbesar. (Rado/Radar Sampit)

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Kenaikan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit belum sepenuhnya membawa keuntungan bagi petani mandiri.

Di tengah membaiknya harga sawit, petani justru mengeluhkan tingginya harga pupuk non-subsidi yang dinilai semakin memberatkan biaya perawatan kebun.

Keluhan tersebut disampaikan petani sawit mandiri, Holpri Kurnianto, dalam rapat penetapan harga TBS sawit.

Menurutnya, persoalan terbesar yang saat ini dihadapi petani bukan hanya soal harga jual buah, tetapi juga mahalnya pupuk yang terus mengalami kenaikan.

Holpri mengatakan, setiap kali harga TBS mengalami kenaikan, harga pupuk non-subsidi di pasaran juga cenderung ikut meningkat.

Kondisi ini membuat tambahan pendapatan yang diperoleh petani dari kenaikan harga sawit tidak terasa signifikan.

“Begitu TBS itu naik Rp50 sampai Rp100, harga pupuk ini naik bisa 30 persen. Jadi sangat berat beban yang dipikul oleh para petani mandiri,” ujarnya.

Menurut Holpri, biaya pemupukan merupakan salah satu komponen terbesar dalam usaha perkebunan sawit rakyat. Karena itu, lonjakan harga pupuk sangat berpengaruh terhadap pendapatan petani.

Ia berharap pemerintah daerah dapat melakukan pengawasan terhadap harga dan peredaran pupuk non-subsidi agar tidak semakin membebani petani.

Menurutnya, langkah tersebut penting untuk menjaga keberlangsungan usaha perkebunan rakyat yang selama ini menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat.

Selain pengawasan harga, pemerintah juga diminta memastikan distribusi pupuk berjalan dengan baik sehingga kebutuhan petani dapat terpenuhi dengan harga yang lebih terjangkau.

“Di sinilah titik yang menjadi dilema bagi para petani mandiri. Sangat terpukulnya para petani mandiri itu ada di harga pupuk non-subsidi,” katanya.

Holpri berharap persoalan pupuk dapat menjadi perhatian serius seluruh pihak, karena keberhasilan petani meningkatkan produksi tidak hanya ditentukan oleh harga TBS, tetapi juga oleh kemampuan mereka memenuhi kebutuhan pemupukan di kebun.(ang)

Editor : Slamet Harmoko
#harga pupuk nonsbsidi #petani sawit mandiri #harga sawit #kotim