Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Hutan Kalteng Dibabat, 480 Ribu Hektare Lenyap dalam 4 Bulan

Dodi Abdul Qadir • Rabu, 22 April 2026 | 20:54 WIB
PAPARAN: Direktur Save Our Borneo, Habibi, membeberkan laju deforestasi Kalteng yang mencapai hampir 480 ribu hektare dalam empat tahun terakhir, Rabu (22/4). FOTO: DODI RADAR SAMPIT
PAPARAN: Direktur Save Our Borneo, Habibi, membeberkan laju deforestasi Kalteng yang mencapai hampir 480 ribu hektare dalam empat tahun terakhir, Rabu (22/4). FOTO: DODI RADAR SAMPIT

 

PALANGKA RAYA, Radarsampit.jawapos.com – Laju deforestasi di Kalimantan Tengah kian tak terkendali. Dalam periode 2020–2024, hutan seluas 479.889,17 hektare hilang. Angka ini menjadi alarm keras ancaman krisis ekologis di Bumi Tambun Bungai.

Temuan itu diungkap Save Our Borneo dalam konferensi pers, Rabu (22/4). Pembukaan lahan skala besar oleh perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI), khususnya di kawasan DAS Kapuas, disebut sebagai pemicu utama.

Direktur Save Our Borneo, Habibi, menyoroti dua Perusahaan PT IFP dan PT BHP yang dinilai berkontribusi besar terhadap deforestasi.

Baca Juga: Tak Manusiawi! Siswi SMP Dibakar Paman Sendiri hanya Gara-gara Tak Mau Mandi

“Dalam wilayah operasionalnya, tingkat deforestasi mencapai 78 ribu hektare. Ini memperparah kerusakan DAS Kapuas,” tegasnya.

DAS Kapuas kini disebut berada di ambang krisis. Kerusakan bentang alam membuat banjir makin sering terjadi, bahkan hingga dua kali dalam setahun.

Ironisnya, kawasan yang seharusnya dipulihkan sejak proyek lahan gambut (PLG) 1995–1997 itu justru terus dibebani izin konsesi. PT IFP mengantongi izin 100.989 hektare, sementara PT BHP seluas 20.352 hektare.

Baca Juga: RI Kembangkan Bioetanol, Pertamina dan Toyota Investasi Bangun Pabrik di Lampung

Ekspansi tanaman monokultur seperti akasia, sengon, dan balsa mempercepat hilangnya hutan alam. Total 26.608 hektare hutan alam lenyap, dengan kontribusi terbesar dari PT IFP.

Kondisi ini dinilai bertolak belakang dengan target FOLU Net Sink 2030yang dicanangkan pemerintah untuk menekan emisi karbon.

“Di tengah target besar penurunan emisi, deforestasi justru terus terjadi. Ini paradoks serius,” ujar Habibi.

Baca Juga: APDESI Kecamatan Dikukuhkan, Bupati Kotim Tekankan Sinergi Desa

Save Our Borneo mendesak penghentian pembukaan hutan alam, transparansi data perusahaan, serta evaluasi izin oleh pemerintah. Jika tidak, krisis ekologis di DAS Kapuas dipastikan semakin parah.

“Banjir, hilangnya habitat satwa, hingga kegagalan target iklim hanya soal waktu,” pungkasnya. (daq/fm)

Editor : Farid Mahliyannor
#save our borneo #krisis ekologis #hutan #deforestasi #kalteng