SAMPIT,radarsampitjawapos.com- Eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya di Iran lantaran sikap Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump makin terasa imbasnya ke sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di daerah.
Konflik itu nampaknya semakin memanas setelah Iran diberi batas waktu 48 jam untuk mencapai kesepakatan terkait program nuklirnya atau kembali membuka akses di Selat Hormuz. Selat tempat melintasnya sekitar 20 persen lebih pasokan minyak dunia.
Melalui platform media sosialnya, Truth Social, pada Sabtu (4/4), Trump menyinggung tenggat yang sebelumnya ia berikan kepada Iran. "Ingat ketika saya memberi Iran sepuluh hari untuk membuat kesepakatan atau membuka Selat Hormuz," tulisnya.
Ia juga memperingatkan bahwa waktu yang tersedia hampir habis. "Waktu hampir habis, 48 jam sebelum neraka menimpa mereka," ujarnya.
Di Kotawaringin Timur (Kotim), harga berbagai jenis plastik mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Beberapa jenis plastik dilaporkan mengalami kenaikan hingga 50 hingga 100 persen.
Salah seorang pedagang plastik di Pasar Keramat Sampit, Iyan, mengatakan kenaikan harga terjadi secara bertahap sejak pertengahan bulan Ramadan dan semakin terasa setelah Idulfitri.
“Setelah Lebaran, kenaikannya semakin terasa dan sampai sekarang sudah sekitar lima kali mengalami kenaikan,” ujarnya dibincangi Radar Sampit, baru-baru tadi.
Dicontohkannya, kenaikan terjadi pada plastik untuk kemasan es. Sebelumnya dijual sekitar Rp34 ribu per pak, kini harganya mencapai Rp55 ribu per pak atau naik sekitar Rp21 ribu. Kenaikan juga terjadi pada plastik cup untuk minuman. Harga yang sebelumnya sekitar Rp320 ribu per dus kini meningkat menjadi Rp465 ribu per dus.
Selain itu, plastik jenis kantong barang juga mengalami kenaikan cukup tajam. “Ada jenis plastik yang sebelumnya dijual sekitar Rp15 ribu kini naik menjadi Rp30 ribu atau meningkat hingga 100 persen. Ada juga plastik barang yang dulu Rp15 ribu sekarang sudah Rp30 ribu. Semakin bening kualitas plastiknya, biasanya kenaikannya juga semakin tinggi,” beber pedagang tersebut.
Bahkan lanjutnya, ada jenis plastik yang saat ini harga modalnya sudah mencapai Rp53 ribu, padahal sebelumnya dijual sekitar Rp35 ribu. “Kami jadi tidak berani mengambil banyak karena harga dari distributor sudah naik terlebih dahulu,” imbuh Iyan.
Dari naiknya harga plastik, berlanjut ke naiknya harga bahan pokok, terutama beras. Naiknya harga beras di sejumlah pasar di Sampit, elakangan ini tidak hanya dipicu faktor distribusi dan pasokan. Biaya kemasan turut menjadi salah satu penyebab utama, terutama di tingkat pengecer.
Baca Juga: Penerbangan Umrah Tetap Normal di Tengah Konflik Timur Tengah, Saudi Arabia Airlines Sesuaikan Rute
Sejumlah pedagang mengungkapkan, harga bahan kemasan seperti karung plastik dan pembungkus beras mengalami kenaikan cukup tajam. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap biaya operasional, sehingga pedagang terpaksa menyesuaikan harga jual beras.
Amir, salah satu pedagang beras di Sampit, mengngkapkan, kenaikan harga kemasan menjadi beban tambahan yang tidak bisa dihindari. “Harga kemasan naik drastis. Mau tidak mau kami harus menaikkan harga beras agar biaya tambahan bisa tertutup,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, harga kemasan beras kini mencapai sekitar Rp350 per kilogram, naik dari sebelumnya Rp150. Kenaikan tersebut berdampak signifikan pada harga jual beras dalam berbagai ukuran kemasan.
Untuk kemasan 5 kilogram, misalnya, terjadi kenaikan sekitar Rp1.750 hingga Rp2.000 per sak. Saat ini, beras lokal dijual di kisaran Rp74.900, dari sebelumnya Rp73.000. Sementara itu, kemasan 10 kilogram naik dari Rp145.000 menjadi sekitar Rp149.300.
Mengamati fenomena itu, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Sampit, Guruh Fajar Alamsyah mengatakan, meskipun konflik antara Amerika Serikat, Israel dan Iran lokasinya jauh dari Indonesia, dampak ekonominya tetap dapat dirasakan melalui kenaikan harga energi dan bahan baku industri.
“Konflik antara Amerika Serikat dan Iran memang tidak berdampak langsung secara fisik ke daerah seperti Kotim. Tapi efek ekonominya terasa, terutama melalui kenaikan harga energi dan bahan baku,” katanya, Sabtu (4/4).
Menurutnya, kenaikan biaya tersebut akan berdampak langsung pada pelaku usaha karena biaya produksi ikut meningkat. Kondisi ini paling dirasakan oleh pelaku UMKM yang umumnya memiliki keterbatasan modal dan daya tahan usaha.
“Bagi pelaku usaha ini cukup berat karena biaya produksi ikut naik. UMKM biasanya paling terasa dampaknya karena mereka memiliki keterbatasan modal dan daya tahan usaha yang tidak terlalu kuat menghadapi gejolak seperti ini,” tambahnya.
Guruh menjelaskan, Indonesia merupakan bagian dari sistem ekonomi global sehingga setiap gangguan yang terjadi di tingkat internasional dapat memengaruhi kondisi ekonomi di dalam negeri.“Ketika ada gangguan di tingkat global, efeknya bisa masuk melalui harga barang, distribusi, bahkan nilai tukar,” paparnya.
Ia menambahkan, dampak tersebut biasanya mulai terlihat dari kenaikan harga barang tertentu maupun meningkatnya biaya logistik di pasar lokal. “Ini yang sering tidak disadari, bahwa peristiwa global bisa sampai ke level pasar tradisional,” ujarnya.
Guruh pun menyinggung kenaikan harga plastik dalam beberapa waktu terakhir. Menurutnya, lonjakan harga bahan baku seperti plastik berpotensi memicu inflasi dari sisi biaya produksi. Selain itu, imbasnya bisa memicu kenaikan harga-harga bahan pokok dan kebutuhan lainnya, yang terkait dengan plastik.
“Kalau pelaku usaha sudah tidak mampu menahan kenaikan biaya, biasanya akan diteruskan ke harga jual. Jika terjadi secara luas, maka harga barang di pasar akan naik dan bisa menekan daya beli masyarakat,” tegasnya.
Menurut Guruh, mengantisipasi kondisi tersebut, ia menilai pemerintah daerah perlu bergerak cepat namun tetap terukur. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah memperkuat pengawasan distribusi barang serta mencegah praktik penimbunan.
Selain itu, pemerintah juga dinilai perlu memberikan dukungan kepada pelaku usaha agar tetap mampu bertahan di tengah kondisi ekonomi yang tidak stabil.
“UMKM ini sektor yang paling rentan, jadi memang perlu perhatian khusus. Bisa melalui relaksasi kredit, bantuan modal kerja, atau mempermudah akses bahan baku dengan harga yang lebih stabil,” terangnya.
Di sisi lain, pelaku UMKM juga didorong untuk lebih adaptif dalam menghadapi perubahan kondisi ekonomi, misalnya dengan mencari alternatif bahan baku atau meningkatkan efisiensi produksi.
Ke depan, tambah Guruh, daerah perlu memperkuat ekonomi lokal agar tidak terlalu bergantung pada faktor eksternal. Diversifikasi usaha juga dinilai penting agar perekonomian daerah lebih tahan terhadap guncangan global.
“Perlu ada penguatan ekonomi lokal, baik dari sisi produksi maupun sumber daya manusia. Diversifikasi usaha juga penting supaya ketika satu sektor terdampak, masih ada sektor lain yang bisa menopang,”pungkasnya. (ktr2/ang/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama