SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Kenaikan harga kemasan berbahan plastik mulai berdampak di pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Lonjakan harga yang disebut mencapai 50 hingga 100 persen itu memaksa pelaku usaha melakukan penyesuaian, terutama pada harga jual produk.
Tekanan biaya paling terasa pada usaha kuliner yang bergantung pada kemasan sekali pakai. Dalam beberapa pekan terakhir, harga gelas plastik, cup minuman, hingga kemasan bawa pulang, mengalami kenaikan signifikan, sehingga mendorong biaya produksi meningkat.
Seperti diungkapkan Pemilik Kafe Along Grup, Muhammad Asary, kenaikan harga terjadi hampir di seluruh komponen kemasan. Menurutnya, plastik menjadi penyumbang terbesar lonjakan biaya operasional.
“Plastik kemasan yang paling terasa. Harganya naik cukup tinggi, dari sekitar Rp10 ribu menjadi Rp14 ribu. Kemasan minuman juga ikut naik,” ujarnya.
Selain kemasan, sejumlah bahan baku lain seperti susu kental manis, susu UHT, dan telur juga mengalami kenaikan dalam waktu berdekatan. Kondisi ini membuat beban usaha semakin berat meski jumlah pelanggan relatif stabil.
“Pengunjung masih ada, tapi biaya operasional meningkat. Kalau tidak disesuaikan, keuntungan bisa terus tergerus,” katanya.
Menghadapi situasi tersebut, apabila mereka menurunkan kualitas justru berisiko mengurangi kepercayaan pelanggan. “Kami tetap jaga kualitas. Jadi pilihannya menaikkan harga, bukan menurunkan mutu,” tegas Asary.
Pantauan di lapangan, di salah satu kafe di kawasan Jalan MT Haryono juga telah lebih dulu menyesuaikan harga plastik. Kenaikan rata-rata sekitar Rp2.000 per gelas kopi dan mulai berlaku sejak awal April.
Baca Juga: Imbas Perang AS - Iran, Harga Plastik di Sampit Naik Signifikan, Pedagang Mulai Kurangi Stok
Di sisi konsumen, penyesuaian harga masih dianggap wajar. Salah seorang pelanggan, Silva, mengaku tetap membeli minuman favoritnya meski ada kenaikan harga.
“Masih bisa diterima, karena memang sudah biasa ngopi. Dalam seminggu bisa tiga sampai empat kali,” ujarnya. Ia berharap kondisi harga bahan baku segera stabil agar tidak terus membebani pelaku usaha maupun konsumen. (yn/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama